Artikel Umum
Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama
Penulis : Ibn Ghifarie
Pascatragedi
pengeboman di menara kembar WTC (11 September 2001) Amerika Serikat wajah umat
islam Indonesia berubah derastis menjadi buram, bengis, hingga sarang teroris.
Semula kita kenal pemeluk agama islam yang mayoritas sangat toleran, terbuka,
ragam dan menghargai pendapat orang lain atua kelompoknya yang beda pandangan.
Hal ini tercermin dari semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Ketuhan Yang Maha Esa
(pancasila) Kini, segala persoalan harus diselesaikan dengan kebudayaan barbar.
Kebiasaan bom bunuh diri pun jadi trend yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Mengerikan bukan? Betapa tidak, dalam kurun waktu 2000-2005 terdapat lebih dari
sepuluh tragedi memilukan sekaligus geram atas perbuatan lalim tersebut.
Lihat saja,
datanya begitu pantastis. Penghujung tahun 2000; Bom Kedubes Filipina, Jakarta
(1 Agustus), Bom Kedubes Malaysia, Jakarta (27 Agustus), Bom Gedung Bursa Efek
Jakarta (13 September) Bom malam Natal (24 Desember), 2001; Bom Plaza Atrium
Senen, Jakarta (23 September), Bom Restoran KFC, Makassar (12 Oktober), Bom
sekolah Australia, Jakarta (6 November), 2002; Bom malam Tahun Baru (1 Januari),
Bom Bali (12 Oktober) Bom Restoran McDonald's Makassar (5 Desember), 2003; Bom
Kompleks Mabes Polri, Jakarta (3 Februari) Bom Bandara Cengkareng, Jakarta (27
April), Bom JW Marriott (5 Agustus), 2004; Bom cafe, Palopo (10 Januari), Bom
Kedubes Australia (9 September), Bom Kedubes Indonesia, Paris (8 Oktober), Bom
di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah (12 Desember),2005; Dua Bom meledak di
Ambon (21 Maret), Bom Pamulang, Tangerang (8 Juni), Bom Bali (1 Oktober),
Pemboman Palu (31 Desember) (www.wikipedia.org) Maulin Nabi;
Moment Evaluasi Satu pertanyaan yang kita mesti ajukan sekaligus menjawabnya
secara bersama-sama bagi umat islam. Benarkan Muhammad mengajarkan perbuatan
keji tersebut? Adakah landasanya untuk tetap berbuat jahat terhadap agama, atau
keyakinan oralng lain? Sejatinya kehadiran Maulid Nabi yang jatuh pada 12 Rabiul
Awal (Sunni) dan 17 Rabiul Awal (Syiah) kita jadikan sebagai moment evaluasi
(muhasabah) secara bersama-sama. Pasalnya, Nabi Muhamad sangat menganjurkan
perbuatan arif dan bijaksana. Bukan hanya sekedar pergelaran rutinitas semata.
Semisal menggelar Tablig Akbar, perlombaan; busana muslim, kaligrafi, azdan,
makan (tumpeng). Tentunya, mengelurkan biaya yang tak begitu sedikit. Kendati,
asul-muasalnya kebiasaan merayakan Mauldd Nabi ini berasal dari Sultan
Salahuddin Yusuf Al-Ayubi (1174-1193 Masehi). Konon,
dipenghujung abad ke-11 Masehi, dunia Islam kewalahan menghadapi serangan
negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman dalam Perang Salib.
Hingga pasukan Barat (1099) akhirnya dapat merebut Jerussalem sekaligus mengubah
Masjidil Aqsa menjadi gereja. Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayubi yang berkuasa
1174-1193 Masehi (570-590 H) melihat kekalahan dunia Islam disebabkan oleh daya
juang kaum Muslimin yang semakin melemah. Maka, ditangan Salahuddinlah kelahiran
Nabi Muhammad SAW menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Pada mulanya, maulid
Nabi diperingati di wilayah Suriah Utara untuk membangkitkan kembali semangat
juang umat Islam. Ternyata, peringatan maulid ini berhasil membangkitkan gairah
jihad, sehingga kemudian diperluas pelaksanaan peringatannya di seluruh
kekuasaan Islam. Salahuddin
berasal dari Suku Kurdi. Semula Ia sempat mendapat tantangan dari para ulama
dalam rangka peringatan maulid sebagai sesuatu yang bid\'ah. Namun, ia
meyakinkan pemuka agama, peringatan maulid bukanlah ritual peribadatan semata,
melainkan spirit membangkitkan gairah dan semangat juang umat Islam. Sebagai
Khadimul Haramain (Pelayan kota suci Mekah dan Madinah), Salahuddin bahkan
selalu mengingatkan jemaah haji untuk merayakan maulid sesampainya di tanah air
masing-masing. (Pikiran Rakyat, 30/03) Belajar Toleransi Mencermati kelahiran
Muhammad sebagai pembawa risalah yang benar dengan cara santun dan sangat
menghargai kearifan lokal. Bukan dengan cara keji, memaksa hingga menghilangkan
nyawa orang lain. Tengoklah satu
peristiwa "ajaib" ini, saat Rasul pergi ke Mesjid untuk melakukan ibadah shalat,
di tengah-tengah perjalanan baginda selalu mendapatkan cacian, makian hingga
ludahan dari seorang agama non islam. Kala para sahabat marah atas peristiwa
biadab itu, Nabi malah berkata biarkanlah mungkin karena ia belum mengetahui
ajaran islam. Satu ketika Rasul dibutknya heran, karena sang peludah itu tak ada
di tempat. Usut-punya usut ia sakit keras. Apa yang terjadi saat nabi mengatahui
sang pengumpat sakit. Berangkatlah ia bersama sahabatnya untuk menengok orang
sakit tersebut. Walhasil, seorang non muslim itu masuk islam dan mengucapkan dua
kalimat sahadat petanda memeluk agama islam. Menyambut tahun
2008 sebagai tahun dialog antarumat beragama atau antarbudaya dengan modal sikap
keterbukaan dan tolerans. Mestinya kita menyambut baik prakarsa Parlemen dan
Dewan Uni Eropa di Brussels mendeklarasi tahun 2008 sebagai Tahun Dialog
Antarbudaya (intercultural dialogue) untuk Benua Eropa. Tidak tanggung-tanggung,
kepada Komisi Kebudayaan yang dipimpin J'n Figel diberi budget 10 juta euro
untuk kesuksesan Tahun Dialog Antarbudaya di benua malam Pasca-Pidato Regensburg
Sri Paus Benediktus XVI bulan September 2006. (Kompas, 26 Februari 2008) Dengan
demikian, upaya mendialogkan antarbudaya, antaragama mari kita awali dari
kalangan Islam yang tengah merayakan kelahiran Muhammad. Sikap keterbukaan,
toleran dan menghargai orang lain menjadi modal utama dalam menciptakan
persaudaraan yang damai dan pencitraan agama islam Indonesia yang ramah. Semoga.
*Penulis Pegiat
Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

