Artikel Umum
Cinta Sesederhana Dirinya
Penulis : Nanda Shabrina
Diliputi
Rasa Cinta yang Terlalu menggebu... Pelipur Hidup Saya Cinta adalah sesuatu yang
dapat dilihat, dibaca dan dirasakan meskipun tak dapat diraba Cinta adalah
sesuatu yang dapat diungkapkan, baik dari ucapan, tulisan maupun perbuatan Cinta
adalah sesuatu yang tak dapat disentuh tetapi dapat dibuktikan Saat saya
menggoreskan pena ini, mungkin kau takkan pernah bisa membayangkan betapa
menggebu rasa cinta yang saya rasa direlung hati ini. Mungkin bagimu, ini hanya
sebuah cerita. Sebuah cerita usang yang tak berarti apapun, karena saya bukanlah
penyair selayak Chairil Anwar yang membuat orang mampu mengangkat topi. Juga
bukan seperti Habiburrahman El-Shirazy, yang mampu membuat orang jatuh cinta
pada karya-karyanya. Namun, saya
berusaha seperti penulis Andrea Hirata dengan judul bukunya Langkar Pelangi,
yang ia dedikasikan untuk ibu gurunya tercinta. Saya ingin sepenuhnya
mendedikasikan karya saya ini kepadamu yang sampai saat ini setia menjadi
pelipur hidup saya. Jika pun kau tak berkenan, tolong jangan buang, tolong
simpan baik-baik. Karena bagi saya, ini adalah mahkota persahabatan kita untuk
selamanya. Amin. Saya pertama kali menjumpaimu ketika saya masih duduk di kelas
2 Smp. Saat ini, sepertinya satu sekolah sedang dirundung kebahagian yang luar
biasa akibat salah satu bidadari dari kota lain berpindah sekolah kesekolah ini.
Saya melihatmu, juga melihat reaksi banyak orang saat mereka memandangmu dengan
pandangan takjub. Saya tahu sekali mengapa mereka sebegitu takjubnya
memandangmu. Kau memiliki paras elok dan kulit putih bersih. Seketika saya
langsung agak merasa sedikit cemburu. Mengapa semua
orang memandangmu seperti itu. Saya menganggapmu yang bukan-bukan. Namun, masih
dalam kontrol yang sewajarnya karena saya sadar, hal itu hanya rasa cemburu
belaka. Saya akui dalam-dalam, kau memang cantik, kulitmu putih bersih, dan dari
wajahmu, aku melihat gurat-gurat ilmu pengetahuan yang banyak kau meiliki.
Sekali lagi saya menepis rasa cemburu itu. Allah berkata, jika tak ada manusia
yang sempurna, dan setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Kebetulan saat itu, saya denganmu tak ditakdirkan untuk satu
kelas oleh Allah. Entah karena apa, saya pun tak tahu pasti. Saat itu pula saya
melihat dia -tak perlu saya sebutkan namanya-, yang kebetulan saat itu saya
jatuh hati padanya, bersama teman-temannya ia memandangmu dengan tatapn yang tak
biasa. Saya tak bisa menahan rasa kejengkelan padamu. Kau mampu membuatnya
melihatmu seperti itu. Entah ini hanya rasa cemburu yang berlebihan atau memang
benar adanya. Benar, jika dia mungkin benar-benar kepincut hati olehmu.
Saya tak bisa
membayangkan hal yang lebih menyesakkan dada saya, jika nantinya ia memang
benar-benar mencintaimu. Ya Allah, tolonglah saya... Saya memang masih
anak-anak, namun rasa sayang ini tumbuh derasnya sejak 1 tahun lalu. Kabar
kedatanganmu menghebohkan satu sekolahan. Banyak yang pro dan kontra. Yang pro
bahkan sepertinya mengagung-agungkan dirimu sedemikian rupa. Dikatakannya kau
adalah murid paling cantik, baik, dan pintar. Dan yang kontra, seakan-akan
terbakar rasa cemburu, dikatakannya kau adalah murid yang sombong dan bahkan ada
diantaranya yang menyeletuk, 'dia kan tau aturan disekolah ini harus pake
panjang, kok malah masih pake rok pendek?'. Saya yang jelas, tak tau pasti. Saya
tak ingin mengikuti salah satu dari keduanya, karena saya sadar, saya tak
terlalu dekat denganmu, dan saya tak bolehlah menghakimimu begitu saja tanpa
informasi yang cukup. Hanya Allah yang Tau mana yang benar dari keduanya.
Allah yang Maha
Mengetahui segalanya. Ternyata namamu semakin populer. Kau disebut-sebut
memiliki otak yang cerdas. Dan kau adalah murid yang pintar bahasa Inggris. Dan
saya malah semakin mundur, semakin menciut. Lagi-lagi rasa cemburu itu menguak
ke permukaan dan membuat saya mati kutu. Ya Allah, buatlah diri saya rela
menerima kelebihan orang lain... Saya takut sekali ia juga nantinya akan merebut
posisi saya yang sudah dikenal orang lain, bisa masuk kategori pintar. Bahkan
saya juga tak bisa memikirkan lebih lanjut, jika kau akan merebutnya dari saya.
Saya harap, yang demikian adalah yang tak pernah terjadi. Amin. Perlahan, saya
merasa ada dorongan magnet yang membawa saya padamu. Entah mengapa, sepertinya
perasaan ini rasanya ingin sekali mengenalmu lebih dekat. Mengenalmu lebih jauh.
Mungkin, Allah memiliki rahasia untuk kita dimasa yang akan datang. Jujur, saya
ingin berkenalan dengannya, atau sekedar bertegur sapa. Saya tak tahu mengapa
rasa ini begitu kuatnya. Namun, kebodohan mengalahkan semuanya. Saya merasa,
saya sangat tidak pantas untuk mengenalmu. Saya tak memiliki apapun untuk
sekedar bersanding menjadi temanmu. Saya merasa saya sangat dungu dan kotor
untuk sekedar berbincang denganmu. Saya rendah diri. Saya takut jika kau tak
merespon salam perkenalan saya. Atau bahkan yang lebih ekstrim, mungkin kau
tidak mau berteman dengan saya yang kecil ini. Sang waktu mungkin mendengar
keluh kesah saya yang ingin sekali berkenalan denganmu. Saat permbagian kelas
naik ke kelas 3, akhirnya saya dapat mengenalmu atau hanya sekedar menatapmu
lekat-lekat, menikmati kecantikan yang selalu menjadi buah bibir kaum adam. 'kau
memang cantik', saya sedikit bersimpati denganmu. Selain itu, ketika pertama
kali belajar bahasa inggris bersamamu dikelas ini, kau banyak mengajari
teman-teman yang lainnya dengan penuturan yang sangat gamblang. Saya semakin
tertarik dengan kepribadianmu. Semoga esok dan esoknya lagi, saya bisa bertambah
dekat denganmu. Entah karena apa perasaan ini mengalir begitu deras, mungkin
takdir yang selanjutnya kan berujar pada kita berdua. Entah mengapa, saya lupa,
tiba-tiba saja kita berdua akrab, awalnya mungkin karena pindah tempat duduk,
dan selanjutnya saya tak begitu mengingatnya. Kau melayani saya dan teman-teman
lainnya dengan senyaman mungkin. Meskipun
awalnya saya akui, kau masih sangat tertutup. Sikapmu pada saat itu sangat
tertutup. Sepertinya kau menyimpan semua rahasia dan perjalanan hidumu
rapat-rapat tanpa boleh ada satu orangpun yang mengatahuinya. Saya mengerti,
mungkin hanya karena kita baru saling mengenal. Kau hanya sekedar menjawab
dengan jawaban singkatmu, terhadap pertanyaan yang perlahan-lahan saya lontarkan
kepadamu. Kau masih sangat tertutup. Dan itu memacu keinginan saya untuk lebih
jauh mengenalmu. Sepertinya kau merahasiakan sesuatu dari hingga saya tidak
boleh mengetahuinya. Saya mengerti, saya bukan sesiapamu. Dan saya tak berhak
untuk mengetahui apa yang bukan menjadi hak saya. Kita semakin akrab, dengan
kedekatan kita berdua juga dengan Susi dan Ai. Saya pun mengenal mereka yang
menyenangkan juga karena takdir waktu yang membawa kita. Kesamaan kita pun
sekiditnya mampu memberi ruang untuk kedekatan kita berdua. Entah kau
mensyukurinya atau tidak. Tapi saya senang sekali bisa mengenalmu sejauh saat
itu. Kita berdua sama-sama memiliki kebiasaan yang buruk, menertawai orang-orang
yang dianggap aneh. Kau masih ingat insiden Bambang? Saya mungkin tak bisa
mengakatakan hal-hal yang terlalu fulgar seperti yang demikian. Juga Alm. Pak
Tjasmadi, yang menyuruh orang untuk membunyikan bel. Ah, indah sekali ya. Kita
juga membuat cerita negara ingusan antara Umam dan Salim. Dan entah mengapa yang
terkekeh, hanyalah kita berdua, seakan orang lain tak mengerti akan hal ini.
Hanya kita berdua saja, mungkin kita sehati. Untuk itu, kita
selayaknya meminta ampun kepada Allah, atas tertawa kita yang tidak pada
tempatnya yang mungkin bisa membuat orang lain tersinggung hatinya. Teman, kau
juga sangat membantu perjalanan cinta saya dengannya, seorang yang terkasih.
Meskipun pada akhirnya, dia memang bukan untuk saya. Perjuanganmu sangat saya
ajungi jempol dan membuat saya harus berterima kasih padamu berkali-kali. Atau
bahkan saya ingin bersujud di kakimu meminta kepada Allah, untuk membalas semua
yang telah engkau berikan. Kau membuat ia mengetahui apa yang saya rasakan.
Meskipun ia tak menyimpan rasa yang sama seperti apa yang saya alami, namun kau
bisa membuat saya tersenyum untuk kali itu, saat kau bercerita tentangnya.
Tentang matanya yang memerah dan dengan genangan airmata mengetahui saya
mencintainya sejak 2 setengah tahun lalu. Jika tak ada kau, mungkin sampai
sekarang ia takkan mengetahui dalamnya cinta yang dulu pernah saya suguhkan
untuknya. Kau juga membantu saya menghadapi konflik saya dengan sang penguasa
kegelapan, yaitu pelajaran bahasa inggris. Kau mengajari saya sesabar yang
pernah saya tau dan sebelumnya tak pernah terbayangkan. Kesabaranmu perlu
diacungi jempol yang terus mengajari saya yang dungu ini. Yang selalu
menanyakan hal yang itu-itu saja, karena saya tak bisa cepat tanggap akan
seluruh materi bahasa inggris yang sejak dulu memilukan hati saya. Ilmu yang
sudah kau raih seakan begitu murah kau berikan pada saya. Atau mungkin saya yang
teralu memaksa hingga mau tak mau kau harus mengajari saya akan ilmu yang kau
miliki ? Jika begitu adanya, maafkan saya yang terlalu dungu ini… Sungguh,
maafkan saya jika telah membuat kau tak enak hati seperti itu... Semoga kau juga
memohon kepada Allah, untuk meringankan dosa-dosa saya yang selama ini saya
lakukan padamu. Dan Allah yang Maha Pemurah, akan meringankannya. Amin. Untuk
detik ini, entah kau percaya atau tidak, jika hati saya sesak menuliskan yang
demikian untukmu. Lebih tepatnya ketika saya harus mengulang
kebersamaan-kebersamaan yang telah kita lalui dihari lalu. Membuat mata ini
sedikit tergenang airmata namun saya berusaha untuk menahannya sekuat tenaga.
Segala yang telah kita lalui bersama dalam kebersamaan yang terlalu indah untuk
dilupakan. Dan terlalu menyedihkan dan mengharukan untuk dikenang. Perlahan kau
mulai terbuka terhadap saya. Kau ceritakan segala apa yang telah kau alami.
Apakah kau tau apa yang saya rasakan saat itu ? Sungguh saya sangat senang
sekali kau dapat mempercayai saya. Kau dapat percaya pada saya untuk menampung
segala rahasiamu. Kau tau, itu adalah amanat yang harus saya pegang. Dan terima
kasih untuk kepercayaanmu kepada saya. Saya memang keras kepala. Terkadang saya
juga membuatmu kesal setengah mati. Atau bahkan itu sering saya lakukan. Kita
pernah bertengkar, apa kau masih ingat ? Itu hanya karena masalah yang amat
sepele. Maafkan saya yang terlalu kekanak-kanakan dan terlalu keras kepala.
Semoga itu yang terakhir kalinya untuk kedidupan perjalanan persahabatan kita.
Amin. Kau tau apa yang membuat saya girang setengah mati ? Ketika itu, saya
membuat cerita tentang perjalanan cintamu yang sampai saat ini belum juga
terampung. Ekspresi yang kau berikan setelah membacanya membuat hati saya
teraliri sungai-sungai indah dibawahnya. Yang seakan membuat dahaga kasih dalam
hati ini terobati sudah. Kau adalah penyejuknya. Dan, maafkan jika hingga saat
ini cerita itu belum juga rampung, karena saya takut saya salah menceritakannya
karena bukan saya yang mengalami hal yang demikian. Adalah kau yang
mengalaminya. Setelahnya, saat saya berulang tahun yang ke-15. Hadiah yang
terindah adalah darimu. Bukan barang yang kau hadiahkan pada saya, namun secarik
keras yang mampu membuat saya menangis sejadi-jadinya. Seperti yang sedikit saya
kutip : Thnx bgt ya Nda... Thnx dah mo jdi shbat aQ (wlau-pun kpaksa !), tnkz
dah ngisi hari 2 aQ, n thnx jg coz nda dah slalu nglakuin yg t'baek bwat aQ...
aQ ga tau deh.. apa jdi-na aQ skrng klo bkan krna smua p'tolongan nda...
Makaaassiiiih...iihhh.. bgt... !!! Mlai saat ini n' strusnya, aQ jnji deh bklan
slalu b'usaha nglakuin yg t'baek bwat persahabatan Qt... Biar ga cpet putus...
Sjujur-na neh ya... aQ tuh pngen kita sahabatan trus, (entah smpe kpan) slama yg
kita bsa... aQ pngen wlaupun kita dah terpisah ruang dan waktu, kita msih te2p
saling kontak, saling curhat,... n' apalah, ssuatu yg bsa memp'erat p'shbatan
kita... Mo kan nda ? Sungguh, itu sangat menyesakkan dada saya. Saya menangis
sejadi-jadinya mengenang kebersamaan kita dan hal-hal lain yang membuat saya
menyayangimu, teman. Apalagi paragraf yang ini : Ini khusus gue beliin buat elo,
coz lo ah sering ngebantuin n ngedampingin gw sebagai sahabat gw. Maafin gw ya,
kalo selama ini gw selalu bersikap egois, ini sengaja gw beli bwat o, gw tau
kalo lu tuh berbakat dalam nulis puisi, makanya gw beliin biar lo bisa
mencurahkannya disini. Terus, lo boleh nulus2 disini. N' kalo ada sesuatu yang
lo rasain, apapun itu, lo boleh ngungkapin disini... Ini juga
sungguh membuat dada saya tambah sesak dengan keharuan yang sungguh amat sangat
luar biasa dalamnya. Itu perkataan yang sama yang pernah saya tulis dalam
rancangan novel yang saya buat baru sekitar 100 halaman. Saat saya serahkan
padamu, saya tak menyangka kau akan menghapalkannya dan ini merupakan suprise
yang begitu luar biasa. Saya tak tau kau sebegitu care'nya terhadap karya-karya
saya. Juga bahkan kau menghapalkannya untuk suatu moment yang sangat pas.
Bukankah itu mencerminkan kau menunggu-nunggu untuk mengatakan semuanya ini pada
saya ? Teman, terima kasih karena kau mampu membuat saya tenggelam dalam airmata
kebahagiaan. Saya terkadang sering sekali pura-pura kesal terhadapmu. Apalagi,
kau sering sekali tak sengaja berbicara lantang apa yang sedang saya bicarakan
padamu. Kontan juga terkadang, seseorang yang kini sedang menawan saya -berbeda
dengan seseorang yang pernah saya suguhkan cinta sewaktu Smp- dengan rindunya
menoleh, dan mungkin mengetahui apa yang sedang saya bicarakan. Saya
berpura-pura kesal padamu, namun sungguh saya sangat senang memiliki teman yang
seakan mengerti saya. Saya ingin sekali ia mengetahui perasaan ini. Dan kau yang
sangat cerdas, berpura-pura melantangkan suaramu agar ia mengetahui apa yang
saya rasakan dan hati yang sedang menggebu-gebu itu. Kau sangat mengerti atas
saya. Terima kasih.
Kerena tak ada seorang pun yang bisa melakukan hal yang sama selayaknya dirimu.
Kau juga tempat yang sangat nyaman untuk saya mendendangkan perasaan hati saya.
Terima kasih, teman. Yang telah menjadi istana dalam luapan emosi saya. Terima
kasih atas segalanya. Saya selalu berharap kepada Allah, agar menjadikan kau
pelipur hidup saya untuk selamanya. Kau Lah... Kedinginan memuncak, Menggigillah
aku, Diam, ketika semua datang Selimut itu menyelubungi jiwaku Ya, itu lah kau
Yang selama ini menyelimutiku Dari debu yang dapat menorehkan luka Jamahlah aku
dengan sedikit senyummu, Laksna jiwa merindukan hasratnya Laksana hasratnya
merindukan hatinya, Laksana hatinya merindukan jasmaninya Laksana jasmaninya
merindukan keelokannya Laksana keelokannya merindukan kesempurnaannya. Yah, itu
lah kau Yang selama ini menempatkanku Dari mana yang terbaik untukku dan yang
mana tidak Thanks untuk semuanya.. (4 Februari 2007) Life doesn't
move in straight line. It moves in circle. You end up at the point your started
with. Then, what is the point - you may ask. There is no point and that is the
point. But you will mot appreciete "pointess of life" until and unless you
experience it yourself. Indeed, one has no choise in this matter. You cannot
choose "not to undertake the journey of life" . If you reading this lines, you
are in fact already traveling. The journey is on. The first point of ypur
journey is your self. Then self merges with self and you realize that the
journey was not external, it was internal. You have been traveling within. At
the point, pointless of life becomes the cause for celebration. You will begin
to dance and sing to the rhythm of life. And that is important. Your singing,
your dancing, your celebration of ife... make that the point. After all, life is
what you make of it! Dalam keharuan luar biasa 7.53am, 17
Februari 2008 Nanda Shabrina
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

