SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. MANG ILIKU
  2. untuk mamaku
  3. Juli
  4. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  5. Kangen III
  6. GURU
  7. Karena Ia adalah Guru
  8. SAJAK BAKTI: DOA-DOA MELIPUR
  9. Voila Pourquoi J'Aimais Maman
  10. TERIMAKASIH AYAH KU

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Mengarifi Sastra Islam
Penulis : Lukman Asya

--Kita tidak cuma menghindar dari suatu zaman yang kotor, tapi barangkali, membuka hati kepada kemungkinan baik di sekitar-Goenawan Mohammad.

Bagaimana apabila sastra (baca: seni) dicantelkan ke salah satu partai politik Islam? Jawabannya: sastra itu akan 'berpartai' (label) Islam atau lebih jauhnya, sastra itu pasti akan menjadi medium pengejawantahan dari visi dan misi partainya. Dengan kata lain sastra itu berada di bawah garis komando platform partai Islam tersebut. 

Pertanyaannya dalam konteks tulisan ini: bolehkah itu? Bagi saya jawabannya bukan pada persoalan boleh ataupun tidak, melainkan pada bagaimana kita arif secara objektif melakukan kritik dan kajian yang kompherensif terhadap sejauh mana tendensi-tendensi karya itu menginfiltrasi sosial dan kemanusiaan secara rahmatan lilalamin sehingga bermanfaat dan berdaya guna. Artinya bagi saya bahwa sastra yang 'berpartai' Islam itu boleh-boleh saja selama sastra dijadikan untuk tujuan mulia cita-cita kemanusiaan dengan basis argumentasi dan rasionalisasinya--tidak dijadikan sebagai alat intimidasi yang cuma memantik permusuhan dan mendulang kebencian. 

Bukankah dalam sejarah sastra kita pun pernah ada sastra yang dicantolkan ke salah satu partai yakni Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat-nya dimana sastra ditempatkan sebagai suprastruktur dengan platformnya: politik sebagai panglima. Tentu ada sebuah tendensi-tendensi atas kerja-kerja penganut paham Marx itu yang konon dalam rangka melawan hegemoni kapitalisme yang disinyalir menindas, menghisap dan mencelakakan kelas para pekerja. 

Pun, bagi para penganjur dakwah Islamiah yang juga berkehendak melawan dajjal kapitalisme, jelas akan menjadikan sastra sebagai kendaraan untuk tujuan dan tendensinya. Forum Lingkar Pena (FLP) misalnya yang 'berpartai' (label) Islam yang konon para anggotanya penyumbang suara untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tengah menempatkan sastra sebagai medium perjuangan dakwah keislamannya. Nampaknya, bagi FLP kebersastraan merupakan sebuah kehendak syariat, bentuk kerja amaliah seni dengan mendownload semangat Islam secara tekstual-formal. Islam yang diyakininya sebagai pembawa berkah dan keselamatan bagi umat manusia. 

Dalam konteks sastra yang diklaim FLP itu sebagai sastra Islami-lepas dari sepakat dan tidaknya dengan pelabelan Islam dalam sastra-rasa-rasanya fajar intelektualisme di dunia Islam secara umum masih belum akan meredup dimana para muslim dan muslimah seperti tak bosan-bosannya mengekspresikan keislaman. Soal keislaman menjadi soal spiritualitas-religiusitas yang kerap kali membukakan kesadaran akan kemahakayaan hakekat Islam itu an sich sebagai sistem religi dan sistem nilai yang dibawa nabi besar Muhammad Saw dengan Qur'an, hadits dan ahlul-baitnya. 

Kecenderungan Sastra Islam


Tapi hal yang patut kita cermati di tengah pusaran arus sekulerisme-kapitalisme budaya yang dapat membawa kita pada suasana disharmoni antar individu dan konflik-konflik kepentingan sebetulnya perlu bagi kita menyoroti dan menyoal kenapa sastra Islam seakan jalan di tempat, bahkan sepertinya kehilangan daya pencerahnya bagi kemanusiaan, artinya sampai hari ini kita belum sampai menemukan estetika karya sastra Islam yang benar-benar monumental dan benar-benar menawarkan 'angin segar' pembaharuan dan pendalaman--baru sebatas membincang isu lama dengan kemasan baru (meminjam terminologi Edi A Effendi), menjadi sekedar pengekor Sa'di ataupun pengekor Helvy. 

Titik lemahnya barangkali karena kita tidak benar-benar khusuk melakukan penghayatan akan keislaman kita, mungkin baru sebatas pada melaksanakan ajaran-ajaran yang bersifat formal. Maka Islam sebagai sumber yang maha kaya itu menjadi tak berarti apa-apa selain menawarkan sebuah 'keasyikan' pada tataran permukaan bahkan semacam pin belaka penghias yang ditempelkan di baju-kerudung-busana. 

Tentu saja merupakan 'perbuatan yang tak akan sia-sia apabila kita dapat terus melakukan penggalian dan pendalaman dalam konteks bersastra secara Islami (?) baik dalam pembacaan maupun dalam konteks penciptaan sebagai upaya pencerahan dan agar karya-karya kita lebih berkualitas yakni dengan menimba dan mau belajar sungguh-sungguh dari para sastrawan senior dan pemikir pelaku sastra pendahulu kita yang berbasis religiusitas keislaman. Misalnya saja kita dapat mentafakuri apa yang pernah dilontarkan Ahmadun Yosi Herfanda dalam konteks pembacaannya mengenai kecenderungan sastra religius kita (baca: Islam). Ahmadun Yosi Herfanda dalam esei Republika, 1 Agustus 2004 'membongkar ruang sempit sastra religius' mencoba memetakan ihwal religiusitas (baca: Islam) itu ke dalam empat kecenderungan. Pertama, religiusitas yang sufistik. kedua, religiusitas yang formalistik. Ketiga, religiusitas yang sosialistik dan keempat religiusitas yang substansialistik. Apa yang dipetakan Ahmadun Yosi Herfanda itu meskipun sekedar abstraksi umum sesungguhnya dapat memicu para muslim dan muslimah yang ingin tekun di jalur sastra Islami-nya untuk lebih melakukan pendalaman dan penghayatan terhadap empat kecenderungan itu baik pada tataran pembacaan maupun pada tingkatan penciptaan. 

Seorang Kuntowijoyo juga misalnya pernah menyoroti suatu kecenderungan adanya sastra transendental dimana Kuntowijoyo menekankan sastra pada pentingnya makna, bukan semata-mata bentuk, abstrak bukan konkret, spiritual bukan empiris, yang di dalam bukan yang dipermukaan. Soalnya lanjut Kuntowijoyo, jika kita mengutamakan bentuk, dan mengabaikan makna, kita akan terperangkap pada permainan dan rekaan yang kurang bermakna (Ulumul Quran vol III No. 3 th. 1992 via Abdul Hadi WM dalam Kembali ke akar Tradisi Sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia). 

Bahkan Goenawan Mohammad pun menyoroti ihwal religiusitas secara lebih umum dalam seni mengharuskan agar sastra religius itu tidak dilihat dari bentuk luar dengan simbol-simbol tertentu. Toh antara seni dan agama ada pertautan yang kuat dalam jiwa dan perasaan serba indah, suatu wilayah dibalik alam nyata ini (Ulumul Qur'an vol.IV th 1993 via Edi A Effendi dalam sebuah percakapannya dengan Goenawan Mohammad). 

Abdul Hadi WM menengarai sastra profetik-lebih jauhnya beliau membahas sastra yang bernafas sufistik--, bahwa karya sastra sungguh-sungguh menjadi profetik karena membawakan persoalan filosofis yang diajukan Qur'an: Persoalan hubungan dengan apakah realitas itu? Apakah yang nyata itu? Apa yang bisa dilihat mata dan dipahami akal yang bisa disebut sebagai yang nyata atau realitas? Dan kemudian problematik artinya menyoal bahwa sastra keagamaan dalam dunia Islam secara keseluruhan mencerminkan bahwa ia adalah gerak yang merdeka menuju tuhan, gerak menuju penemuan dan pengenalan kembali hakekat jati diri karena hanya dengan mengingat tuhan manusia ingat pada dirinya dan hanya dengan menyelami jati dirinya, manusia bisa mengenal tuhan-pembentukan dunia di dalam dunia kesadaran dan mental manusia.(Ulumul Qur'an No.1 April-Juni 1989 dalam Semangat Profetik Sastra Sufi dan Jejaknya dalam Sastra Modern). 

Dari situ kita dapat melihat bagaimana pemikiran yang mengkonsepsi (mengkonstruksi) sastra Islam ataupun sastra religius terpetakan sehingga secara historis kita dapat mendapatkan gambaran bagaimana teks-teks sastra itu di(re)produksi. Jamil Suherman dengan 'Perjalanan ke Akherat-nya misalnya, Hamka, Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, Kuntowijoyo, Mustafa W Hasyim, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Hamdi Salad, Ahmad Nurullah, Ahmadun Yosi Herfanda, Abidah El-Haliqy, Soni Farid Maulana, Helvy Tiana Rosa, Rukmi Wisnu Wardani, dll. 

Keislaman Sastra(wan) Religius


Keislaman dapatlah kita pahami sebagai 'akhlak kemanusiaan' ketika manusia itu bergaul sebagai makhluk sosial yang menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar baik secara jasmaniah maupun secara ruhaniah. Tetapi dari itu pula kita dapat memaklumi (mengarifi) bahwa keislaman seseorang itu mempunyai kadar dan takarannya masing-masing sebagai hasil dari suatu pengetahuan yang dihayati dan dijalankannya ataupun sebagai suatu hasil bentuk sportivitasnya berittiba mengikuti para ulama yang berpengetahuan luas, berakhlakul-karimah. Itulah yang kemudian melahirkan suatu pola perbuatan atau kerja estetik sesuai pemahaman dan penafsiran sebagai suatu keyakinan, basis pengembaraan keislamannya dalam laku-kehidupan. Maka wajar berbeda 'ruang' keislaman Hidayat Nur Wahid yang formalis dengan KH. Abdurrahman Wahid yang sufistis ketika memasuki wilayah politik dan kebudayaan sesuai dengan basis pemahaman dan pandangan mereka. Maka dalam konteks bersastra pun muncullah kecenderungan estetika Islam hasil tafkir dan tafsir sebagaimana Ahmadun Yosi Herfanda, Kuntowijoyo, Goenawan Mohammad, dan Abdul Hadi WM menyorotinya. Dan di situlah perlunya 'agama' kearifan. 

Agama kearifan memang dibutuhkan ketika kita hendak menelaah karya-karya yang dihasilkan sastrawan muslim kita yang tentunya dengan tanpa pretensi mengait-ngaitkan aspek bagaimana moralitas si sastrawannya itu sendiri, agar kita dapat mendedahkan karyanya secara objektif dan bersikap ilmiah. Dan, dari situ kita dapat menggali makna spirit religiusitas keislaman sedalam-dalamnya dari apa yang direpresentasikan karya sastra sastrawan muslim kita. 

Apabila kita secara arif dan objektif 'menghadapi' teks karya, kita Insya Allah terhindar dari perbuatan suuzonisme dan fitnah yang mencelakakan moral dan kemanusiaan. Artinya titik tolak pembacaan kita terhadap karya tidak didasarkan pada kecurigaan-kecurigaan melainkan pada basis filosofis dan kandungan makna keislaman yang ingin kita dapatkan dari dalam teks karya tersebut. Misalnya saja bukankah kita tidak pernah mempermasalahkan shalat dan tidaknya Ibnu Sina sang pemikir muslim itu), justru kita bangga 'menggubris' buah pemikirannya yang cemerlang di bidang kedokteran. 

Dengan mengarifi sastra yang bernuansa keislaman secara objektif baik pada tingkat pembacaan maupun pada tingkat penciptaan berarti kita menerima hal itu sebagai warisan Islam. Seterusnya, bagaimana kita kemudian melestarikannya; menggalinya, mengekspresikannya dan mengapresiasinya sebagai hasil kebudayaan umat manusia yang berguna dalam konteks dakwah moralitas maupun dalam konteks menghibur nalar. 

*) penyair, tinggal di Sukabumi Jawa Barat


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller