Artikel Umum
SEHABIS KTSP LALU APA? SKS!
Penulis : Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM
Penguasaan Kurikulum, Manajemen Berbasis Sekolah dan Sekolah Mandiri
dalam
satu tarikan nafas Dalam
tulisan yang lalu (Yang Terlewatkan dari KTSP), saya telah
menguraikan secara panjang lebar kesalahpahaman yang terjadi diseputar
pelaksanaan KTSP, mulai dari libur pada hari Sabtu (meskipun guru-guru
selalu mengeluh kekurangan waktu untuk menyelesaikan seluruh agenda yang
termaktub dalam Standar Kompetensi) sampai penjualan silabus yang marak
di toko-toko buku (padahal seharusnya silabus dibuat sendiri oleh guru setelah
menyelesaikan langkah ke 12 dalam penyusunan KTSP oleh guru yang bersangkutan
itu sendiri), mulai dari masih diberlakukannya sistem ranking (padahal
penilaian harus mencakup aspek holistik : kognitif, psikomotorik, afektif dan
kecakapan hidup (life skill) - (IQ dan EQ/EI) yang tidak mungkin mampu
ditunjukkan perfomance-nya secara prima oleh seorang siswa/beberapa siswa
saja - sebarannya pasti merata) sampai pada masih adanya penghakiman untuk
kemampuan belajar siswa (masih ada siswa yang tidak naik kelas) - lalu
untuk apa program remedial diselenggarakan dan untuk apa guru harus mengubah
strategi pembelajaran pada langkah ke 6 dari penyusunan KTSP bila siswa gagal
memenuhi SKBM (standar kompetensi belajar minimal)/KKM (kriteria ketuntasan
minimal), mulai dari guru yang masih aktif memberikan ceramah (padahal
model pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran harus sudah dirumuskan
dalam taksonomi Bloom - langkah ke 4 dalam penyusunan KTSP) sampai pada
kesalahkaprahan fungsi BK sebagai tempat penyaluran siswa bermasalah, bukan
sebagai tempat siswa untuk merencanakan studi lanjut dan menyiapkan diri untuk
bekerja bila tak bisa studi lanjut melalui pendalaman materi pada kecakapan
hidup (life skill). Bahkan yang paling fatal adalah munculnya
pemahaman bahwa KTSP itu adalah mainan Menteri baru (ganti Menteri ganti
kurikulum), tanpa melihat bahwa KTSP terdiri dari dua dokumen : Dokumen I
tentang Isi Pendidikan dan Dokumen II tentang Kurikulum, Proses
Pembelajaran dan Evaluasi, Sarana dan Prasarana Sekolah dan Buku Ajar. KTSP juga
tidak berdiri sendiri, karena KTSP juga menuntut kompetensi guru yang
diejawantahkan dalam Program Sertifikasi Guru, sehingga kualitas guru dapat
terpantau (tidak semua orang yang tidak laku di pasar kerja dapat menjadi guru).
Meskipun
kesalahpahaman di atas lazim terjadi, namun pihak Depdiknas dan Komite Sekolah
nampaknya menutup mata. Hal ini mungkin disebabkan karena banyak pihak tidak
mengerti grand design dari arah pendidikan kita : "mau kemana
arah pengembangan pendidikan ini?" Banyak pihak tidak mengerti bahwa KTSP
adalah revolusi dalam dunia pengajaran monoton di negara ini. KTSP hanya bisa
diberlakukan bila Sekolah : (1) sudah membentuk Tim Ahli/Litbang untuk menyusun
rancangan Dokumen I dari KTSP, lalu (2) para guru sudah menyerahkan kelima belas
langkah penyusunan KTSP yang disebut draft dan kemudian (3) drafts ini direvisi
oleh Tim Ahli/Litbang sehingga sesuai dengan Visi dan Misi Sekolah dan dari
proses ini akan dilahirkan Dokumen II dari KTSP, selanjutnya naskah final
Dokumen II disandingkan dengan rancangan Dokumen I lalu (4) diverifikasi oleh
Komite Sekolah sehingga seluruh Dokumen KTSP sesuai dengan acuan tipe Sekolah
Mandiri. (sumber : website Depdiknas : www.depdiknas.go.id lalu klik
KTSP) Sekolah-sekolah yang belum mencapai kriteria Sekolah Mandiri supaya
merencanakan secara terprogram langkah-langkah untuk mencapai kriteria
tersebut. Apa
kelengkapan mutlak dari KTSP? Pembenahan manajemen sekolah. Pemerintah sudah
mensosialisasikan MBS (manajemen berbasis sekolah) bersamaan dengan
dicanangkannya kurikulum 1994, namun gaungnya tertutup hiruk pikuknya proyek
penataran kurikulum 1994 ini. Sebagai langkah lanjut, Pemerintah juga
mensosialisaikan tipe Sekolah Mandiri bersamaan dengan diluncurkannya kurikulum
2004 (KBK). Namun banyak pihak lebih terpaku pada kurikulum baru ini dan
mengabaikan pembenahan manajemen sekolah dan audit kinerja sekolah sehingga
upaya untuk menuju ke Sekolah Mandiri terlewatkan. Memahami
grand design pendidikan kita Setelah
pencanangan audit kinerja sekolah melalui MBS (manajemen berbasis sekolah) pada
tahun 1994, yang diikuti dengan sosialisasi tipe Sekolah Mandiri pada tahun
2004, lalu disusul dengan ide mengenai lulusan yang kompeten atau lebih
berkualitas melalui penyusunan kurikulum yang disertai dengan upaya meningkatkan
kompetensi guru melalui Program Sertifikasi Guru (yang dilandasi UU Guru dan
Dosen), sebenarnya kemana arah pendidikan kita? SKS! Dalam SKS
(sistem kredit semester) dibutuhkan : Kemampuan
guru untuk menyusun kurikulum sendiri yang sudah diawali dengan KTSP
Kompetensi
guru yang akan diuji melalui program sertifikasi guru (tidak semua orang bisa
menjadi guru – guru adalah profesi dan oleh karena itu dituntut untuk bersikap
profesional) Kinreja
sekolah harus dapat diukur sehingga audit persekolahan dapat termonitor. Hal
ini merujuk pada pembenahan seluruh aspek persekolahan, bukan saja pada
perbaikan sistem administrasi dan manajemen keuangan sekolah tapi juga pada
penerapan merit sistem dan pengembangan atmosfer ilmiah di lingkungan sekolah.
Infrastruktur
sekolah yang mengacu pada tipe Sekolah Mandiri, bukan saja pada kelengkapan
sarana dan prasarana fisik tapi juga non fisik yang berarti juga pada
perbaikan proses pembelajaran mandiri sehingga sekolah dimungkinkan untuk
menjadi sekolah pembelajar (moving class) Yang tak
tersentuh Konsep
moving class nampaknya tak pernah dilirik oleh sekolah-sekolah kita. Mungkin
karena penerapan konsep ini secara infrastruktur jauh lebih mahal dari sekolah
konvensional. Dalam sekolah konvensional, pihak Yayasan/Komite Sekolah cukup
menyediakan ruang kelas, satu lab komputer, tiga lab sains (fisika, kimia dan
biologi), tapi dalam moving class, setiap kelas harus dilengkapi dengan
fasilitas keilmuan yang diampu guru bidang studi. Bayangkan berapa banyak
fasilitas yang harus disediakan per ruang. Belum lagi kalau dihitung banyaknya
ruang kelas yang harus disediakan. Bila satu hari sekolah terdiri dari 8 jam
pembelajaran, maka dalam stu hari hanya dimungkinkan 4 kali pergantian siswa per
ruang. Itu berarti dibutuhkan dua kali jumlah ruang kelas konvensional. Masalah
lainnya adalah kerumitan pengaturan manajemen pergerakan siswa dan pembagian
tanggung jawab ruang kelas serta ketersediaan almari siswa (locker) yang
aman. Dari segi fasilitas, moving class memang jauh lebih mahal. Belum
lagi dari segi konsep, penerapan moving class harus dilandasi kefasihan
penguasaan MBS (manajemen berbasis sekolah) sehingga kinerja sekolah bisa
teraudit secara transparan dan visi Sekolah Mandiri dapat terwujud dengan
elegan. Dari segi
pedagogis, moving class membutuhkan rekam jejak kemajuan proses
pembelajaran siswa (protofolio) , sesuatu hal yang diabaikan dalam kelas
konvensional, yang misalnya tercermin dalam kesalahpahaman guru konvensional
tentang program remedial. Remedial hanya diberlakukan bagi siswa-siswa yang
kurang pandai secara kognitif - penilaian beraspek holistik hanya
slogan. Padahal dalam moving class, penilaian tidak boleh hanya
menyangkut aspek kognitif, sebab Rancangan Penilaian dan PBK (penilaian berbasis
kelas) mempunyai tolok ukur yang menyentuh seluruh aspek kemampuan dan
keprobadian siswa. Dengan
kata lain, moving class memang sangat merepotkan pihak Yayasan/Komite
Sekolah dan para guru di lapangan, ditambah dengan paparan konsep : "Dengan
begini saja (tanpa perlu neko-neko) sudah banyak yang mendaftar. Moving
class? EGP (emangnya gue pikirin)" Lalu Apa?
Revitalisasi dunia pendidikan kita. Banyak orang tua dahulu menyekolahkan
anaknya ke sekolah-sekolah favorit, karena tiga hal : kualitas, pendidikan budi
pekerti dan disiplinnya. Maka revitalisasi pendidikan kita harus menyentuh
ketiga aspek itu. (1)
Kualitas. Bagaimana kualitas bisa terjaga bila orang yang melamar menjadi
guru terus menerus menurun mutunya baik secara akademik maupun secara
psikologis? Apa tolok ukurnya? Kebingungan guru-guru muda menghadapi soal-soal
Olimpiade Sains. Dengan kata lain, penguasaan materi sangat rendah. Itu sebabnya
program enrichment (pengayaan) tidak pernah berjalan di sekolah-sekolah
kita. Lalu bagaimana jalan keluarnya? Pihak Yayasan/Komite Sekolah harus
sungguh-sungguh menyiapkan terbetnuknya Litbang yang secara khusus berupaya agar
setiap guru dapat mengembangkan dirinya. Merit sistem harus
diterapkan. Penjenjangan karier guru harus mulai dirumuskan, mulai dari guru
muda (asisten guru/guru bantu), guru madya sampai guru koordinator/guru senior
dengan kriteria kenaikan pangkat yang jelas - tidak boleh lagi diterapkan sistem
penggajian PGPS (pinter goblok penghasilan sama). (2)
Pendidikan budi pekerti. Pendidikan Agama bukan pendidikan budi
pekerti. Bekal pendidikan Agama yang cenderung bersifat kognitif telah
menghancurkan nilai-nilai humaniora itu sendiri. Lalu mesti
bagaimana? Pendidikan nilai harus dirumuskan secara operasional - sudah banyak
metode di Fak. Psikologi yang dapat diadopsi untuk membuat pendidikan nilai itu
operasional, terpantau dan terukur. Bapak Fidelis Waruwu dari Fak. Psikologi
Untar beberapa kali mengulasnya dalam Majalah HIDUP. (3) Disiplin.
Disiplin bukan hanya pada ketepatan waktu kedatangan (guru sama seklai tidak
boleh terlambat karena dia adalah teladan bagi siswa) tetapi juga cepat
mengoreksi ulangan dan cepat mengembalikannya ke siswa, tepat dalam menganalisis
soal (masih sering terjadi, soal-soal yang diberikan hanya copy paste
dari buku-buku soal yang banyak dijual di pasaran dan kemudian setelah diujikan,
tak pernah dianalisis) dan mempunyai target yang jelas dalam remedial dan
pengayaan (enrichment). Lalu bagaimana kalau kita kedodoran dalam
administrasi pengajaran? Merevitalisasi peran Komite Sekolah dan memfungsikan
secara jelas peran supervisi dalam kehidupan persekolahan. Yang berhak melakukan
supervisi guru bukan hanya Kepala Sekolah dan Yayasan, tetapi juga Komite
Sekolah. Dengan demikian, guru akan terpola untuk berdisiplin karena seluruh
stakeholders memantau dan menilainya. Apa yang
dituju? Penerapan
SKS. Penerapan SKS ini akan membuat guru dan siswa mandiri dalam proses
pembelajaran sehingga siswa dapat merencanakan sendiri studinya dan hal itu akan
membuat kehidupan persekolahan menjadi dinamis serta menjadikan kegiatan belajar
menjadi kegiatan yang menyenangkan, tak lagi menjadi beban bagi para siswa. Tak
ada lagi kegiatan les dan bimbel (bimbingan belajar). Hasilnya : Kita mengarah
pada penerapan long life education Kita
menghargai prestasi seseorang bukan orangnya (kita menghargai ketekunan dan
capaian seseorang). Kita akan belajar mendengar apa yang dikatakan seseorang
bukan siapa yang mengatakannya. Dalam penerapan
SKS ini, kita sedang merenda bangsa ini menjadi bangsa pembelajar dan bangsa
pekerja keras yang menghargai merit sistem sejak dini.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

