Artikel Umum
Seharusnya Indonesia Makan Apa?
Penulis : Nanda Shabrina
Seharusnya
Indonesia Makan Apa?, Semua makhluk hidup pasti memerlukan makanan, baik
mendapatkannya melalui diri sendiri atau membutuhkan makhluk hidup lain. Seperti
halnya manusia, manusia membutuhkan makanan lewat makhluk hidup lainnya. Mereka
membutuhkan daging dari hewan atau buah-buahan dan sayuran dari tumbuhan. Dan
ada pula yang bersumber dari Sumber Daya Alam baik yang dapat diperbaharui
maupun yang tidak diperbaharui. Dalam kenyataannya, rakyat Indonesia sulit
sekali untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Banyak faktor
yang menyebabkan rakyat Indonesia sulit mendapatkan kebutuhan primer ini,
seperti: 1. Mahalnya
Kebutuhan Primer Faktor yang satu ini memang sudah amat mendarah daging bagi
kebanyakan masyarakat. Namun bagi banyak orang dengan kedudukan ekonomi atas
tidak perlu repot-repot memikirkan faktor ini. Dan kebanyakan rakyat Indonesia
memiliki status ekonomi rendah. Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup
mereka? Untuk makan saja susah terlebih lagi untuk kebutuhan lainnya.
Harga-harga bahan pokok kini kian menjulang ke atas. Jika dirata-ratakan harga
beras kini setidaknya mencapai Rp.4500,00, minyak goreng Rp.8000,00 /kilo,
minyak tanah Rp.3000/liter. Bukankah harga-harga bahan dasar tersebut sudah
terlalu menyusahkan rakyat? 2. Beredarnya
Barang Imitasi Yang satu ini juga tidak kalah pentingnya. Banyak mereka yang
susah untuk makan, akhirnya membuka pekerjaan dengan menjual barang-barang
imitasi atau palsu. Seperti saja minuman botol yang mereka daur ulang menjadi
muniman botol baru. Mereka hanya cukup mencari botol bekas, lalu dicucinya,
tinggal mengisinya dengan minuman racikan sendiri, dan yang terakhir ditutup
dengan kemasan layaknya minuman botol baru. Cara ini memang amat mudah,
keuntungan yang dihasilkan juga tidak sedikit. Untuk itulah mereka memilih jalan
itu. Banyak barang-barang imitasi tersebut yang dapat membahayakan konsumen
dengan kadar rajikan yang dikira-kira. Saya bisa memaklumi usaha yang mereka
lakukan guna menghidupi hidup mereka, namun cara yang mereka lakukan sangat
tidak dibenarkan. 3. Bahan Pengawet
Penggunaan bahan pengawet memang boleh-boleh saja jika kadarnya disesuaikan.
Namun Badan Pengawas Obat dan Makanan juga berkata jika penggunaan bahan
pengawet jika bisa dihindarkan karena tubuh asing mencerna bahan pengawet
tersebut (termasuk bahan pengawet yang dianjurkan). Selebihnya tubuh akan merasa
ada yang aneh yang ia mencerna karena bahan pengawet tersebut, belum lagi jika
dalam jangka waktu yang panjang akan menimbulkan penyakit dalam. Baik itu
pengawet makanan yang diijinkan dalam peraturan Menteri Kesehatan Nomor :
722/Menkes/Per/IX/88 mencakup, 26 bahan pengawet seperti Asan Benzoat, Asam
propianat, dll atau yang tidak diijikan. Dan yang lebih parahnya lagi, karena
bahan pengawet makanan yang diijinkan tersebut tidak murah harganya, ada banyak
orang yang menggunakan pengawet mayat (formalin) untuk makanan yang mereka
produksi. Bahaya yang akan timbul pun akan semakin dasyat. Namun anehnya, diluar
kemasan produk nomor atau tanda jika produk ini sudah dibolehkan beredar oleh
Badan pengawas Obat dan Makanan. 4. Kadarluarsa
Barang Terkadang kadarluarsa barang yang sudah tercantum di luar kemasan tidak
begitu di perhatikan oleh para penjual. Banyak diantaranya yang kedapatan
menjual barang dengan keadaan basi. Terlebih lagi untuk pedagang kecil yang
kemampuannya terbatas, di Supermarket-supermarket besarpun seakan cuek akan hal
itu. Yang mereka tau hanya produk yang mereka jual habis tanpa melihat dari segi
kelayakan untuk dikonsumsi. Nah, yang jadi pertanyaan, seharusnya Indonesia
Makan Apa? Untuk makan saja susah apalagi untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Peranan pemerintah kini seharunya dipertanyakan. Kemana pemerintah?
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

