Artikel Umum
MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL
Penulis : Edy Firmansyah
Prilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi banyak
pelajar-setidaknya mereka yang pernah mengenyam pendidikan-sebab prilaku membolos itu sendiri telah ada sejak dulu. Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. Buntutnya memang akan menjadi fenomena yang jelas-jelas mencoreng lembaga persekolahan itu sendiri. Tidak hanya di kota-kota besar saja siswa yang terlihat sering membolos, bahkan didaerah-daerahpun beberapa sangat gemar membolos. Seperti yang diberitakan Koran Radar Madura beberapa waktu lalu. Yakni tentang temuan anggota DPRD Pamekasan yang tengah sidak ke pantai Talang Siring. Mereka menemukan beberapa anak berseragam sekolah tengah bolos. Sebab keberadaan mereka di tempat tersebut pada saat jam pelajaran sekolah. Dan hari itu ( maaf saya lupa tanggalnya) bukan hari libur. Parahnya lagi, mereka ditemukan tengah bercengrama dengan teman lawan jenisnya. Nah, yang menjadi pertanyaan mengapa siswa-siswi kita kerap membolos? Adalah yang salah dengan sistem pendidikan di negeri ini, sehingga para siswanya gemar membolos? Kalau meminjam sudut pandang Alvin Tofler, bukan tidak mungkin bahwa tindakan membolos merupakan produk yang salah dari sistem pendidikan yang massal. Setidaknya ada tiga hal mengenai kurikulum pendidikan massal itu. Pertama, ketepatan waktu, ketepatan waktu merupakan hal yang vital dalam sebuah produksi. Kita dituntut tepat waktu untuk mengerjakan segala tugas-tugas yang ada agar produksi pabrik-pabrik dapat meraih untung yang
berlipat. Sistem itu diajarkan disekolah, dengan tugas-tugas yang harus dikumpulkan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Juga mata pelajaran yang diberikan sesuai dengan jadwal pula. Bagi siswa yang kebanyakan remaja dan penuh dengan jiwa curiocity tentu saja itu sangatlah mengekang. Sebab masa remaja adalah masa yang penuh gelora dan semangat kreatifitas. Menurut pandangan psikologis usia 15-21 tahun adalah usia pencarian jati diri. Dan tentu saja sistem pendidikan yang ketat tanpa diimbangi dengan pola pengajaran yang
' menyejukkan ' membuat anak tidak lagi betah di sekolah. Nah mereka yang tidak tahan itulah yang kemudian mencari pelarian dengan membolos, walaupun secara tak langsung itu juga sebenarnya bukan jawaban yang baik. Terbukti, siswa yang suka membolos seringkali terlibat dengan hal-hal yang cenderung merugikan. Mulai dari pencandu narkotika, pengagum freesex dan mengidolakan tindak kekerasan (baca=tawuran). Anehnya lagi ketika kemudian fenomena membolos, atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika, sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan, sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Terbukti, pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anak-anak ‘nakal’. Dalihnya, anak-anak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Memang hal itu benar adanya. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Justru sebaliknya, tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Makanya, jangan heran jika akhir-akhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. Dan biasanya kerap tak terkendali.. Sayangnya, penjelasan mengenai hysteria massal lebih sering dijelaskan tidak secara ilmiah. Para guru dan masyarakat menganggap prilaku siswa yang tiba-tiba berteriak-teriak dan mengamuk di sekolah tanpa sebab yang jelas, dikatakan sebagai kesurupan atau kerasukan jin penunggu sekolah. dan itu diamini juga oleh sebagian besar media massa tanpa memberikan penjelasan yang kongkret mengenai fenomena tersebut. Nah apakah fenomena bolos sekolah dan hysteria massal yang kerap dialami anak didik kita itu akan dibiarkan terus berlanjut? Apakah para guru, orang tua siswa akan menganggap peristiwa itu sebagai peristiwa yang lumrah, yang akan berakibat fatal pada generasi muda kita? Saya yakin jawabannya sama; Tentu saja tidak. Pemuda adalah aset bangsa, merekalah generasi-generasi penerus yang akan mengenggam kayu estafet kemajuan bangsa ini. Untuk itulah mestinya para guru melakukan sebuah refleksi tentang fenomena bolos tersebut. Saran penulis, mengapa kita tidak kembali pada esensi dari sekolah itu sendiri. Penyebutan sekolah awalnya berasal dari Yunani yatiu scholl yang artinya waktu luang. Pada zaman itu sekolah adalah tempat bermain dan berbagi antara guru dan murid, hampir tak ada pengekangan dengan kurikulum. Disana mereka berbagi banyak hal. Atau yang sekarang diterapkan di kali code hasil garapan romo Mangun wijaya yaitu; school without wall (sekolah tanpa dinding). Tapi yang menjadi kendala besar, apakah pemerintah mau melakukan revolusi pendidikan tersebut yang notabene akan menciptakan daya kritis aset-aset bangsa
ini?
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

