Artikel Umum
Model PWS Dalam Pemberantasan DBD
Penulis : Sulis Styawan
TAK
dipungkiri, bahwa virus Dengue -penyebab
penyakit DBD-telah mengancam manusia. Di berbagai
daerah di Indonesia, jumlah penderita yang terjangkit virus ini setiap tahun
terus saja bertambah. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini, dimana
beberapa daerah di negeri ini dilanda bencana banjir dan banyak wilayah yang
terendam air, maka kewaspadaan terkait ancaman DBD, mutlak harus ditingkatan.
Daerah-daerah yang saat ini
terendam air, jelas berada dalam status 'awas'
terhadap berbagai penyakit menular yang mungkin akan menjangkiti warga akibat
daerahnya terendam air. Pun, kondisi ini semakin berpeluang 'memperbesar'
tingkat kerawanan menjangkitnya wabah penyakit DBD di kalangan warga desa.
Kondisi alam di berbagai daerah di
Indonesia yang berpeluang memunculkan wabah DBD ini tentu harus diwaspadai oleh
segenap lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Dan kepada setiap kepala daerah
(Bupati maupun Walikota), yang tentu memiliki wewenang sebagai penentu kebijakan
(decision maker)-, tentunya kesigapan dalam
memberikan pelayanan publik terkait masalah kesehatan masyarakat, untuk saat
ini, harus lebih di prioritaskan.
Bupati dan jajaran terkait
permasalahan kesehatan rakyat-dalam hal ini Dinas
Kesehatan di setiap kabupaten-harus tanggap ing
sasmita (tahu diri, respek) dan segera cancut tali wandha (bergegas)
untuk menetapkan berbagai kebijakan yang dirasa perlu, berupa tindakan konkrit
untuk mencegah mewabahnya penyakit berbahaya ini di kalangan warga. Kita semua
tentu paham dan tahu betul dengan salah satu adagium dalam dunia kesehatan,
bahwa 'mencegah adalah lebih baik daripada mengobati'.
Tubuh yang merasakan demam yang
mendadak dengan suhu sangat tinggi atau tidak segera menurun demamnya selama 2
sampai 7 hari, tampak bintik-bintik merah pada di bawah kulit, disertai dengan
keluarnya darah dari hidung, mulut atau telinga, dapat menyertakan muntah dan
air besar bercampur dengan darah, nyeri di ulu hati karena hati mendapatkan
racun (virus) yang begitu besar sehingga kerjanya dalam menetralkan racun
tersebut menjadi berat, tangan dan kaki menjadi dingin, bahkan untuk sebagian
korban akhirnya meninggal, adalah bentuk 'ganasnya'
gejala penyakit yang diakibatkan oleh tusukan (baca; gigitan) nyamuk Aedes
aegypti ini-nyamuk yang berperan sebagai agen virus
Dengue, yang menusuk manusia, mentransfer virus Dengue, menghisap
darah manusia yang sebenarnya untuk mematangkan telurnya yang dibuahi oleh
sperma nyamuk Aedes Aegypti jantan.
Menyikapi mewabahnya DBD, perlu
kiranya langkah antisipatif dan kuratif yang dirancang untuk menimalisir jumlah
penderita. Yang perlu kita renungkan, kejadian ini rutin
setiap tahun, terutama pada musim hujan. Perlu dicermati, bahwa kejadian yang
terus berulang sebenarnya menggambarkan adanya ketidakefektifan strategi
pemberantasan yang diterapkan.
Selama ini, sepertinya belum ada
kebijakan taktis untuk memperbaiki strategi yang benar-benar efektif untuk
memberantas wabah DBD. Dalam kaitan ini, tampaknya kita perlu bersikap tegas
untuk mengevaluasi model solusi yang selama ini sudah diaplikasikan oleh pihak
Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia, seperti Gerakan 3M (menutup,
menguras, dan mengubur) di samping gerakan 'abateisasi'
(menabur serbuk abate) dan 'foggingisasi'
(penyemprotan),-bisa disebut Gerakan AF. Evaluasi ini
sangat urgen, sejalan dengan realitas di lapangan, bahwa wabah DBD telah
menasional dan menelan korban dalam jumlah besar, meski tidak secara
keseluruhan.
Sebenarnya, model solusi 3M dan
atau AF diharapkan dapat mencegah dan atau menghindari penyakit DBD. Langkah ini
merupakan tindakan untuk memutus rantai vector (perantara) penyebaran
virus DBD. Tapi, harus diingat bahwa model solusi ini sangat tergantung pada
kesadaran aplikatif semua komponen masyarakat terhadap model 3M ini. Hal ini
lebih karena model 3M dan AF lebih bersifat sebagai sebuah 'imbauan'
dan di sisi lain, terutama foggingisasi, sangat mengandalkan biaya besar.
Harus tersedia peralatan dan jenis obatnya, yang semua itu, akhirnya, harus
menunggu kucuran dana pemerintah.
Memang, cukup disesalkan juga
sikap masyarakat yang relatif tidak mengindahkan seruan 3M bahkan AF yang
sebenarnya solutif itu. Tapi tidak bijak pula jika Pemda menyalahkan warga
seutuhnya. Maka dari itu, kini, Pemda harus berjuang secara proaktif bagaimana
membangun kesadaran partisipatif seluruh komponen masyarakat, tanpa mengenal
strata sosial-ekonomi. Lalu apakah, model 3M atau AF mampu menciptakan kesadaran
partisipatif masyarakat? Sekali lagi, jika kata kuncinya mengandalkan cara
'imbauan', maka kerangka solusi
ini tetap sulit diharapkan secara maksimal. Berarti, wabah DB tetap berpotensi
terjadi.
Dalam kaitan ini-berdasarkan
tinjauan lapangan dan pengalaman di daerah lain di Indonesia-tidak
terlalu berlebihan jika kita menengok model pemberantasan DBD yang dikembangkan
Kota Parepare, Sulawesi Selatan, yaitu, model pemantauan wilayah setempat (PWS).
Dasarnya, pendekatan yang dikembangkan ini terbukti telah mampu menihilkan
korban DBD dari warganya yang berjumlah sekitar 115 ribuan jiwa.
Secara teoritik, PWS merupakan
model pencegahan anti DBD yang terencana atau terprogram, tidak hanya menghadapi
suasana saat ini, tapi jauh sebelumnya, bahkan untuk masa-masa mendatang. Dalam
kaitan pencegahan dan penanggulangan DBD ini (dimana wabah sedang mengancam),
Tim PWS melangkah dengan strategi;
Pertama,
memantau sarang-sarang nyamuk di manapun. Dalam perspektif 'militerisme',
pemantauan wilayah merupakan refleksi dari pendekatan teritorial yang dinilai
sebagai potensi atau sumber persoalan. Mendekati teritorial-dalam
hal ini sarang nyamuk-cukup efektif untuk melihat inti
persoalannya, bahkan dapat menghitung kekuatan objektifnya. Yang perlu kita
analisis lebih jauh, bahwa model PWS-secara dini-langsung
dapat membaca lokasi kekuatan 'lawan'
sehingga memudahkan dalam penyerangannya serta menentukan 'amunisi'
yang paling tepat yang harus digunakan, apakah abateisasi atau
foggingisasi.
Ketepatan analisis ini praktis
dapat memberikan konstribusi positif (efektivitas dan efisiensi), dalam kaitan
waktu ataupun biaya. Lebih dari itu, model PWS bukan hanya bersifat represif dan
preventif dalam dimensi waktu temporal, misalnya saat terjadi wabah, tapi justru
mencegah jauh sebelum terjadi. Artinya, pencegahannya terencana. Dengan
perencanaan seperti ini, maka diharapkan setiap kabupaten mampu menihilkan
korban DBD, meski ada suspect (yakni titipan dari daerah lain) yang
memang tidak bisa dihindari oleh daerah manapun.
Terhadap korban DBD yang kebetulan
terkategori suspect, Tim PWS tetap harus melacak historisnya mengapa
sampai terkena nyamuk itu. Dalam konteks ini, tim dari Pemkab dapat meminta
Pemprov untuk menerapkan aturan main dalam kerangka membangun kesehatan
masyarakat bersama antar Pemkab baik intern maupun intra provinsi. Di sinilah
peran penting pemkab untuk berkoordinasi dengan pemkab lain, secara langsung
atau melalui instansi yang lebih tinggi (provinsi). Sikap proakif tim medis
dalam menerapkan program PWS ini, diharapkan mampu membangunkan kesadaran
masyarakat untuk bersama-sama menerapkan program 3M.
Aksi bersama-sama itu, harus kita
catat sebagai wujud riil partisipasi masyarakat. Tak dapat disangkal, tidaklah
mudah menciptakan responsi partisipatif itu. Dan karenanya, kita perlu mencatat
pula bahwa hasil partisipasi yang ada bukanlah bersifat 'instan'
semata, yakni saat hanya mengindahkan anjuran Tim PWS.
Sebagai strategi Kedua,
dimana tim kesehatan melakukan penyuluhan dari waktu ke waktu, dari pintu ke
pintu, tanpa mempedulikan lokasi mudah ataupun sulit dijangkau oleh kendaraan
dan melibatkan banyak pihak, mulai walikota sampai jajaran terendah seperti
RT/RW, bahkan sejumlah tokoh masyarakat.
Tak dipungkiri, bahwa tingkat
partisipasi RT/RW-berikut sejumlah tokoh masyarakat-akan
sangat membantu dalam mempercepat daya tanggap tim medis untuk melakukan hal-hal
yang harus dilakukan, di samping mengantisipasinya. Tingkat partisipasi mereka
juga perlu kita catat sebagai penambah tim medis, meski mereka bukanlah orang
kesehatan. Langkah seperti Ini lebih merupakan upaya menjangkau publik yang jauh
lebih besar jumlahnya dibanding tim paramedisnya, bahkan kadang sangat terpencil
lokasinya.
Peran mereka dinilai sangat
strategis dalam program sosialisasi kesehatan dengan target utama: meningkatkan
kualitas kesehatannya, di samping tindakan-tindakan yang bersifat represif.
Dalam hal ini, masing-masing kepala daerah hrus bisa membangun sistem cita-rasa
komunikasi yang menyenangkan semua komponen yang terlibat, antara lain, melalui
program safari 'Tilik Desa'
(mengunjungi desa di wilayah kabupaten) sembari bincang-bincang untuk hal-hal
yang bersifat human interest.
Dalam perspektif kesehatan,
penyuluhan merupakan bagian penting. Karenanya, agar program itu efektif, maka
sebagai strategi Ketiga, Tim Kesehatan melangkah jelas dengan berangkat
dari data objektif yang dihimpun sebelumnya dari pusat-pusat layanan kesehatan
masyarakat (puskesmas). Dari himpunan data itu terlihat lokasi-lokasi mana yang
berpotensi kena penyakit DBD atau jenis penyakit lainnya, berapa tim medis yang
harus dikerahkan, sarana apa yang menunjang operasi penyehatannya, dan akhirnya
pemetaan lokasi (geomedic). Inilah sumber informasi yang-secara
dini-dapat dirancang untuk mencegah gejala wabah penyakit, di samping tetap
tidak mengabaikan tindakan represif yang harus dilakukan.
Harus dicatat pula, bahwa
merealisasikan program tersebut tidaklah sulit, tapi juga tidaklah mudah.
Semuanya berangkat dari komitmen kuat dari berbagai pihak. Akhir kata, penyakit
rutin seperti DBD idealnya dipangkas secara sistematis, terencana dengan baik.
Dan tidaklah berlebihan jika PWS-sebagai refleksi
pendekatan 'militerisme' dalam
pemberntasan DBD-patut diterapkan di berbagai kabupaten
di seluruh Indonesia. Semoga begitu.
*Sulis Styawan,
Mahasiswa/Pembelajar di Jurdik
Fisika,FMIPA
Universitas Negeri Yogyakarta
(UNY)
Warga Bayat, Klaten
No. HP.085868391622
e-mail:
sulisstyawanatalanta@yahoo.com,
sulisstyawan@plasa.com
Ketua Paguyuban Karang-Taruna
Kedungampel, Bayat, Klaten
Ketua Forum Kajian Pendidikan
dan Sosial-Budaya ZaaraHayat806, Jogjakarta
Peneliti
pada Center for Social-Culture and Education Development (CeSCED), Jogjakarta
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

