Artikel Umum
Politik Sastra dan Akhlak Keislaman
Penulis : Lukman A Sya
Bagaimana apabila sastra bernaung di bawah partai politik tertentu? Sudah jelas sastra tidak bisa lepas dari agenda platform visi dan misi partai tersebut. Jadilah sastra bertendens, sastra
'berpolitik'. Pada suatu masa misalnya LEKRA (lembaga kebudayaan rakyat) di bawah payung Partai Komunis Indonesia menempatkan sastra sebagai alat perjuangan guna mencapai tujuannya kekuasaannya.
Goenawan Mohammad yang berfaham humanisme universal melihat fenomena itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Soalnya sebagaimana dilansir Goenawan Mohammad dalam Potret Penyair Muda Sebagai si Malin Kundang, bahwa salah satu kebebasan pertama seorang pencipta adalah kebebasannya dari sikap kolektif yang mengikat diri, dan bahaya orang yang terlalu memperhatikan rumus-rumus umum yang dikenakan di atas kesadaran keseorangannya ialah terbentuknya diri dalam lingkungan kolektivisme, sehingga hasilnya nanti tidak akan lebih dari hasil tukang proyeksi, suara umum dan penyodor kemutlakan ajaran.
Di tengah pusaran arus sekulerisme budaya yang dapat membawa manusia pada suasana disharmoni, distraksi antar individu dan konflik-konflik kepentingan sebetulnya penting bagi kita melakukan penelaahan dan penciptaan atas ekspresi-ekspresi estetik baik yang bertumpu pada semangat berpartai politik maupun yang bertumpu pada bagaimana individu kemanusiaan melakukan penghayatan dan penciptaan (berkarya) tanpa harus terikat oleh tendensi-tendensi politik-kekuasaan.
Memang, Goenawan Mohammad tidak sepakat apabila sastra bernaung di bawah partai politik soalnya sastra dikhawatirkan cuma sekedar dijadikan sebagai alat mengklaim kebenaran menurut partainya yang memungkinkan sastra jadi disempitkan bukannya membukakan kecemerlangan kemanusiaan itu sendiri. Tapi bagi para sastrawan penganjur bahwa sistem dajjal kapitalisme harus dilawan jelas sastra harus berpolitik sebagai alat untuk mencapai tujuannya itu. Pun bagi Forum Lingkar Pena misalnya kebersastraan sebagai kendaraan dakwah dalam rangka membawakan semangat keislaman menuju keberkahan, kemaslahatan dan keselamatan umat manusia.
Sastra Islam
Lepas dari sepakat dan tidaknya tendensi-tendensi atau politik dalam sastra-baik tendensi dakwah Islamiyah maupun tendensi partai
politik- naga-naganya fajar intelektualisme di dunia Islam secara umum belum akan meredup dimana para muslim dan muslimah seperti tak bosan-bosannya menggali keislaman baik secara formalistik maupun secara substansialistik. Soal keislaman menjadi soal spiritualitas-religiusitas yang kerap kali membukakan kesadaran akan kemahakayaan hakekat Islam sebagai nilai religi dan sumber ilmu kehidupan yang dibawakan nabi besar Muhammad Saw.
Maka Ahmadun Yosi Herfanda dalam esei ' membongkar ruang sempit sastra
religius' (Republika, 1 Agustus 2004) mencoba memetakan ihwal religiusitas (baca: Islam) itu ke dalam empat kecenderungan. Pertama, religiusitas yang sufistik. kedua, religiusitas yang formalistik. Ketiga, religiusitas yang sosialistik dan keempat religiusitas yang substansialistik. Apa yang dipetakan Ahmadun Yosi Herfanda itu sesungguhnya dapat memicu para muslim dan muslimah yang ingin tekun di jalur sastra Islami-nya untuk lebih melakukan pendalaman dan penghayatan terhadap empat kecenderungan itu baik pada tataran pembacaan maupun pada tingkatan penciptaan.
Tentu saja ada banyak cara bagaimana seorang muslim terus membaca dan menulis karya sastra secara Islami sebagai upaya pencerahan yakni dengan menimba dari intelektual, sastrawan, budayawan, ajengan yang muslim sebagai tafakur sejarah.
Seorang Kuntowijoyo misalnya pernah menyoroti suatu kecenderungan adanya sastra transendental yakni sastra menekankan pada pentingnya makna, bukan semata-mata bentuk, abstrak, bukan konkret, spiritual bukan empiris yang di dalam bukan yang dipermukaan. Soalnya lanjut kontowijoyo, jika kita mengutamakan bentuk, dan mengabaikan makna, kita akan terperangkap pada permainan dan rekaan yang kurang bermakna (Ulumul Quran vol III No. 3 th. 1992.
Abdul Hadi WM-- selain banyak menyoal sastra bernafas sufistik-menyoroti sastra profetik bahwa karya sastra sungguh-sungguh menjadi profetik karena membawakan persoalan filosofis yang diajukan Qur’an: Persoalan hubungan dengan apakah realitas itu? Apakah yang nyata itu? Apa yang bisa dilihat mata dan dipahami akal yang bisa disebut sebagai yang nyata atau realitas?dan kemudian problematik artinya menyoal bahwa sastra keagamaan dalam dunia Islam secara keseluruhan mencerminkan bahwa ia adalah gerak yang merdeka menuju tuhan, gerak menuju penemuan dan pengenalan kembali hakekat jati diri karena hanya dengan mengingat tuhan manusia ingat pada dirinya dan hanya dengan menyelami jati dirinya, manusia bisa mengenal tuhan-pembentukan dunia di dalam dunia kesadaran dan mental manusia (Ulumul
Qur'an No.1 April-Juni 1989).
Dari situ kita dapat melihat bagaimana pemikiran yang mengkonsepsi sastra Islam ataupun sastra religius dipetakan sehingga secara historis kita dapat mendapatkan gambaran bagaimana teks-teks sastra itu terus diproduksi dan direproduksi.
Akhlak Keislaman
Keislaman dapatlah kita pahami sebagai akhlak kemanusiaan ketika manusia itu bergaul sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar baik secara jasmaniah maupun secara ruhaniah. Keislaman membentuk suatu tata nilai dalam konteks sosial budaya sebagai basis moralitasnya.
Tetapi kita mestilah memahami bahwa keislaman seseorang itu mempunyai kadar dan tingkatnya masing-masing sebagai hasil dari suatu pengetahuan yang dihayati dan dijalankannya ataupun sebagai suatu hasil bentuk sportivitasnya berittiba mengikuti para ulama yang berpengetahuan luas dan berakhlakul-karimah. Itulah yang kemudian menciptakan suatu perbuatan sesuai pemahaman dan penafsiran terhadap yang diyakininya sebagai proses dialektika antara individu dengan ide-ide dan kenyataan sosial sebagai basis pengembaraan keislamannya.
Maka dalam konteks bersastra muncullah klasifikasi, kecenderungan dan pemahaman estetika Islam sebagai hasil berfikir suatu penafsiran dan atau pembacaan sebagaimana yang disoroti secara umum oleh Ahmadun Yosi Herfanda, Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Maka berbeda pula keislaman Hidayat Nur Wahid yang formalis dengan KH. Mustafa Bisri yang sufistis ketika memasuki ranah politik dan kebudayaan sesuai dengan basis pemahaman dan pandangan mereka meskipun gerak dan laku keduanya Insya Allah bermuara pada keluhuran keislaman yang sama yang dibawakan sang nabi. Maka di situlah perlunya
'agama' kearifan.
Sebagai penutup tulisan ini kiranya kita perlu membaca dan menelaah karya-karya yang dihasilkan kaum muslim dengan penuh kearifan dengan tanpa perlu mengait-ngaitkan aspek partai politik dan moralitas si sastrawannya karena hal itu dapat mengurangi kadar keobjektivitasan kita dalam menilai dan membaca sebagai makhluk yang semestinya mengedepankan sikap-sikap nalar ilmiah bukan kekerasan.
Kita dapat memaknai teks tanpa terjebak suuzonisme dan fitnah yang mencelakakan kemanusiaan. Artinya titik tolak pandangan kita bukan pada kecurigaan-kecurigaan yang tak perlu karena kita bukan hakim-hanya Allah yang layak menilai segala laku dan kerja kita-- melainkan titik tolaknya pada basis filosofis dan kandungan makna yang terdapat di dalam teks tersebut. Dengan begitu bukan berarti hidup kita harus lepas kontrol menjadi kafir sekafir-kafirnya. Tetapi marilah secara objektif menilai sebuah karya secara penuh kearifan. Bukankah kita tidak mempermasalahkan apakah Ibnu Sina itu menjalankan shalat lima waktu atau tidak, yang jelas kita menikmati hasil dari buah pemikirannya yang cemerlang itu di bidang kedokteran. Dari situlah kita bagaimana bijaksana menilai karya sastra (tulisan) di ranah keislaman dengan menghayati kandungannya tanpa perlu mengait-ngaitkannya dengan moralitas sastrawannya sendiri. Sebab hanya Allah yang maha tahu akhlak keislamannya dan dengan begitu kita dapat meluaskan pemahaman dan kekayaan khazanah Islam dalam teks-teks sastra baik yang diproduksi oleh mereka yang mengklaim diri paling muslim maupun teks-teks yang ditulis oleh mereka yang tak mengklaim diri muslim bahkan mengaku sangat non-muslim. Annaasu fittaffkiir wallaahu fiittaddbiir.
*) penyair, tinggal di Sukabumi Jawa Barat
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

