Artikel Umum
Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan
Penulis : Edy Firmansyah
Manusia dan lingkungan
adalah serupa dua sisi mata uang. Ia bernilai jika keduanya saling menunjang.
Manusia tak akan berkembang jika tak ada lingkungan. Sedangkan lingkungan tak
akan bisa meretas zaman tanpa sentuhan manusia. Seperti kata Paul Sears, manusia
mampu mengekspresikan dirinya jika terjadi fungsi social dari sebuah ekologi (hubungan
timbal balik antara mahkluk dan lingkungannya) Namun, Manusia kadang lupa
tentang hubungan mutualisme tersebut. Alam seringkali dianggap
sebagai bagian yang bisa dieksploitasi demi kepentingan manusia untuk bertahan
hidup. Lihat saja, Jadilah kemudian, penjarahan hutan, pembakaran hutan,
pengerukan pasir, dan penimbunan sampah, sebagai fenomana biasa. Demi
kepentingan-kepentingan kapital tentunya. Di bawah payung tekhnologi kapitalisme
bergerak maju dan semakin merusak lingkungan. Gedung-gedung, pabrik-pabrik,
pembangkit listrik, villa, plasa dibangun dengan membakar hutan, menggerus lahan
dan memaksa masyarakat hanya menjadi mesin-mesin produksi. Akibatnya Unsure-unsur
biotic pedesaan menjadi semakin terkuras. Tanaman obat dari alam digantikan
dengan jamu buatan pabrik yang tak jelas manfaatnya. Sebab semakin sulit kita
menemukan hutan-hutan yang rimbun. Tanah lapang yang luas. Atau udara yang sejuk.
Padahal tanpa mereka sadari eksploitasi semacam itu seringkali menjadi bencana.
Lihat saja, bagaimana negeri ini selalu menjadi langganan bencana. Mulai dari
longsor, banjir bandang, hingga luapan lumpur. Dan berjuta-juta orang menjadi
korban. Terpuruk dalam luka yang tidak ada habisnya. Sebenarnya, sudah banyak
warning yang diserukan mengenai upaya-upaya melestarikan lingkungan. Namun
peringatan semacam masih dianggap sebagai sebuah tontonan. Bahkan dianggap
menyebalkan. Contoh sederhana saja. Misalnya larangan membuang sampah di
sembarang tempat. Meski larangan tersebut sudah dipasang dengan huruf besar, toh
masih banyak saja manusia yang tak mau tahu. Mereka baru saja sadar ketika
banjir melanda daerahnya. Kemudian berbondong-bondong mulai membersihkan
lingkungannya. Namun nasi telah jadi bubur. Sebab korban telah berjatuhan. Baik
secara psikologi maupun materiil. Ya. Begitulah Indonesia. Lebih baik terlambat
daripada tidak sama sekali. Memang ada benarnya sikap semacam itu. Tetapi lebih
banyak salahnya. Meski begitu, bukan tidak ada cara untuk mengembalikan
lingkungan kita menjadi asri kembali. Satu-satunya cara adalah gerakan
partisipatoris. Yang harus melibatkan seluruh masyarakat. Pembangunan kota boleh
jalan terus. Namun perlu diimbangi dengan regenerasi lingkungan. Untuk
memulaikan tentunya dengan tindakan yang sederhana. Misalnya, berupa kesediaan
warga masyarakat mungut sampah di sekitarnya. Serta menanam pohon atau yang
lebih dikenal dengan satu jiwa satu pohon. Ini untuk mengurangi udara kota yang
dipenuhi polusi. Serta mempertahankan ekosistem yang ada. Bukan untuk
siapa-siapa. Tapi untuk anak cucu-cucu kita di masa depan. Sudahkah anda
melakukannya? *** TENTANG PENULIS **Edy
Firmansyah adalah Alumnus Kesejahteraan Sosial Universitas Jember. Ketua FORDEM
(Forum Demokrasi). Pamekasan, Madura. Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK).
Artikelnya tersebar di banyak media lokal maupun Nasional. Diantaranya; ; JAWA
POS, MEDIA INDONESIA, SURYA, KOMPAS edisi Jatim, Banjarmasin Post, Batam Pos,
Kalteng Pos, RIAU POS, Radar Jember, Radar Madura, Jember News, dll. Alamat :
Perumnas Tlanakan Indah D-23 Pamekasan-Madura 69371 No telp : 08563032033 Email
: stapers2002@yahoo.com No rek BCA cabang Jember a.n Edy Firmansyah :
024-3719531 ,stapers2002@yahoo.com
www.sukainternet.com :)
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

