SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. MANG ILIKU
  2. untuk mamaku
  3. Juli
  4. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  5. Kangen III
  6. GURU
  7. Karena Ia adalah Guru
  8. SAJAK BAKTI: DOA-DOA MELIPUR
  9. Voila Pourquoi J'Aimais Maman
  10. TERIMAKASIH AYAH KU

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Sastrawan Tanggung
Penulis : funnydolphin@lycos.com

Sastrawan Tanggung Istilah satrawan tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Dulu di sekolah, kita sudah diajarkan tentang sastra. Tentu saja dalam pelajaran bahasa Indonesia. Tapi yang kita pelajari itu tentulah hanya sebagian kecilnya saja. Sampai saat ini kita belum bisa memastikan kriteria apa yang bisa menunjukkan seseorang dapat disebut sebagai seorang sastrawan. Semua orang bisa menulis atau sebutlah membuat sebuah karya yang layak dibaca. Tapi sekali lagi, karya yang layak dibaca oleh siapa? Oleh seorang guru atau sebutlah mereka yang mengerti teori, atau sekedar orang awam yang merasa terhibur membaca karya itu. Sebut sajalah sebuah tulisan yang tak terlalu bagus dalam ukuran teori namun dapat membuat pembacanya, yang dalam hal ini adalah orang yang tidak mengerti teori, namun dapat membuatnya terhibur dan senang akan tulisan yang dibacanya. Dibandingkan dengan tulisan seseorang yang mengerti teori meski belum sepenuhnya, dan berusaha menerapkannya, namun tulisan itu hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mengerti teori. Sedangkan orang awam yang katanya tidak mengerti teori hanya bisa mengerutkan kening, dan malah menimbulkan kesan enggan membaca karena kesulitan dalam memahami rangkaian kalimat yang terdapat dalam tulisan itu. Bukankah sebuah tulisan itu harus komunikatif, entah apapun jenis tulisan itu. Jika suatu karya tulis haruslah komunikatif, berarti tulisan itu harus mudah dimengerti dan dipahami.

Syukur-syukur tulisan itu dapat menghibur pembacanya. Pengertian sastra itu sendiri berdasarkan kamus lengkap bahasa Indonesia modern oleh Muhammad Ali adalah bahasa, kata-kata atau gaya bahasa yang bukan bahasa sehari-hari yang merupakan karya seni yang diwujudkan dengan bahasa seperti gubahan prosa maupun puisi yang indah. Selain itu sastra juga dapat berarti kitab ilmu pengetahuan. Sedangkan pengertian sastrawan itu sendiri diartkan sebagai ahli sastra, pujangga, penggarang prosa atau puisi. Namun bisa juga dikatakan sebagai orang pandai, cerdik atau biasa disebut sebagai cendekiawan. Berdasarkan pengertian tersebutlah, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang sastrawan haruslah pandai merangkai kata-kata menjadi indah dengan gaya bahasa mereka masing-masing. Pada kenyataannya saat ini, suatu tulisan baru bisa dikatakan sebagai karya sastra bila si penulis mempraktekkan teori kedalam tulisannya. Meskipun adakalanya tulisan itu cukup membuat kening berkerut. Tapi memang itulah yang dihargai, yang bisa membuat kening berkerut. Kini para penulis mulai melupakan tulisan yang simple dan komunikatif. Tapi lebih cenderung ke arah sebuah karya sastra yang merumitkan. Karena tanpa disadari, telah tertanam konsep pada mereka yang awam bahwa karya sastra adalah sebuah karya yang rumit, yang membutuhkan penganalisaan dalam menikmatinya.

Walaupun sesungguhnya kita sendiri belum mengetahui batasan suatu karya dapat dikatakan sebagai karya sastra dan penciptanya yang disebut sebagai seorang sastrawan. Bagaimanakah nasib para penulis yang tak bisa menulis mengikuti teori, tapi mengikuti kata hati? Apakah mereka hanya dianggap sebagai sekumpulan orang iseng yang akhirnya mendapat julukan sastrawan tanggung? Jika semua penulis mengejar title sastrawan, lalu bagaimana dengan pembacanya. Mungkin mereka yang awam tidak akan mengerti apa yang dimaksudkan, lalu karya-karya itu hanya dipakai sebagai perbandingan sastrawan satu dengan yang lainnya. Mereka saling membeli karya dan mulai tidak memperhatikan kepentingan orang awam yang membutuhkan hiburan. Dari dulu sampai sekarang kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Dari buku kita mendapatkan banyak pengetahuan. Tapi tak sedikit orang yang membaca untuk kesenangan. Jika karya-karyanya saja sudah sulit untuk dimengerti, bagaimana pembaca dapat terhibur. Para pemerhati karya sastra tentu sudah tahu bahwa karya-karya yang bermutu, dalam hal ini sebuah buku, adalah yang memiliki nilai jual. Meskipun belum tentu menghibur. Sedangkan karya yang menghibur digolongkan dalam komik atau cerpen biasa, yang tentu saja ditujukan bagi mereka yang mencari hiburan dalam membaca. Sedangkan karya sastra lebih banyak berisikan tentang sex, perang, etnis, dan hal-hal lain yang sejujurnya sangat merumitkan. Para penulis ini lebih cenderung menggunakan gaya bahasa Jargon yang mengandung pengertian sebagai bahasa, dialeg atau tutur kata yang kurang sopan atau aneh. Tidak bisa dipungkiri kadang kita sendiri yang membaca tidak mengerti apa yang dimaksudkan penulisnya atau sekedar pura-pura mengerti agar tak dibilang bodoh atau tak mau dikatakan pemikirannya belum sampai pada taraf si penulis. Kadang agar bisa dikatakan sebagai golongan sastrawan, tak jarang orang berpura-pura mengerti.

Meskipun karya itu memang tidak bisa dimengerti karena kata-katanya yang berbelit-belit atau tidak awam digunakan. Sastrawan tanggung, kedengarannya cukup lucu. Dikatakan seorang sastrawan, tapi belum bisa menghasilkan karya yang memukau meskipun telah membuat banyak orang terhibur dengan karya-karyanya yang simple, mudah dimengerti dan komunikatif. Tapi tak mendapat banyak pujian. Dibilang orang iseng, tapi telah membuat banyak orang terhibur. Cukup membingungkan memang. Tapi, bagi seorang sastrawan tanggung, sebutan itu tak menjadi masalah. Karena tujuannya hanyalah membuat orang wam terhibur dengan karya-karyanya bukan mencari identitas diri. Sastrawan tanggung yang tidak memenuhi kriteria, yang tidak satupun bukunya dipublikasikan, dan menulis hanya dengan kesenangan hati memasuki cerita yang mungkin pernah dialami semua orang, yang lalu meninggalkan kesan mendalam. Meski tak mendapat gelar sastrawan sepenuhnya, meski tak mengikuti teori, meski hanya mengikuti kata hati. Seorang sastrawan tanggung akan tetap hidup abadi dalam kenangan para pembacanya yang awam dan sama-sama merasakan hidup tanpa penghargaan. Jika mau ditelaah lebih lanjut, diantara keduanya, siapakah yang lebih sejati sebagai seorang sastrawan. Dari hati atau teori? Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa dijawab untuk perorangan, karena sesungguhnya yang bisa dikatakan sebagai seorang sastrawan itu adalah seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk menulis, dengan penuh tanggung jawab, keseriusan dan terlepas dari keinginan untuk melebihi orang lain. Karena seorang sastrawan adalah seseorang yang bebas mengutarakan pikirannya untuk dikembangkan dan menjadi lebih bermanfaat, dengan apa adanya. (VM/2004)

funnydolphin@lycos.com


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller