Artikel Umum
Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan
Penulis : Lukman Asya
Adalah Juniarso Ridwan pejabat yang sastrawan dan sastrawan yang pejabat itu, yang mempunyai kepedulian dan kasih sayang khusus terhadap dunia sastra. Dia membangun dua laboratorium dalam dirinya yang memiliki korelasi positif antara yang satu dengan satu yang lainnya. Pertama, laboratorium sastra di mana dia terus bergelut dan berkiprah, mengolah rasa dan pikirannya sebagai makhluk yang berbudaya. Kedua, laboratorium kepegawaian di mana dia
'mengolah' dan 'menunaikan' jabatan sebagai Kepala Dinas Tata Kota Bandung, bekerja dan berkarier sebagai mata pencaharian dan pengabdian.
Dua laboratorium itu saling transfer energi. Energi lahiriah maupun energi batiniah. Energi moril maupun energi materil. Di laboratorium sastralah saya bertemu dengan Juniarso Ridwan di mana dia sampai sekarang masih terus mengolah diksi, menulis karya, men-suport acara-acara sastra, memborong buku-buku sastra untuk dibacanya dan memotivasi saya agar tetap berkiprah di dunia sastra. Lewat laboratorium sastra itu saya bisa melihat sosok Juniarso Ridwan secara utuh sebagai sastrawan di mana dia mempunyai suatu kepribadian sastrawi yang terjaga terolah dan termanifestasikan dalam setiap aktivitas kerjanya.
Selain menulis puisi ternyata Juniarso Ridwan menulis cerpen juga. Antologi cerpennya, Bendera Merah (Pustaka Latifah, cet. 1,2004) memuat sepuluh cerpen. Cerpen-cerpennya itu sarat kritik sosial dan nuansa kebersahajaan di mana dia mengolahnya dari realitas sosial keseharian. Dalam cerpen Buku Harian Seorang Babu, misalnya, dia berhasil merekam suatu kondisi dan relasi antara babu dengan majikannya yang selalu semena-mena dan tidak menghargai kemanusiaan. Kepekaan Junirso Ridwan mengingatkan kita pada suatu problem stratifikasi sosial yang terus-menerus berlangsung di negeri ini, begitu memilukan.
Kritik-kritik sosial yang dihasilkan Juniarso Ridwan lewat cerpen terasa mengemukakan upaya pentingnya menstilasi problem sosial dalam konteks struktur sosial yang sangat kompleks. Kepekaan itu tetap terjaga sebagai sebentuk kesadaran dan keinsyafan untuk selalu mengamini nilai-nilai moralitas sebagai sesuatu yang diperlukan di jagat kerja dan karier dalam konteks kemanusiaan.
Kritik sosial Juniarso Ridwan itu terasa pula pada dua cerpen lainnya, Kantor yang Dihuni Genderuwo dan Bupati Valentino menggambarkan perilaku atasan yang semena-mena, korup, dan tak menghargai kerja bawahan, sehingga terjadilah suatu kondisi yang meruwetkan. Dua cerpen itu mengingatkan saya pada apa yang pernah terjadi di tampuk kekuasaan Kota Bandung ini. Kepekaan Juniarso Ridwan itu terasa meresonansikan kemanusiaan saya betapa seorang pejabat yang tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan hanyalah genderuwo yang layak disingkirkan.
Pada cerpen Kerinduan Suami Istri misalnya bagaimana Juniarso Ridwan mencoba menggambarkan kondisi batin seorang suami-istri yang tak punya anak yang hidupnya melulu dirisaukan oleh harta benda sehingga dalam setiap mimpinya selalu dicekam rasa ketakutan yang pada akhirnya mimpi-mimpinya itu menjadi kenyataan yang menyedihkan. Ketakutan yang biasa dialami oleh makhluk yang kehilangan sendi-sendi moralitas dan spiritualitas di alam modern ini.
Pada cerpen Kiran, Juniarso Ridwan juga mencoba mengungkap perilaku si idealis yang mencoba mempertahankan sikap agrarisnya toh pada akhirnya ketika dia diberi jabatan dia malah bertindak sebaliknya dari nilai-nilai yang diperjuangkannya. Sebuah kondisi kemanusiaan yang sering menimpa para aktivis di negeri ini. Pada cerpen Tentang Pohon itu Juniarso Ridwan mengingatkan betapa berharganya pohon-pohon dalam suatu lingkungan perkotaan. Pohon perlu dijaga dan dilestarikan untuk menjaga keseimbangan perkotaan.
Pada cerpen Bendera Merah, Juniarso Ridwan mencoba berefleksi tentang bagaimana kondisi sosial yang pernah terjadi di negeri ini yang begitu mencekam ketika nilai-nilai kemanusiaan tidak diindahkan dan hak-hak sesama diabaikan. Manusia menjadi makhluk yang terasing mengalami anxciety.
Kritik sosial dalam cerpen-cerpen Juniarso Ridwan yang secara realis membuka ruang-ruang kesadaran dan keinsyafan. Lebih jauhnya, membaca cerpen-cerpen Juniarso Ridwan terasa kepekaan sosialnya diarahkan untuk mengingatkan manusia. Bahwa penting pada setiap gerak dan laku, kerja dan usaha secara sadar lebih mengedepankan unsur-unsur nilai dan moralitas serta terus mencoba menginsyafkan diri seinsyaf-insyafnya untuk melakukan tindakan positif dalam konteks transinidual menjalin kohesi sosial.
KALAU kita melihat pada karya-karya puisi yang dihasilkannya juga bermuatan kritik sosial, meskipun ada yang menohok langsung ke akar persoalan, ada yang dia bungkus secara forik. Salah satu antologi puisinya yang monumental misalnya Robocop (diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung) terasa ada nuansa keterlibatan dirinya dengan hiruk-pikuk globalisasi teknologi dan pencanggihan ilmu pengetahuan yang dia cermati juga dengan nada penuh kekhawatiran.
Dalam antologi puisi Semua Telah Berubah, Tuan (Ultimus, 2005) pun terasa bagaimana jalinan-jalinan sistem sosial yang sangat kompleks itu secara semiotik lapis bentuk termanifestasikan di dalamnya, sehingga sajak-sajaknya itu adalah roh sosial dan cerminan dari lonjakan kekompleksan nalar kehidupan dalam realitas kekinian. Juniarso Ridwan dalam puisinya itu sanggup menyeimbangkan antara ekssi estetik dan ekssi kerja.
Memang, dia lebih banyak menulis puisi dan dibukukan dalam antologi bersama maupun antologi tunggal. Dia mengurus Forum Sastra Bandung, mengurus Sanggar Seni Tirtasari. Dia berkiprah di dunia sastra jauh sebelum dia menjadi pejabat seperti sekarang ini. Dia berkiprah sejak tahun
'70-an, sejak dia bergabung di GAS (Grup Asiasi Sastra) di kampus ITB di mana dia berproses. Karya-karya sastranya banyak juga bertebaran di media masa. Secara objektif, dia menjadi salah satu sastrawan yang diperhitungkan dalam tingkat nasional. Dia juga selalu mensuport aktivitas sastra dan kebudayaan di Bandung. Dia seorang pejabat yang tidak
'lupa diri' selalu menjaga ruang-ruang estetik. Saya kira karier dia menjadi pejabat pun tak lepas dari keikhlasannya membangun laboratorium estetik (sastra). Dia selalu mengusulkan hal-hal yang positif kepada atasannya demi sesuatu yang estetis. Dia bekerja secara fantastis dan fenomenal. Dia bekerja secara seimbang yakni untuk sastra dan untuk tata kota. Dia menata kota dari
'luar' dan 'dalam'.
Dia makhluk dalam kategori 'edisi terbatas'. Dia adalah sosok sastrawan yang juga pejabat kota. Dia yang tidak kehilangan sense of sastranya. Dia memperkaya kantor dengan sastra. Secara objektif, sebenarnya dia layak memimpin kota ini di masa yang akan datang karena dia bisa bekerja secara seimbang; menyelaraskan antara menata ruang-ruang perkotaan dan membangun gairah kerja berdasarkan ekssi-ekssi estetis di mana hiruk-pikuk kehidupan yang kompleks dan sistem sosial yang rumit ini perlu disikapi dengan hati yang sastrawi dan pikiran yang lapang berbudaya.
Ternyata, Juniarso Ridwan masih memiliki kepekaan sosial yang sarat kritik setidak-tidaknya dapat dilihat dalam cerpen-cerpennya yakni kepekaan terhadap realitas sosial sebagai kesanggupan dia berintrosfeksi, berkomitmen menyelaraskan intuisi dan pikirannya sebagai kesadaran estetis dalam rangka
'menstabilkan' dirinya di tengah keniscayaan industrialisasi dan globalisasi.***
*) Aktif di Sanggar Kerja Sastra Sukabumi dan pernah terlibat di Forum Sastra Bandung.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

