Artikel Umum
KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER
Penulis : JUNAIDI, SE,M.Si
Gender merupakan kajian tentang tingkah laku
perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan (Saptari, 1997).
Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang
bersifat biologis (Moore, 1988). Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam
satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata
lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya
bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Ketidakseimbangan berdasarkan
gender (gender inequality) mengacu pada ketidakseimbangan akses sumber-sumber
yang langka dalam masyarakat. Sumber-sumber yang penting itu meliputi
kekuasaan barang-barang material, jasa yang diberikan orang lain, prestise,
perawatan medis, otonomi pribadi, kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan
pelatihan, serta kebebasan dari paksaan atau siksaan fisik (Chafetz, 1991). Dalam menjelaskan timbulnya fenomena
ketimpangan gender pada dasarnya ada tiga teori dasar yang dapat digunakan
yaitu teori neo-klasik, teori segmentasi pasar tenaga kerja dan teori feminis.
Dua teori pertama lebih melihat ketimpangan gender dalam dunia kerja,
sedangkan teori yang terakhir melihat ketimpangan gender secara lebih umum
dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Teori neo-klasik menerangkan
pembagian kerja seksual dengan menekankan perbedaan seksual dalam berbagai
variabel yang mempengaruhi produktivitas pekerja. Perbedaan- perbedaan itu
meliputi pendidikan, keterampilan, lamanya jam kerja, tanggung jawab rumah
tangga, serta kekuatan fisik. Semua ini didasari asumsi bahwa di dalam
persaingan antar pekerja, pekerja memperoleh upah sebesar marginal product
yang dihasilkannya. Asumsi lain adalah bahwa keluarga mengalokasikan sumber
daya mereka secara rasional. Konsekuensi logis dari hal ini adalah anggota
rumah tangga laki-laki memperoleh investasi human capital yang lebih tinggi
daripada perempuan. Selanjutnya, perempuan memperoleh pendapatan dari
produktivitas yang lebih rendah dari laki-laki karena mereka memiliki human
capital yang lebih rendah. (Anker dan Hein, 1986 dalam Susilastuti dkk, 1994). Teori segmentasi pasar tenaga kerja
mengatakan bahwa laki-laki pada usia prima (prime-age) terkonsentrasi dalam
pekerjaan berupah tinggi, stabil dan dengan latihan, promosi dan prospek karir
lebih baik: dan disebut sebagai primary jobs. Sedangkan Secondary jobs, tidak
menjanjikan jaminan akan kestabilan bekerja, kompensasi rendah, tanpa prospek
untuk berkembang di masa depan; dan pada umumnya perempuan berada pada segmen
ini (Chiplin dan Sloane, 1982). Keterbatasan ruang lingkup kerja perempuan
diakibatkan oleh karena perempuan tidak mempunyai kapasitas untuk akses pada
male-dominated jobs, sehingga perempuan terkonsentrasi secara berlebih dalam
suatu range kesempatan kerja terbatas, yang menekan tingkat upah perempuan (Chiplin
dan Sloane, 1982). Terbatasnya pilihan pekerjaan perempuan ini menurut Peluso
(1984) karena perempuan dibatasi oleh siklus hidup yang dialami karena
kewajiban pada aktivitas rumah tangga dan mencari nafkah berbeda- beda pada
masing-masing tahap siklus tersebut. Dari hal tersebut terlihat bahwa teori
segmentasi pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa pekerja laki-laki dan
perempuan tidak bersaing dengan landasan yang sama, karenanya tidak mempunyai
akses yang sama ke lapangan kerja. Teori segmentasi pasar tenaga kerja ini
dianggap tidak mampu menjelaskan mengapa segmentasi pasar tenaga kerja
berdasarkan jenis kelamin terjadi. Selanjutnya, untuk teori feminis, terdapat
tiga pendekatan yaitu pendekatan feminis radikal, feminis marxis (sosialis)
dan feminis liberal (Saptari,1997). Pendekatan feminis radikal lebih
menekankan bahwa ketimpangan hubungan gender bersumber pada perbedaan biologis.
Perempuan memiliki kebebasan untuk memutuskan kapan ia harus menggunakan atau
tidak menggunakan teknologi pengendali reproduksi (kontrasepsi, sterilisasi,
aborsi) dan teknologi pembentuk reproduksi. Pandangan feminis radikal ini
terlalu menonjolkan determinisme biologis dan tidak mampu menjelaskan mengapa
fakta perbedaan seks bisa berkembang menjadi perbedaan gender. Adapun
pendekatan feminis marxis menjelaskan bahwa ketimpangan gender terjadi karena
kapitalisme. Kapitalisme adalah tatanan sosial dimana para pemilik modal
mengungguli kaum buruh dan laki-laki mengungguli perempuan. Pendekatan feminis
marxis ini terlalu memfokuskan pada hubungan perempuan dengan kapital dan
cara-cara berproduksi dan kurang menyoroti sebab-sebab ketimpangan gender dan
subordinasi perempuan. Sedangkan pendekatan feminis liberal
memandang bahwa subordinasi perempuan berakar pada seperangkat kendala dan
kebiasaan budaya yang menghambat akses perempuan terhadap kesempatan untuk
berkompetisi secara adil dengan laki-laki. Selanjutnya pendekatan feminis
liberal, kedudukan perempuan yang relatif rendah dalam pasar tenaga kerja ini
tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial yang menempatkan perempuan pada
kedudukan yang lebih rendah daripada laki-laki. Perempuan disosialisasikan
pada kegiatan-kegiatan domestik dan sifat-sifat kewanitaan seperti sekretaris,
resepsionis, waitres dan lainnya. Perbedaan perempuan dan laki-laki yang telah
disosialisasikan dalam keluarga kemudian terefleksi dalam kecenderungan
pekerjaan menerima perintah bagi perempuan dan memberi perintah bagi pekerjaan
laki-laki (Collins, 1991). Terbentuknya perbedaan peranan antara perempuan dan
laki-laki, dimana wilayah kekuasaan perempuan di dalam rumah dan laki-laki di
luar rumah. Hal ini dapat dilihat dari perspektif (Berger dan Luckmann,1976): Pertama, konstruksi Sosial, yang menerangkan
bagaimana proses awal bidang domestik dan bidang publik itu terbentuk. Menurut
Berger, karena a. Proses eksternalisasi, yaitu suatu nilai yang diproduksi
oleh individu dari yang tidak ada menjadi ada. b. Proses objektivikasi, yaitu
kesepakatan-kesepakatan tadi menjadi realitas sosial atau proses penolakan dan
proses penerimaan sehingga realitas terbentuk. c. Proses Internalisasi, yaitu
dari individu itu sendiri karena sebenarnya individu merupakan bagian dari
masyarakat sosial. Kedua, Reproduksi Sosial, yaitu bagaimana
sebenarnya perbedaan bidang domestik dan publik itu dikuatkan/diintensifkan.
Hal ini dilakukan a. dengan simbol-simbol, seperti dibentuknya \'Dharma Wanita\'
yang sebenarnya lebih menguatkan posisi perempuan di bidang domestik dan
laki-laki di bidang publik, b. reproduksi status biologis perempuan, misalnya
perempuan adalah mahluk yang lemah, perempuan berkaitan dengan kesehatan,
melahirkan, perempuan yang sedang menstruasi lebih emosional sehingga dapat
merugikan perempuan dalam dunia kerja. c. reproduksi status kultural perempuan,
misalnya perempuan lebih telaten, rapi,dll, sehingga perempuan diberikan
pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian yang tinggi (sebagai pekerja
marginal). Persepsi adalah suatu objek yang dipengaruhi oleh faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari
dalam diri individu yang mewujud dari nilai-nilai yang diproduksi individu
tersebut. Sebaliknya faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari
lingkungan luar individu. Menurut Mar\'at (1982) persepsi ini sangat
berhubungan dengan intuisi dan tercermin dalam bentuk perasaan senang/tidak
senang terhadap sesuatu. Dalam konteks persepsi perempuan terhadap
ketimpangan gender, sulit untuk memisahkan pengaruh faktor internal dan
eksternal. Hal ini berkaitan dengan konsep ketimpangan gender sebagai suatu
hasil konstruksi sosial. Menurut Abdullah (1996) manusia memberi arti dan
interpretasi terhadap perbedaan biologis laki-laki dan perempuan yang kemudian
melahirkan suatu struktur sosial dengan pembagian pembagian hak dan kewajiban
secara seksual. Hal ini kemudian menjadi realitas objektif yang memiliki daya
paksa terhadap manusia yang semula menciptakannya. Demikian pula kemudian,
kata Berger (1991) dalam Abdullah (1996), setiap orang diperkenalkan pada
makna-makna budaya, belajar ikut serta dalam tugas-tugas yang sudah ditetapkan
dan menerima peran-peran selain menerima identitas-identitas yang membentuk
struktur sosialnya. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa proses objekŽtivikasi
tersebut dapat menjadi suatu faktor internal yang mempengaruhi persepsi
individu. Dengan demikian menurut Astuti (1997) banyak kaum perempuan yang
menerima ketidakadilan jender tersebut dengan wajar karena merupakan suatu
takdir. Sebagai akibat dari sikap yang menerima keadaan ini, struktur sosial
yang timpang ini akhirnya tidak hanya terus menerus dimitoskan oleh laki-laki,
tetapi juga oleh perempuan. Hal tersebut juga berlaku pada kaum perempuan yang
memiliki akses kekuasaan yang lebih tinggi. Menurut Astuti (1997), kelompok
perempuan ini sering menempatkan perempuan sebagai subordinat. Dapat dilihat
dari pernyataan seorang pengusaha perempuan sebagaimana yang dikutip Hariadi
(1997) yang mengemukakan bahwa berdasarkan pengalamannya memiliki pekerja
perempuan itu lebih menguntungkan. Karena mereka rajin, telaten, tidak banyak
tuntutan dan mempunyai loyalitas tinggi. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa
secara psikologis sikap itu memang pembawaan dari sifat-sifat kaum perempuan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghapus ketimpangan gender tersebut. Di samping upaya-upaya pergerakan perempuan
yang menuntut persamaan hak, juga telah diatur dalam berbagai konvensi dan
perundang-undangan. Pada tahun 1976, PBB telah mengeluarkan Deklarasi mengenai
penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. Pada tanggal 18 Desember 1979
Majelis Umum PBB telah menyetujui konvensi tersebut. Selanjutnya karena
konvensi tersebut tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, maka sejak
tahun 1984 dengan UU RI No. 7 tahun 1984, Indonesia
telah meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi
terhadap perempuan. Namun demikian upaya tersebut tidak akan berhasil dengan
baik jika tidak diikuti oleh perubahan dalam konŽstruksi sosial. Raharjo
(1996) mengemukakan harus diadakan dekonstruksi hubungan gender dan
reorientasi pemahaman seksualitas. Dekonstruksi sosial pada tahap awal akan
berdampak pada perubahan persepsi masyarakat baik laki-laki maupun perempuan
terhadap hubungan gender tersebut. Pada tahap selanjutnya, hal tersebut
sekaligus juga akan dapat memperbaiki ketimpangan gender yang terjadi. DAFTAR PUSTAKA Abdullah,I,1996, \'Seks,Gender dan Reproduksi
Kekuasaan\', dalam Dwiyanto,A,dkk,(eds) Penduduk dan Pembangunan,
Yogyakarta,Aditya Media dan PPK-UGM Ancok, D, 1996, Kualitas Manusia dan
Produktivitas, (paper tidak diterbitkan) Astuti,M,1997,\'Jender dan
Pembangunan\', disampaikan pada Penataran Metodologi Penelitian Kajian Wanita
BerpŽerspektif Jender. Hotel Sri Wedari Yogyakarta, 7-13 September 1997
Berger,P. dan Luckmann,T,1976, The Social Construction of Reality, London:
Penguin Press BPS, 2001, Pengembangan Indeks Pembangunan Manusia, Jakarta,
BPS Chafetz,J.S, 1991, \'The Gender Division of Labor and The Reproduction of
Female Disadvantage: Toward an Integrated Theory\' dalam Blumberg, R.L, (ed),
GenŽder, Family and Economy, The Triple Overlap. Newbury Park: Sage
Publication. Chiplin,B. dan Sloane,PJ.,1982. Tackling Discrimination at the
Workplace: An Analysis of Sex Discrimination in Britian. London:
Cambridge
University Press. Collins,R. 1991. \'Women and Men in The Class
Structure\', dalam Blumberg,R.L (ed), dalam Gender, Family and Economy: The
Triple Overlap, London:
Sage PublicaŽtions. Hariadi,SS,1997,\'Aplikasi Jender dalam Pembangunan\',
disampaikan pada Penataran Metodologi Penelitian Kajian Wanita Berperspektif
Jender. Hotel Sri Wedari Yogyakarta, 7-13 September 1997 Moore,H.L. 1988.
Feminism and Anthropology. Cambridge: Polity Press. Peluso,N.L. 1984.
Occupational Mobility and The Economic Role of Rural Women. Yogyakarta.
Population Studies Center. Saptari,R, 1997. Studi Perempuan: Sebuah Pengantar
dalam Saptari,R. dan Holzner (eds), Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial:
Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Susilastuti DH, Hudayana,B., dan Hrdyastuti,
1994. FeŽminisasi Pasar Tenaga Kerja. Yogyakarta. PPK-UGM. UNDP, 2001,2004, Indonesia
Human Development Report 1992, Jakarta;
BPS-UNDP-BAPPENAS ,junaidi_chaniago@yahoo.com
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

