SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. Juni
  2. Tanah dan Catatan Sejarah
  3. Indahnya Malam
  4. Juli
  5. MANG ILIKU
  6. untuk mamaku
  7. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  8. Kangen III
  9. GURU
  10. Karena Ia adalah Guru

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Model PWS Dalam Pemberantasan DBD
Penulis : Sulis Styawan

TAK dipungkiri, bahwa virus Dengue -penyebab penyakit DBD-telah mengancam manusia. Di berbagai daerah di Indonesia, jumlah penderita yang terjangkit virus ini setiap tahun terus saja bertambah. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini, dimana beberapa daerah di negeri ini dilanda bencana banjir dan banyak wilayah yang terendam air, maka kewaspadaan terkait ancaman DBD, mutlak harus ditingkatan.

Daerah-daerah yang saat ini terendam air, jelas berada dalam status 'awas' terhadap berbagai penyakit menular yang mungkin akan menjangkiti warga akibat daerahnya terendam air. Pun, kondisi ini semakin berpeluang 'memperbesar' tingkat kerawanan menjangkitnya wabah penyakit DBD di kalangan warga desa.

Kondisi alam di berbagai daerah di Indonesia yang berpeluang memunculkan wabah DBD ini tentu harus diwaspadai oleh segenap lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Dan kepada setiap kepala daerah (Bupati maupun Walikota), yang tentu memiliki wewenang sebagai penentu kebijakan (decision maker)-, tentunya kesigapan dalam memberikan pelayanan publik terkait masalah kesehatan masyarakat, untuk saat ini, harus lebih di prioritaskan.

Bupati dan jajaran terkait permasalahan kesehatan rakyat-dalam hal ini Dinas Kesehatan di setiap kabupaten-harus tanggap ing sasmita (tahu diri, respek) dan segera cancut tali wandha (bergegas) untuk menetapkan berbagai kebijakan yang dirasa perlu, berupa tindakan konkrit untuk mencegah mewabahnya penyakit berbahaya ini di kalangan warga. Kita semua tentu paham dan tahu betul dengan salah satu adagium dalam dunia kesehatan, bahwa 'mencegah adalah lebih baik daripada mengobati'.

 

Tubuh yang merasakan demam yang mendadak dengan suhu sangat tinggi atau tidak segera menurun demamnya selama 2 sampai 7 hari, tampak bintik-bintik merah pada di bawah kulit, disertai dengan keluarnya darah dari hidung, mulut atau telinga, dapat menyertakan muntah dan air besar bercampur dengan darah, nyeri di ulu hati karena hati mendapatkan racun (virus) yang begitu besar sehingga kerjanya dalam menetralkan racun tersebut menjadi berat, tangan dan kaki menjadi dingin, bahkan untuk sebagian korban akhirnya meninggal, adalah bentuk 'ganasnya' gejala penyakit yang diakibatkan oleh tusukan (baca; gigitan) nyamuk Aedes aegypti ini-nyamuk yang berperan sebagai agen virus Dengue, yang menusuk manusia, mentransfer virus Dengue, menghisap darah manusia yang sebenarnya untuk mematangkan telurnya yang dibuahi oleh sperma nyamuk Aedes Aegypti jantan.

Menyikapi mewabahnya DBD, perlu kiranya langkah antisipatif dan kuratif yang dirancang untuk menimalisir jumlah penderita. Yang perlu kita renungkan, kejadian ini rutin setiap tahun, terutama pada musim hujan. Perlu dicermati, bahwa kejadian yang terus berulang sebenarnya menggambarkan adanya ketidakefektifan strategi pemberantasan yang diterapkan.

Selama ini, sepertinya belum ada kebijakan taktis untuk memperbaiki strategi yang benar-benar efektif untuk memberantas wabah DBD. Dalam kaitan ini, tampaknya kita perlu bersikap tegas untuk mengevaluasi model solusi yang selama ini sudah diaplikasikan oleh pihak Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia, seperti Gerakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur) di samping gerakan 'abateisasi' (menabur serbuk abate) dan 'foggingisasi' (penyemprotan),-bisa disebut Gerakan AF. Evaluasi ini sangat urgen, sejalan dengan realitas di lapangan, bahwa wabah DBD telah menasional dan menelan korban dalam jumlah besar, meski tidak secara keseluruhan.

 

Sebenarnya, model solusi 3M dan atau AF diharapkan dapat mencegah dan atau menghindari penyakit DBD. Langkah ini merupakan tindakan untuk memutus rantai vector (perantara) penyebaran virus DBD. Tapi, harus diingat bahwa model solusi ini sangat tergantung pada kesadaran aplikatif semua komponen masyarakat terhadap model 3M ini. Hal ini lebih karena model 3M dan AF lebih bersifat sebagai sebuah 'imbauan' dan di sisi lain, terutama foggingisasi, sangat mengandalkan biaya besar. Harus tersedia peralatan dan jenis obatnya, yang semua itu, akhirnya, harus menunggu kucuran dana pemerintah.

Memang, cukup disesalkan juga sikap masyarakat yang relatif tidak mengindahkan seruan 3M bahkan AF yang sebenarnya solutif itu. Tapi tidak bijak pula jika Pemda menyalahkan warga seutuhnya. Maka dari itu, kini, Pemda harus berjuang secara proaktif bagaimana membangun kesadaran partisipatif seluruh komponen masyarakat, tanpa mengenal strata sosial-ekonomi. Lalu apakah, model 3M atau AF mampu menciptakan kesadaran partisipatif masyarakat? Sekali lagi, jika kata kuncinya mengandalkan cara 'imbauan', maka kerangka solusi ini tetap sulit diharapkan secara maksimal. Berarti, wabah DB tetap berpotensi terjadi.

 

Dalam kaitan ini-berdasarkan tinjauan lapangan dan pengalaman di daerah lain di Indonesia-tidak terlalu berlebihan jika kita menengok model pemberantasan DBD yang dikembangkan Kota Parepare, Sulawesi Selatan, yaitu, model pemantauan wilayah setempat (PWS). Dasarnya, pendekatan yang dikembangkan ini terbukti telah mampu menihilkan korban DBD dari warganya yang berjumlah sekitar 115 ribuan jiwa.

Secara teoritik, PWS merupakan model pencegahan anti DBD yang terencana atau terprogram, tidak hanya menghadapi suasana saat ini, tapi jauh sebelumnya, bahkan untuk masa-masa mendatang. Dalam kaitan pencegahan dan penanggulangan DBD ini (dimana wabah sedang mengancam), Tim PWS melangkah dengan strategi;

Pertama, memantau sarang-sarang nyamuk di manapun. Dalam perspektif 'militerisme', pemantauan wilayah merupakan refleksi dari pendekatan teritorial yang dinilai sebagai potensi atau sumber persoalan. Mendekati teritorial-dalam hal ini sarang nyamuk-cukup efektif untuk melihat inti persoalannya, bahkan dapat menghitung kekuatan objektifnya. Yang perlu kita analisis lebih jauh, bahwa model PWS-secara dini-langsung dapat membaca lokasi kekuatan 'lawan' sehingga memudahkan dalam penyerangannya serta menentukan 'amunisi' yang paling tepat yang harus digunakan, apakah abateisasi atau foggingisasi.

 

Ketepatan analisis ini praktis dapat memberikan konstribusi positif (efektivitas dan efisiensi), dalam kaitan waktu ataupun biaya. Lebih dari itu, model PWS bukan hanya bersifat represif dan preventif dalam dimensi waktu temporal, misalnya saat terjadi wabah, tapi justru mencegah jauh sebelum terjadi. Artinya, pencegahannya terencana. Dengan perencanaan seperti ini, maka diharapkan setiap kabupaten mampu menihilkan korban DBD, meski ada suspect (yakni titipan dari daerah lain) yang memang tidak bisa dihindari oleh daerah manapun.

Terhadap korban DBD yang kebetulan terkategori suspect, Tim PWS tetap harus melacak historisnya mengapa sampai terkena nyamuk itu. Dalam konteks ini, tim dari Pemkab dapat meminta Pemprov untuk menerapkan aturan main dalam kerangka membangun kesehatan masyarakat bersama antar Pemkab baik intern maupun intra provinsi. Di sinilah peran penting pemkab untuk berkoordinasi dengan pemkab lain, secara langsung atau melalui instansi yang lebih tinggi (provinsi). Sikap proakif tim medis dalam menerapkan program PWS ini, diharapkan mampu membangunkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menerapkan program 3M.

Aksi bersama-sama itu, harus kita catat sebagai wujud riil partisipasi masyarakat. Tak dapat disangkal, tidaklah mudah menciptakan responsi partisipatif itu. Dan karenanya, kita perlu mencatat pula bahwa hasil partisipasi yang ada bukanlah bersifat 'instan' semata, yakni saat hanya mengindahkan anjuran Tim PWS.

Sebagai strategi Kedua, dimana tim kesehatan melakukan penyuluhan dari waktu ke waktu, dari pintu ke pintu, tanpa mempedulikan lokasi mudah ataupun sulit dijangkau oleh kendaraan dan melibatkan banyak pihak, mulai walikota sampai jajaran terendah seperti RT/RW, bahkan sejumlah tokoh masyarakat.

 

Tak dipungkiri, bahwa tingkat partisipasi RT/RW-berikut sejumlah tokoh masyarakat-akan sangat membantu dalam mempercepat daya tanggap tim medis untuk melakukan hal-hal yang harus dilakukan, di samping mengantisipasinya. Tingkat partisipasi mereka juga perlu kita catat sebagai penambah tim medis, meski mereka bukanlah orang kesehatan. Langkah seperti Ini lebih merupakan upaya menjangkau publik yang jauh lebih besar jumlahnya dibanding tim paramedisnya, bahkan kadang sangat terpencil lokasinya.

Peran mereka dinilai sangat strategis dalam program sosialisasi kesehatan dengan target utama: meningkatkan kualitas kesehatannya, di samping tindakan-tindakan yang bersifat represif. Dalam hal ini, masing-masing kepala daerah hrus bisa membangun sistem cita-rasa komunikasi yang menyenangkan semua komponen yang terlibat, antara lain, melalui program safari 'Tilik Desa' (mengunjungi desa di wilayah kabupaten) sembari bincang-bincang untuk hal-hal yang bersifat human interest.

Dalam perspektif kesehatan, penyuluhan merupakan bagian penting. Karenanya, agar program itu efektif, maka sebagai strategi Ketiga, Tim Kesehatan melangkah jelas dengan berangkat dari data objektif yang dihimpun sebelumnya dari pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat (puskesmas). Dari himpunan data itu terlihat lokasi-lokasi mana yang berpotensi kena penyakit DBD atau jenis penyakit lainnya, berapa tim medis yang harus dikerahkan, sarana apa yang menunjang operasi penyehatannya, dan akhirnya pemetaan lokasi (geomedic). Inilah sumber informasi yang-secara dini-dapat dirancang untuk mencegah gejala wabah penyakit, di samping tetap tidak mengabaikan tindakan represif yang harus dilakukan.

 

Harus dicatat pula, bahwa merealisasikan program tersebut tidaklah sulit, tapi juga tidaklah mudah. Semuanya berangkat dari komitmen kuat dari berbagai pihak. Akhir kata, penyakit rutin seperti DBD idealnya dipangkas secara sistematis, terencana dengan baik. Dan tidaklah berlebihan jika PWS-sebagai refleksi pendekatan 'militerisme' dalam pemberntasan DBD-patut diterapkan di berbagai kabupaten di seluruh Indonesia. Semoga begitu.

 

*Sulis Styawan,

Mahasiswa/Pembelajar di Jurdik Fisika,FMIPA

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Warga Bayat, Klaten

No. HP.085868391622

e-mail: sulisstyawanatalanta@yahoo.com, sulisstyawan@plasa.com

Ketua Paguyuban Karang-Taruna Kedungampel, Bayat, Klaten

Ketua Forum Kajian Pendidikan dan Sosial-Budaya ZaaraHayat806, Jogjakarta

Peneliti pada Center for Social-Culture and Education Development (CeSCED), Jogjakarta

 


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller