Artikel Umum
Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda
Penulis : Edy Firmansyah
Pada sebuah kelas
yang hiruk pikuk di sebuah sekolah entah dimana, Mat Kempul, penyair muda asal
Madura itu, tiba-tiba nyelonong masuk dan mengajukan pertanyaan; ' Siapa
diantara kalian yang akan menghabiskan liburan kali ini dengan membaca,
menganalisa dan mencoba-coba belajar membuat cerpen atau puisi? Ruang kelas yang
sebelumnya ramai, tiba-tiba jadi hening. Satu menit. Dua menit. Tak satupun ada
yang menjawab. Beberapa siswa hanya saling pandang satu sama lain. Mungkin aneh
dengan perawakan Mat kempul yang awut-awutan. Mungkin juga aneh dengan
pertanyaan Mat Kempul. Sementara siswa yang lain memilih menunduk. Takut-takut
kalau dirinya yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan itu. Lima menit sudah
berlalu. Tapi masih belum ada jawaban. Akhirnya Mat Kempul keluar dari ruang
kelas itu. Dan baru saja dirinya sampai di depan pintu kelas, tawa seluruh siswa
di ruang kelas itu pecah. Dan kelas pun kembali ramai. Lamat-lamat terdengar
pembicaraan sebagian siswa mengenai rencana liburan kali ini. Ada yang akan main
play station, ada yang hendak liburan ke Jakarta, berkencan dengan pacar, bahkan
ada pula yang berencana menghabiskan tabungan dengan mengoleksi pernak-pernik
piala dunia 2006 atau shopping baju model terbaru. Mendengar itu semua Mat
Kempul hanya tersenyum. Dia terus saja berlalu, meninggalkan sekolah itu, pulang
ke rumah, naik mikrolet . dalam perjalanan pulang mat kempul masih sempat
membuat catatan. Sastra sebagai salah satu jenis kesenian masih saja menjadi
bagian paling marjinal bagi kehidupan generasi muda Indonesia. Bagi generasi
muda kita, celana jeans, lipstik, kondom, T-Shirt dan Tank Top model terbaru,
obat jerawat, conditioner, jelas lebih penting dibadingkan dengan antologi puisi,
kumpulan cerpen pilihan KOMPAS, atau Novel tetralogi pulau buru karya (alm)
Pramoedya Ananta toer. Meskipun tidak dapat dipungkiri semua produk kecantikan
dan gaya hidup itu harganya jauh lebih mahal dari sebuah buku. Sementara itu,
pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang hanya diberikan sekitar empat jam
dalam seminggu kurang diamanfaatkan secara maksimal baik oleh guru maupun murid.
Cara mengajar guru bahasa dan sastra Indonesia di salah satu SMU terkemuka di
Pamekasan diamana Mat Kempul bersekolah bisa dijadikan salah satu contoh. Dia memberikan metode belajar-mengajarnya sama
tiap tahun. Mulai dari buku, LKS sampai dengan ulangan harian. Tak jarang
kemudian teman-teman Mat Kempul ' berburu ' buku 'peninggalan' kakak-kakak kelas
untuk mendapat nilai bagus. anehnya lagi, cara memaparkan tiap-tiap bab, mulai
dari isi, cerita sampai guyonan, sama tiap-tiap generasi. Di lain pihak,
beberapa guru yang sangat apresiatif terhadap Sastra baik dalam hal membimbing
dan memberikan metode pemahaman terhadap sastra ketika memberikan pelajaran
bahasa dan sastra Indonesia, misalnya dengan membacakan cerpen di depan kelas
dan mengulasnya, justru dianggap sebuah kesempatan untuk mengerjakan PR
matematika atau Fisika yang belum selesai karena ketiduran usai nonton bareng
Piala dunia 2006. Fenomena semacam jelas-jelas mengkhawatirkan. Bukan hanya bagi
para generasi muda tetapi juga bagi perkembangan sastra itu sendiri.
Disisihkannya sastra dari kehidupan berarti tak ada vitamin batin yang diserap
oleh kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup insani. Akibatnya semakin
terhempasnya hakekat dan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dibiarkan berlarut-larut,
jiwa kekerasan dalam diri manusia akan muncul dan bisa menjadi bom waktu yang
siap meledak kapan saja. Maraknya tawuran antar pelajar yang kerap terjadi
akhir-akhir ini, fenomena bunuh diri siswa karena himpitan ekonomi atau karena
tak tahan ejekan teman setidaknya bisa dijadikan gambaran bagaimana bom waktu
itu pelan-pelan mulai meledak Lebih dari pada itu, menurut Putu Wijaya Sastra
akan mengkerut menjadi budaya pop. Hiburan sesaat yang hanya sekedar
menyemarakkan pasar. Mirip kisah sinetron yang para tokohnya adalah pembuatnya
itu sendiri. Dan untuk bertahan hidup sastra sengaja diarahkan untuk menjadi
alat propaganda hidup pop. Maka bangkrutlah sastra Indonesia. Sebenarnya para
sastrawan tak kurang-kurangnya melakukan berbagai upaya agar sastra jadi bagian
dari kehidupan kaum muda. Taufik Ismail bersama sastrawan kelompok
majalah Horizon menyosialisasikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia lewat
acara bertajuk SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) yang dana bantuannya
justru bukan dari pemerintah, melainkan dari LSM Amerika, The Ford Foundation.
Hanya saja SBSB tidak bisa merambah seluruh sekolah di Indonesia. Sementara
generasi muda terus bertumbuh. Karena itu ada baiknya komunitas sastra di
daerah-daerah melakukan hal serupa seperti apa yang digagas Horizon tersebut.
Mengenai tata cara dan metodenya bisa mengundang sastrawan yang terlibat
langsung dalam SBSB. Hal tersebut penting dilakukan setidaknya agar ada
kedekatan antara sastrawan daerah dengan sastrawan pusat di bawah naungan
Horizon. Kedua, agar hubungan sastrawan dengan masyarakat (baca generasi muda)
tidak terputus. Sebab ada sinyalemen miring bahwa sastrawan termasuk golongan
priyayi berpena. Bagaimana dengan dananya? Bisa minta bantuan pemerintah (itupun
jika kebetulan pemerintah daerah peduli) tapi jika jalan melalui birokrat itu
buntu, bisa menggalang dana dengan ngamen sastra. Di samping berguna untuk,
meminjam istilahnya Darmanto Jatman, 'dimana saja kapan saja, sastra', juga
sepertinya masyarakat saat ini butuh ekspresi sastra sebagai siraman rohani.
Lagipula agar sastra tak hanya berdiri di menara gading. Artinya, puisi, cerpen,
hanya dibacakan di gedung kesenian dan yang menonton wajib bayar. *** Mat Kempul menutup buku catatannya. Dia
kemudian tertidur dalam mikrolet yang ditumpanginya menuju pulang dan mimpi
tentang sastra yang bisa dinikmati semua kalangan. Terutama kaum muda. Terlebih
lagi kaum miskin. *** Tentang PENULIS Edy Firmansyah Adalah
Penulis lepas di banyak media. Mantan Wartawan. Penikmat Sastra dan pengelola
Sanggar Bermain Kata (SBK) di Pamekasan. Puisi dan sajak. Puisi dan sajaknya
sering dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, SURYA, majalah PRIMA, cybersastra.net
dan juga dalam antology puisi bersama ON/OFF ' Dian Sastro for Presiden#3 '
(Insist, 2005) dengan nama Fesha AF.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

