Artikel Umum
Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan
Penulis : Lukman Asya
ing ngarso
sung tulodo - di depan memberi teladan
Dua hal yang
patut kita renungkan dalam konteks "mendownload" semangat kemerdekaan Republik
Indonesia 17 Agustus 1945- 17 Agustus 2007. Dua hal itu secara semantis memunyai
hubungan yang erat dan saling mengkonstruk satu sama lain yakni frasa "Pendidikan
yang Memerdekakan" dan "Kemerdekaan yang Mendidik". Pendidikan yang memerdekakan
dapat dimaknai seyogyanya memerdekakan manusia dari kebodohan dan ketertindasan
budaya menuju taraf hidup yang mencerahkan secara berkeadilan sosial, sejahtera
dan bersatu. Pendidikan yang memerdekakan harus diusahakan dan dijayakan. Kemerdekaan
yang Mendidik dapat dimaknai kemerdekaan yang turut mengkonstruksi karakter
watak bangsa menuju kedewasaan. Mendidik seyogyanya adalah suatu proses yang
secara kontinyu diusahakan dapat membuat bangsa ini cerdas, membentuk
pribadi-pribadi yang dewasa dalam nyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial
dan global. Kemerdekaan yang mendidik dapat kita pahami mengandung spirit
nasionalisme dalam memaknai usaha-usaha dan hasil-hasil kita menuju pencerahan
sebagai bangsa yang berkeadilan dan sejahtera. Maka tanah air
tercinta ini sebagai nation-state harus terus dimerdekakan dari
tangan-tangan penjajah asing dan penjajahan akibat keserakahan kita. Apa gunanya
kita meyakini Indonesia ini sebagai bangsa kalau dalam langkah dan perbuatan dan
ketika memerintah (menjadi penguasa) misalnya kita abaikan
nasionalisme kita, kita biarkan misalnya budaya asing menghisap kebudayaan dan
kemandirian kita. Tujuan
Indonesia merdeka, agar kita dapat memetik hikmah dan berkah dari perjuangan
revolusi merebut kemerdekaan. Hikmahnya kita dapat sekolah dapat lebih terbuka
menghayati nilai-nilai sosial dan kehidupan. Berkahnya kita dapat melangsungkan
kehidupan. Dapat berbuat banyak dan mesti sanggup mendayagunakan sumber alam
kita yang ada yang kita yakini kemurahan kemakmurannya sanggup memberikan
penghidupan bagi kita semua. Maka tangan dan pikiran kita mesti bekerja, mesti
dimerdekakan dari nafsu keserakahan semata. Kita selayaknya bersama-sama
mewujudkan cita-cita meraih kesuksesan dan menangkal segala cara dan kelicikan
tangan-tangan asing yang ingin menjajah dan merampas hak-hak kita. Jawaban untuk
itu adalah pendidikan bagaimana kita membenahi dunia pendidikan kita yang tidak
melulu mengedepankan logika komersial tetapi juga logika kultural. Kemerdekaan
yang Mendidik Frasa "Kemerdekaan
yang Mendidik" dapat membawa kita pada refleksi tanya: apa, bagaimana dan sejauh
mana kemerdekaan telah mendidik kita sebagai bangsa. Bangsa ini di mana kita ada
memaknai merdeka sejak 62 tahun lalu tepatnya 17 agustus 1945 dengan penandanya
yaitu proklamasi. Apakah kita telah benar-benar menjadikan cita-cita kemerdekaan
yang ditancapkan para pendiri bangsa ini telah kita wujudkan yakni hidup rukun,
senyum bersatu dalam keanekaragaman budaya. Apabila kita
menengok aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya, ternyata masih tergantung
pada upaya asing yang memasang imperialismenya secara halus dengan IMF, WTO dll,
maka seyogyanya kita menginsyafi dan menyadari bahwa kemerdekaan belum kita
jadikan sebagai ruang untuk mendidik kita sebagai bangsa yang mandiri. Bukan
berarti bangsa ini tidak boleh bergaul seama bangsa-bansga yang telah lama
mengikrarkan eksistensi kemerdekaanya dalam berbagai ikatan asean
misalnya tetapi seyogyanya fokus utama kita bagaimana mewujudkan daripada
cita-cita kemerdekaan Indonesia itu yakni kita keluar dari berbagai belenggu
penjajahan dan kebodohan. Dalam konteks
kemerdekaan RI perlu kiranya kita merenungkan hal itu bahwa bukan untuk
menumbuhkan eksistensi sebagai bangsa yang iseng sunyi sendiri. Tapi marilah
kita membaca fakta sosial keindonesiaan hari ini. Orang miskin masih
berjuta-juta jumlahnya itu yang tercatat sebagai angka pada kenyataannya bisa
melampaui perkiraan dan hasil survey mana pun. Pemerataan pembangunan dan
akses pendidikan masih bertumpuk di pulau Jawa. Bagaimana dengan Irian Jaya yang
belakangan kian kenceng spirit etno-nasionalimsenya untuk mepelaskan diri
dari Indonesia. Disparitas dan disintegritas masih mengancam akibat
ketidakadilan sosial, akibat kemerdekaan yang telah kita dapatkan tidak
dijadikan ruang momentum untuk mewujudkan cita-cita sosial meraih kesejahteraan
memberdayakan alam agrasis kita yang luas. Nampaknya pemerintah kita masih
mengutamakan kekuasaan ketimbang kepemimpinan yang perspektif bagi kaum miskin
dan masyarakat pedesaan. Kemerdekaan
belum mendidik kita sebagai bansga menjadi dewasa dalam pola pikir, martabat dan
usaha-usaha sejahtera secara demokrasi nasional. Kemerdekaan hanya menjungkirkan
kita untuk semakin tak berdaya, rendah diri di hadapan bangsa lain, krisis yang
berkepanjangan yang sampai saat ini belum teratasi. Kemerdekaan
bangsa ini baru ditaburi janji-janji politik dan omong kosong penguasa di mana
kebijakan-kebijakannya sekedar menguntungkan pemodal kapitalisme, belum berpihak
pada kaum miskin dan buruh baik secara konsep apalagi pada prakteknya. Sebuah
kenyataan, rezim Soeharto yang berkuasa 32 tahun lamanya telah membangun
pemerintahan diktator di atas kesadaran dirinya sebagai seorang tiran, diktator
yang sebatas menumpuk harta tujuh turunan sebagai biang terjadinya krisis bangsa
ini. Soeharto telah memutarbalikkan kemerdekaan dan sebatas kamuplase politik
hegemoni bahasa. Hanya menjadikan kekuasaan hipokrasi membangun imperium kolusi,
korupsi dan nepotisme. Pembangunan dilaksanakan sebatas fisik tidak diarahlkan
pada kebangunan karakternasionalitas di bidang pendidikan. Pendidikan
yang Memerdekakan Secara
resiprokal dan dialektik frasa pendidikan yang memerdekakan berhubungan dengan
kemerdekaan yang mendidik dalam konteks ini adalah sebuah sinergi dua kekuatan,
dua cita-cita yang dapat diarahkan untuk mengkonkretkan kita sebagai bangsa yang
mandiri dan tidak bodoh. Untuk membangun bangsa yang kuat dan benar-benar
merdeka diperlukan upaya-upaya pendidikan. Pendidikan adalah sebuah ruang proses
di mana cita-cita itu dapat diwujudkan. Bagaimana misalnya komunitas Budi Oetomo,
komunitas Tiga serangkai mengusung pendidikan sebagai pilar utama dalam meraih
kemerdekaan atau membuka akses masyarakat untuk maju. Maka serara
hakiki, cita-cita pendidikan yang memerdekakan dapat disinergikan dengan tujuan
kemerdekaan yang mendidik dalam memaknai dan menyalami hari-hari kita sebagai
bangsa yang semestinya tak letih-letih berjuang demi keadilan dan kesejahteraan
bersama. Apa kabar
pendidikan (di) indonesia? Sudahkah melepaskan rakyat dari jerat-jerat kebodohan
dan kemiskinan? Bagaimana gagasan pendidikan kebangsaan kita? Apa kabar 20 %?
Halo sertifikasi guru? Halo BHP!, Hallo BHMN, sudahkah berpihak pada kaum miskin
sebagai "tangan" pendidikan yang sanggup melepaskan rakyat dari buta hurup dan
buta motral serta kemudian mendapatkan akses untuk sejahtera. Kita dapat
merasakan bahwa faktanya membuktikan bahwa kita masih jauh dari pendidikan yang
benar-benar memerdekakan bangsa ini dari jerat-jerat ketakutan dan kecemasan
akan bagaimana di hari depan. Bangsa yang gemah ripah ini terasa sempoyongan dan
terseok-seok. Pada
kenyataannya orang yang suka korupsi itu orang yang mengenyam pendidikan. Pada
kenyatannya pejabat yang gila jabatan dan kekuasan itu orang terdidik bahkan
paham aturan main pendidikan. Sementara jutaan mulut si miskin menganga penuh
kehausan, menjadi buruh ripuh di ranah sendiri yang gemah ripah. Ironi
dan ketakutan membayangi dunia pendidikan kita. Mari kita
mengkonkretkan daripada tujuan membangun bangsa ini lewat pendidikan yang
memadai. Kita perlu berkaca pada semangat perjuangan para pahlawan pendidikan
seperti pada Ki Kadjar Dewantara. Pendidikan yang memerdekakan seyogyanya adalah
pendidikan yang ditujukan ke arah kemandirian dan keyakinan dalam mengelola
sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan bermoral. ##### *)penulis
adalah anggota IKA-UPI ketua Umum Teten Masduki
ing madyo mangun karso - di tengah membangun karya
tut wuri handayani - di belakang memberi dorongan
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

