SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. MANG ILIKU
  2. untuk mamaku
  3. Juli
  4. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  5. Kangen III
  6. GURU
  7. Karena Ia adalah Guru
  8. SAJAK BAKTI: DOA-DOA MELIPUR
  9. Voila Pourquoi J'Aimais Maman
  10. TERIMAKASIH AYAH KU

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas
Penulis : Lukman Asya

Membaca buku yang berjudul Jus Tomat Rasa Pedas yang ditulis oleh Toto ST Radik, sastrawan dari negeri 'Belewuk' Banten-juga penulis antologi puisi Indonesia Setengah Tiang (1999) yang diganjar penghargaan sebagai kumpulan puisi terbaik versi Komunitas Sastra Indonesia (KSI)--mengesankan sebuah karya yang sarat kritik terhadap politik-kekuasaan, perilaku dan watak para pejabat dan penguasa di negeri ini. Buku Jus Tomat Rasa Pedas yang diterbitkan oleh Sanggar Sastra Serang bekerja sama dengan penerbit Suhud Sentrautama (2003) dalam konteks Banten yang kali ini tengah melangsungkan Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) secara langsung, mendapatkan ruangnya kembali dan hadir dengan semangat pentingnya menggemakan sebuah kritik atas segala tindak kekuasaan dalam konteks bernegara dan berbangsa. Kritik atas mereka yang akan maupun sedang menduduki tampuk kekuasaan itu. 

Kritik terhadap segala bentuk ketimpangan kekuasaan memang harus terus digemakan melalui karya sastra setidak-tidaknya dalam rangka menciptakan 'opini publik' pembaca 'melawan lupa' agar tetap waspada dan salawasna awas terhadap bentuk kesewenangan, penindasan dan penghisapan itu. Kita berharap dan terus berupaya melakukan kritik sebagai bentuk 'intifada' perlawanan dan kepedulian. 

Boleh jadi, di tengah para penguasa yang bebal dan haus harta-kekuasaan, kehadiran karya sastra semacam Jus Tomat Rasa Pedas yang sarat kritik pedas pun mungkin hanya akan dijadikan sekedar angin lalu saja. Sikap bebal dan 'cuek bebek' terhadap kritik seringkali dipertontonkan oleh para petinggi penguasa di negeri ini dimana seakan-akan mereka mendapatkan suatu cara baru dalam menghadapi kritikan-kritikan itu yakni mereka siapkan muka setebal-tebalnya, mereka membuka diri atas berbagai kritik tetapi diam-diam mereka pun berpegang teguh pada, gitu aja kok repot! 

Di zaman rezim Orde Baru cara memberangus segala kritik yakni dengan tindakan represif terhadap bentuk ekspresi kritik itu: tangkap dan penjarakan! Larang, cekal dan musnahkan! Misalnya saja kita masih ingat bagaimana sastrawan Wiji Thukul melakukan kritik terhadap rezim Soeharto harus menuai akibat, yakni dengan cara dihilangkan dan atau dibunuh. Dan tinggalah jejak-jejak perlawanan dan perjuangan Wiji Thukul itu yang dapat ditemukan lewat karya-karya puisinya: Aku Ingin Jadi Peluru. Rendra dan Ratna Sarumpaet di zaman Orde Baru pun berkali-kali harus berurusan dengan polisi gara-gara pementasan-pementasannya yang sarat kritik. Di negara-negara lain pun sastrawan yang melawan dan melancarkan kritik kekuasaan selalu mendapatkan perlakuan yang sama yakni terusir, dibunuh atau hidupnya berakhir di balik jeruji besi. 

Para sastrawan sebagai 'nabi sosial' kerap melakukan pengamatan secara jujur dan tulus terhadap realitas sosial yang dilandasi cita-cinta terhadap martabat kemanusiaan, mereka tidak pernah takut akan akibat-akibat dari ekspresi sastrawinya itu. 

Maka karya sastra yang seharkat Jus Tomat Rasa Pedas pun banyak lahir dari tangan para penyair yang mempunyai kepekaan sosial dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu. Sebut saja misalnya Wowok Hesti Prabowo sebagai sastrawan pejuang hak-hak buruh melahirkan antologi puisi Buruh Gugat. Dari Jawa Barat Antologi Puisi Tangan Besi pasca tumbangnya Soeharto yang secara tematik cukup reflektif menyoroti kondisi sosial dalam konteks Indonesia. Ahmadun Yosi Herfanda pun sejak zaman Orde Baru tak segan-segannya melahirkan puisi-puisi yang religiusitas sosialistik yang cukup menggigit seperti dalam antologi: Fragmen-Fragmen Kekalahan. Dan banyak lagi kasus-kasus ekspresi estetik lainnya yang berkecenderungan bermuatan kritik sosial itu. 

Zaman sudah berganti. Pemerintahan pun telah bergilir dan terus bergulir. Katanya sekarang zaman reformasi, meski sepertinya reformasi kita sudah mati suri. Sastrawan yang melakukan kritik tidak sebanyak dahulu dan puisi-puisi yang ditulis sastrawan generasi sekarang cenderung lebih membangun pada kesadaran suasana alam dan kemanusiaan sebagai sebuah impian kedamaian. Seakan-akan sastrawan sekarang menjauh dari kepekaan kritik sosialnya. 

Maka secara sosiologis, buku Jus Tomat Rasa Pedas menjadi menarik bagi saya, setidak-tidaknya bagaimana kecenderungan estetik yang bertemakan kritik sosial itu terus diproduksi sebagai keinsyafan sastrawan untuk turut serta memperbaiki nasib sosial bangsanya secara umum melalui karya. Toto ST Radik dalam konteks Indonesia memang tidak sendirian sebagaimana yang saya ungkapkan di atas. 

Dalam konteks Banten yang tengah melangsungkan PILKADA tema-tema yang diangkat Toto ST Radik dalam Jus Tomat Rasa Pedas sangat relevan sebagai sebuah upaya kritik demi kebaikan dan perbaikan serta perlu bagi masyarakat agar tidak salah pilih: akan dibawa ke mana Banten? Apakah akan dibawa ke dalam sebuah 'sistem premanisme' yang kasar ataukah akan dibawa ke dalam sistem 'kamuflase religius' yang sekedar mengedepankan simbol dan atribut saja ketimbang esensi? Apakah korupsi masih akan terus menggejala di Propinsi Banten? Dan, siapakah pemimpin dalam konteks Banten yang benar-benar seorang berjiwa luhur, bekerja keras membuka lahan-lahan kesejahteraan, mengikis habis pengangguran, menjadikan propinsi yang beradab, berbudaya dan bermoral pendidikan yang adiluhung?

Jus Tomat Rasa Pedas diniatkan oleh penulisnya sendiri dapat menjadi semacam minuman menyehatkan bagi mereka (para penguasa) yang mengidap banyak penyakit di negeri sakit ini seperti penyakit korupsi dan rakus kekuasaan. Buku tersebut sebagai suara penyair, penyambung lidah rakyat yang rindu pemimpin yang adil dan doyan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Jus Tomat Rasa Pedas sebagai tanda ketulusan dan cinta terhadap penguasa. 

Terdapat dua cerpen dalam Jus Tomat Rasa Pedas yakni cerpen 'Gigi dan Goyang Dombret' dan cerpen 'Negeri Belewuk'. Narasi kedua cerpen tersebut dihadirkan sarat simbol, parodi, plesetan, ironi yang penuh kritik terhadap perilaku politik dan kekuasaan serta mengandung motif doa. Cerpen 'Gigi dan Goyang Dombret' mengisahkan adanya semacam wabah gigi semacam flu burung yang epidemik yang menyerang para pejabat yang suka asal bicara, menebar janji tanpa bukti alias memproduksi kebohongan di depan publik sehingga gigi-gigi mereka bertanggalan alias ompong mendadak. Sebuah kejadian yang diandaikan sebagai bencana nasional yang tentu saja penguasa mesti sigap menanggulanginya. Persoalannya kemudian sebagaimana halnya para pemimpin mimpi di negeri ini yang mengalami banalitas ihwal menghadapi bencana, maka ketika wabah gigi itu pun menyerang, mereka cukup mengalihkan perhatian masyarakat dengan sekedar bernyanyi-nyanyi ria mendendangkan lagu 'Goyang Dombret', bukannya sesegera mungkin mencari akar permasalahan sebab sebabnya. 

Secara religius wabah itu bisa dimaknai sebagai kutukan disebabkan watak dan perilaku penguasa kita yang tidak mencerminkan pemimpin pengayom masyarakat. Sebagaimana dikisahkan dalam cerpen negeri Belewuk—yang tak lain adalah Banten-- yang setelah lepas dari cengkraman negeri Jabarut (Jawa Barat) ternyata malah ngetop sebagai negeri terkorup di seantero kerajaan Medekul. Korupsi menjadi sebuah prestasi luar biasa di negeri Belewuk itu sementara para petinggi negeri Belewuk sendiri beserta kroni-kroninya selalu menampik disebut korup alias selalu pandai bersilat lidah, pandai memutar balikkan fakta dan memainkan hukum. 

Tujuh belas puisi dalam Jus Tomat Rasa Pedas (Jika Maka, Anak Bertanya, Nasehat Orang Tua, Mimpi, Ayat kursi, Badut Badut Bandit Bandit, Patpat Gulipat, Doa Penguasa 1, Doa Penguasa 2, Partai Jujur, Pidato politik, Rakyat, Ucapan Terima Kasih, Kota yang Berpura-pura, SOTK, Puasa, Kau Hanya Ulat) memang benar-benar pedas, tidak tedeng aling-aling menohok tabiat penguasa. Dan keseluruhan puisi-puisi itu menjadi semacam olok-olok yang merefresentasikan unek-unek rakyat kecil yang selama ini tertindas kekuasaan. Misalnya pada puisi pertama yang berjudul 'Jika Maka' menyiratkan itu: 

jika tuan punya golok

maka hamba punya olokolok

jika tuan punya kuasa

maka hamba punya canda

jika tuan punya kursi

maka hamba punya puisi 

Atau pada puisi 'Mimpi': 

semalam aku bermimpi

di ciceri ramai sekali

orang-orang jual beli kursi

seraya menjilati pantat sendiri 

Begitu pula pada puisi Ayat Kursi: 

kursi kursi kursi

kutahu yang kucari

kursi kursi kursi

tiada tuhan selain kursi 

Dan pada puisi 'Puasa': 

apakah puasa

masih juga rakus kuasa

apakah puasa

masih juga gasak harta

apakah puasa

masih juga lepas celana

apakah puasa 

Atau pada puisi 'Ucapan Terima Kasih' berikut: 

terima kasih atas dukungan kalian

sekarang aku sudah kaya raya

selamat tinggal! sampai jumpa pemilu nanti! 

Ironi dan segala kenyinyiran yang dihadirkan menyiratkan bagaimana bebalnya perilaku elit politik di satu sisi dan bagaimana masyarakat kecil kita sebagai komunitas si aku lirik –si aku lirik yang baru dianggap perlu pada saat pemilu atau pilkada yakni: hak suaranya saja. 

Secara tersirat, puisi-puisi Toto ST Radik dalam Jus Tomat Rasa Pedas merupakan ekspresi kemuakkan dan ekspektasi keinginan khalayak masyarakat yang merindukan keadilan dan kesejahteraan, hidup bersama, rukun sauyunan di mana para pemimpinnya sungguh-sungguh melaksanakan amanah dan tanggung-jawab, Wallahu'alam! 

*) penyair dan guru sastra, tinggal di Sukabumi Jawa Barat


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller