Artikel Umum
' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda'
Penulis : Edy Firmansyah
'Jika Albert Einstein bisa, saya pun harus bisa. Dan jika saya bisa maka teman-teman yang lain pasti juga
bisa' kalimat yang dilontarkan Andy Oktavian Latief di pendopo Ronggosokowati Pamekasan tentu saja menggetarkan semua yang mendengarnya.
Bagaimana tidak, kalimat yang mirip petuah bijak Tzun Su, seorang ahli strategi perang Cina itu, dilontarkan seorang remaja Madura berusia 18 tahun. Dan dia baru saja mewujudkan kata-katanya itu. Medali emas yang diraihnya dalam olimpiade Fisika Internasional di Singapura merupakan bukti bahwa seorang Einstein muda telah lahir. Tidak dari eropa, tidak dari daratan Cina. Tapi dari Madura. Sebuah pulau kecil dalam Peta Indonesia. Bahkan
Palenga'an, dimana Andy dibesarkan tak terlihat titiknya.
'Kita punya peluang yang sama untuk berhasil. Tinggal bagaimana kita memulainya' begitulah Tsun Zu berkata. Dan memulai sebuah langkah memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Andy jelas telah merasakannya. Jalan penuh api, onak dan duri demi menembus misteri tak kan pernah bisa dilalui orang-orang yang tak punya keteguhan hati. Apalagi mereka yang biasa hidup berkelimpahan dan serba instant.
Lihat saja Einstein dalam otobiografinya. Dikeluarkan dari sekolah dasar karena dianggap paling bodoh. Namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk belajar. Rasa curiocitynya yang menggelora terus diasahnya dalam sebuah laboratorium kecil yang dia buat dengan hasil kerjanya di percetakan. Dan disanalah teori revitalisasinya
lahir.
Hanya saja negeri ini terbiasa bangga dengan satu ikon besar yang selalu jadi sentral. Di negeri ini hanya ada satu Soekarno, satu Hatta, satu Syahrir, satu Diponegoro dan satu Chairil. Dan itu dilanggengkan dalam dunia pendidikan. Kita kenal sekolah favorit dan non favorit. Sekolah kota dan sekolah desa. Kelas unggulan dan kelas buangan. Tentu saja fasilitasnya tidak sama. Termasuk juga biayanya. Seakan-akan kita tidak mau mencetak seribu andy, seribu Soekarno, seribu Hatta dan seribu
Chairil.
Padahal yang kita butuhkan sekarang adalah seribu anak muda berpikiran Soekarno, Hatta, Enstein, Gajahmada. Bahkan seribu anak muda seperti Einstein. Seperti juga Andy. Untuk mengembalikan Indonesia dalam wujud
sejatinya.
Sebenarnya pendidikan telah berupaya menciptakan kompetisi untuk mencetak manusia unggul. Hanya saja seringkali kebablasan. Dimana kita dituntut menjadi Andy-andy karbitan. Liahat saja, tiap kali Unas, siswa selalu disuntik jawaban agar semua siswa lulus. Agar citra sekolah tidak pupus. Padahal tanpa sadar sekolah telah menciptakan paradoks. Di satu sisi, sekolah diamini sebagai tempat belajar pengetahuan dan moral. Namun di sisi lain, sekolah juga mengajari siswanya bagaimana cara melakukan korupsi (dengan memberikan jawaban pada murid saat
unas).
Sementara itu, sekolah favorit selalu dipenuhi guru dengan kualitas baik, sementara sekolah non favorit dibiarkan terlantar tanpa tunjangan akademik yang tak kunjung membaik. Biaya pendidikan yang tak kunjung berdamai dengan keterhimpitan ekonomi masyarakat juga menjadi kompetisi baru dimana hanya yang kelah atas saja yang mampu menikmati sekolah berkualitas.
Di mata Einstein sebuah kompetisi merupakan kegagalan terburuk dalam mencetak generasi. Sebab dengan kompetisi, yang lahir justru kepincangan individu. Tegasnya di berkata
begini; 'Suatu kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya, bagi saya merupakan kesalahan terburuk. Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena itu. Dan hanya ada satu jalan untuk menghilangkan ini, yakni dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan
sosial'.(dikutip dari selected work Einstein)
Sulitkah mencapai pendidikan dengan orientasi sosial? Bisa iya. Bisa juga tidak. Namun yang mendesak sekarang bagaimana pendidikan dengan berbagai fasilitas yang maksimal mampu dirasakan oleh siswa yang bersekolah di desa. Sehingga yang terbaca sejarah bukan hanya Andy Oktavian Latief. Bahkan anak-anak di desa pedalaman sekalipun bisa mengukir namanya di Mata dunia. Dari Desa. Untuk Indonesia.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

