Artikel Umum
Sastrawan Tanggung
Penulis : funnydolphin@lycos.com
Syukur-syukur tulisan itu dapat menghibur
pembacanya. Pengertian sastra itu sendiri berdasarkan kamus lengkap bahasa
Indonesia modern oleh Muhammad Ali adalah bahasa, kata-kata atau gaya bahasa
yang bukan bahasa sehari-hari yang merupakan karya seni yang diwujudkan dengan
bahasa seperti gubahan prosa maupun puisi yang indah. Selain itu sastra juga
dapat berarti kitab ilmu pengetahuan. Sedangkan pengertian sastrawan itu
sendiri diartkan sebagai ahli sastra, pujangga, penggarang prosa atau puisi.
Namun bisa juga dikatakan sebagai orang pandai, cerdik atau biasa disebut
sebagai cendekiawan. Berdasarkan pengertian tersebutlah, dapat diambil
kesimpulan bahwa seorang sastrawan haruslah pandai merangkai kata-kata menjadi
indah dengan gaya bahasa mereka masing-masing. Pada kenyataannya saat ini,
suatu tulisan baru bisa dikatakan sebagai karya sastra bila si penulis
mempraktekkan teori kedalam tulisannya. Meskipun adakalanya tulisan itu cukup
membuat kening berkerut. Tapi memang itulah yang dihargai, yang bisa membuat
kening berkerut. Kini para penulis mulai melupakan tulisan yang simple dan
komunikatif. Tapi lebih cenderung ke arah sebuah karya sastra yang merumitkan.
Karena tanpa disadari, telah tertanam konsep pada mereka yang awam bahwa karya
sastra adalah sebuah karya yang rumit, yang membutuhkan penganalisaan dalam
menikmatinya. Walaupun sesungguhnya kita sendiri belum
mengetahui batasan suatu karya dapat dikatakan sebagai karya sastra dan
penciptanya yang disebut sebagai seorang sastrawan. Bagaimanakah nasib para
penulis yang tak bisa menulis mengikuti teori, tapi mengikuti kata hati?
Apakah mereka hanya dianggap sebagai sekumpulan orang iseng yang akhirnya
mendapat julukan sastrawan tanggung? Jika semua penulis mengejar title
sastrawan, lalu bagaimana dengan pembacanya. Mungkin mereka yang awam tidak
akan mengerti apa yang dimaksudkan, lalu karya-karya itu hanya dipakai sebagai
perbandingan sastrawan satu dengan yang lainnya. Mereka saling membeli karya
dan mulai tidak memperhatikan kepentingan orang awam yang membutuhkan hiburan.
Dari dulu sampai sekarang kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Dari buku
kita mendapatkan banyak pengetahuan. Tapi tak sedikit orang yang membaca untuk
kesenangan. Jika karya-karyanya saja sudah sulit untuk dimengerti, bagaimana
pembaca dapat terhibur. Para pemerhati karya sastra tentu sudah tahu bahwa
karya-karya yang bermutu, dalam hal ini sebuah buku, adalah yang memiliki
nilai jual. Meskipun belum tentu menghibur. Sedangkan karya yang menghibur
digolongkan dalam komik atau cerpen biasa, yang tentu saja ditujukan bagi
mereka yang mencari hiburan dalam membaca. Sedangkan karya sastra lebih banyak
berisikan tentang sex, perang, etnis, dan hal-hal lain yang sejujurnya sangat
merumitkan. Para penulis ini lebih cenderung menggunakan gaya bahasa Jargon
yang mengandung pengertian sebagai bahasa, dialeg atau tutur kata yang kurang
sopan atau aneh. Tidak bisa dipungkiri kadang kita sendiri yang membaca tidak
mengerti apa yang dimaksudkan penulisnya atau sekedar pura-pura mengerti agar
tak dibilang bodoh atau tak mau dikatakan pemikirannya belum sampai pada taraf
si penulis. Kadang agar bisa dikatakan sebagai golongan sastrawan, tak jarang
orang berpura-pura mengerti. Meskipun karya itu memang tidak bisa
dimengerti karena kata-katanya yang berbelit-belit atau tidak awam digunakan.
Sastrawan tanggung, kedengarannya cukup lucu. Dikatakan seorang sastrawan,
tapi belum bisa menghasilkan karya yang memukau meskipun telah membuat banyak
orang terhibur dengan karya-karyanya yang simple, mudah dimengerti dan
komunikatif. Tapi tak mendapat banyak pujian. Dibilang orang iseng, tapi telah
membuat banyak orang terhibur. Cukup membingungkan memang. Tapi, bagi seorang
sastrawan tanggung, sebutan itu tak menjadi masalah. Karena tujuannya hanyalah
membuat orang wam terhibur dengan karya-karyanya bukan mencari identitas diri.
Sastrawan tanggung yang tidak memenuhi kriteria, yang tidak satupun bukunya
dipublikasikan, dan menulis hanya dengan kesenangan hati memasuki cerita yang
mungkin pernah dialami semua orang, yang lalu meninggalkan kesan mendalam.
Meski tak mendapat gelar sastrawan sepenuhnya, meski tak mengikuti teori,
meski hanya mengikuti kata hati. Seorang sastrawan tanggung akan tetap hidup
abadi dalam kenangan para pembacanya yang awam dan sama-sama merasakan hidup
tanpa penghargaan. Jika mau ditelaah lebih lanjut, diantara keduanya, siapakah
yang lebih sejati sebagai seorang sastrawan. Dari hati atau teori? Tentu saja
pertanyaan ini tidak bisa dijawab untuk perorangan, karena sesungguhnya yang
bisa dikatakan sebagai seorang sastrawan itu adalah seseorang yang mengabdikan
hidupnya untuk menulis, dengan penuh tanggung jawab, keseriusan dan terlepas
dari keinginan untuk melebihi orang lain. Karena seorang sastrawan adalah
seseorang yang bebas mengutarakan pikirannya untuk dikembangkan dan menjadi
lebih bermanfaat, dengan apa adanya. (VM/2004) funnydolphin@lycos.com
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

