Artikel Umum
Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ?
Penulis : Edy Firmansyah
Sri Ningsih, kawan saya di Jember berteriak histris. Kemudian pingsan tepat di ruang tamu
rumahnya. 'Sri kumat lagi,' celetuk salah satu tetangga yang membantu membopong tubuh wanita paro baya itu ke kamar tidur. Ya. Sri mengalami trauma sejak tahun 2005. Penyebabnya, uangnya sebesar 7.499.490 hasil meminjam dari sebuah bank lenyap akibat dia mempercayai sebuah SMS dari pelaku yang mengatakan bahwa dia mendapat Grand Prize sebesar Rp.12,5 juta rupiah dari sebuah perusahaan seluler.
Contoh kasus diatas mungkin hanya salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang terjadi terkait dengan penipuan melalui SMS. Seakan-akan Peringatan-peringatan dari berbagai pihak agar berhati-hati terhadap segala hal yang janggal dan mengarah pada penipuan ternyata tidak membuahkan hasil yang signifikan. Korban-korban tetap saja berjatuhan.
Pertanyaannya, mengapa kejadian itu kerap terjadi? Bahkan di tengah banyaknya contoh kasus korban penipuan yang berhasil diliput media massa, atau sekedar memberi seruan melalui surat pembaca?
Budaya Konsumerisme Yang Menyesatkan
Banyak orang yang menyangka bahwa penipuan melalui SMS dengan modus korban diiming-imingi mendapat hadiah jutaan rupiah, namun sebelumnya korban dibimbing ke ATM untuk mengirimkan sejumlah uang administrasi, dianggap oleh banyak orang karena pelaku menggunakan hipnotis. Padahal kalau kita mau mengkaji lebih jauh ternyata karena dampak dari pencitraan budaya konsumerisme yang ditampilkan oleh tehknologi yang berkembang kian pesat akhir-akhir ini.
Salah satu contoh, misalnya citra-citra yang ditampilkan oleh media informasi dan tehnologi telah menyeret dan memaksa (impossed) pemirsa atau penggunanya untuk menerima realitas yang kadang kala artifisial. Makna artifisial yang ditampilkan oleh sebagian besar masyarakat ditelan mentah-mentah. Parahnya lagi, ada juga masyarakat yang kemudian menirunya tanpa mengukur kemampuan dan nilai gunanya (utility Value) seperti; pegang ponsel hanya untuk gaya-gayaan atau agar dibilang modern. Itulah kemudian yang digunakan oleh para penipu untuk menjerat korbannya.
Akibatnya kebudayaan kemudian bergandengan erat dengan ekonomi. Dalam perkembangannya kemudian budaya menjadi sebuah komoditi. Kalau budaya telah menjadi komoditi dengan sendirinya dia harus tunduk pada kaidah-kaidah pasar dan akan dievaluasi oleh pasar dan diperjual belikan dalam proses pertukaran. Dari teori ini dapat diasumsikan bahwa banyaknya korban penipuan dikarenakan mereka terlalu ingin cepat hidup mewah dengan citra glamour seperti yang ditunjukkan orang-orang berkelas di banyak media informasi.
Tak ayal, hancurlah etika kesabaran dan berpikir panjang. Pendek kata, sistem undian dengan hadiah besar dan angsuran seperti kredit mobil misalnya menawari kita untuk meraih mimpi tanpa harus membanting tulang memeras keringat terlebih dahulu. Sistem undian, jakpot dan angsuran tidak mengenal kearifan lama bersakit dahulu bersenang-senang kemudian, melainkan secapat mungkin pergi ketepian meraih kesenangan dengan kemewahan.
Siapa sih yang tak meneteskan air liur ketika mendengar dirinya mendapat mobil mewah dengan uang muka murah dan pajak undian bisa dicicil?atau siapa sih yang tidak berteriak kegirangan ketika ada SMS bahwa dia mendapat Grandprise sebesar 12,5 juta Rupiah? Hal inilah yang dimanfaatkan oleh si penipu untuk mencari mangsa, yang hasilnya kemudian digunakan hal yang serupa: citra glamour, kepuasan serentak dan sesaat.
Sebuah Peringatan Kecil
Dalam kungkungan kapitalistik yamg kian erat saat ini penulis ingin mengatakan bahwa saat ini orang tidak lagi dilatih untuk menunda hasrat dan mengelolanya menjadi ketabahan menghadapi problema sistematik yang dihadapi. Sebab nurani telah dilumpuhkan dan hidup diarahkan hanya mengejar mimpi tanpa akhir.
Perlu kiranya kita kembali pada budaya lama nenek moyang kita alon-alaon asal klakon. artinya pelan-pelan asal selesai. Pepatah ini menegaskan pada kita perlunya bersikap sabar, apalagi dalam era yang penuh kegamangan ini. Tak perlulah kita ikut-ikutan tetangga kita yang kaya dalam hal pemilikan materi kalau kita memang tak mampu memenuhinya. Tindakan tersebut memiliki dua keuntungan; pertama, kita tak akan mudah terpengaruh oleh isu apapun yang kadang memikat, seperti penipuan dengan hadiah besar. kedua, kita menikmati jerih payah kita sendiri dan ini akan semakin membuat kita hati-hati dalam bertindak dan akan memupuk rasa kedermawanan kita bahwa ternyata mencari uang memang sangat melelahkan.
Yang terakhir, mungkin juga menjadi salah satu peringatan pada kita semua: Berhati-hatilah terhadap berbagai telepon, SMS yang menjanjikan hadiah besar pendek kata:
hati-hatilah terhadap segala rayuan gombal.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

