Artikel Umum
Menulis Petanda Orang Beradab
Penulis : Ibn Ghifarie
Saat
ngimpul bareng kawan-kawan Sunan Gunung Djati beberapa pekan lalu. Kala senja
mulai tertutupi oleh awan dan munculnya warna merah di ufuk barat petanda Sang
Raja Siang ingin 'berpamitan sejenak' kepada kita dalam rutinitas kesehariannya.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu pertanyaan yang dilontaskan oleh temenku 'Kenapa
banyak penulis brilian dari Sumatra atau paling tidak ada keturunan Minangnya
daripada Jawa, termasuk Sunda?' 'Seperti Buya Hamka, A Nafis, itu yang sudah
meninggal atau Buya Syafie dan Azra yang masih hidup!! Kata Pamali;Sumber
Ketidak Bebasan Berekspresi Aku hanya bisa menjawab 'Sejak awal mereka tidak
pernah mendapatkan larangan saat mengelurkan pendapat sekalipun berbeda dengan
orang tuanya' Coba liat dalam obrolan Nenek kepada Cucunya saat bertamasya ke
Kampung halamannya 'Saat ada yang bertanya Ari ujang kadieu sareng saha? [Bareng
siapa kesini] Naek pasawat terbang [Naik pesawat terbang], jawabnya Aduh teu
kenging nyarios kitu pamali. Pan ujang teh kadieu sareng Bapak naek mobil pan!!
[Jangan biang begitu. Kan cucu datang ke sini sama Bapak itu naik mobil bukan!]
Tegur Nenek. Disadari atau
pun tidak, kata-kata pamali inilah yang membuat daya fakir masyarakat Sunda
(maaf) sedikit tidak bebas. Imajinasi untuk menuliskan satu gagasan menjadi
terganjal. Berwatak Bebas, dan Tak Peodal Deretan pertanyaan sahabatku, terus
muncul sekaligus menuntut jawaban. Sampai-sampai saat mengikuti acara Seminar di
Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jum'at (29/02) dengan tajuk bertema
" Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media ". Nah, saat penjamuan makan siang
pula akhirnya pertanyaan serupa ku lontarkan juga pada kedua Narasumber; Wilson
Lalengke, Pimred HOKI dan Andreas Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi.
Menyoal kebanyakan penulis berasal dari masyarakat sekaligus keturunan
Minangkabau, Sumatra daripada Jawa atau Sunda Wilson Lalengke, Pimred HOKI
menjelaskan 'Mungkin saja karena budaya Jawa itu terlalu peodal dan
mangut-mangut terhadap orang tua atau yang kita tuakan, jelasnya Berbeda dengan
kami setiap anak saat saya masih kecil bebas untuk mengepresikan apa yang kita
rasakan, alami dan liat untuk ditulis', tambahnya. Selain itu,
kebiasaan merantau ke daerah lain untuk laki-laki dan jangan harap kembali bila
sebelum berhasil, baik dalam urusan materi maupun imateri, ujarnya.
Faktor-faktor inilah yang memicu terlahirnya ribuan penulis. Kendati besarnya
para penulis tidak di daerah aslnya. Melaikan setelah merantau ke Ibu Kota,
tegasnya. Hal senada juga diamini oleh Andreas Hirata, penulis 'Tertalogi Laskar
Pelangi' menuturkan liarnya imajinasi saat anak-anak menumbuh kembangkan gagasan
yang brilian 'Berbeda dengan kebiasaan masyarakat luar Sumarta, maaf terlalu
dikungkung oleh atauran-aturan yang kaku.' Tradisi inilah yang terus memicu anak
muda untuk terus berkarya sekeil apa pun, ungkapnya. Baca, Diskusi dan Merenung
Modal Menulis Kebiasaan tulis-menulis tak selamanya hadir tanpa sebab. Melainkan
harus dibina secara terus menerus supaya terlatiih. Banyaknya bacaan, seringnya
berdiskusi dan membiasakan diri untuk tetap menulis apa yang kita rasakan,
alami, lihat, tentu akan membuahkan tulisan yang renyah dibaca. Adakah waktu
tepat untuk menuliskan sesuatu? Menanggapi kehadiran ide-ide untuk membuat
tulisan di malam hari saat orang lain tertidur lelap. Sukron
Abdillah, tukang Bewara Sunan Gunung Djati menjelaskan 'Kalaulah tak segera
dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa ini seakan terus-menerus mengidap penyakit
"insomnia" di malam hari.' Bahkan ketika masalah tak pernah dituangkan dalam
sebuah teks, malam serasa siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu
dilingkari kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco--menulis
adalah sebuah kewajiban moral, kilahnya. Lebih berapiapi lagi Ia menuturkan 'Tanpa
adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak akan pernah lahir, hingga
pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya sesuatu yang "absurd".' Dari tesis
inilah, mungkin bisa juga aku katakan bahwa ketika menangkap ide dan
mengurungnya dalam sebuah tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses
meredakan kecemasan. Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya
ketika tidak menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku
diary. Memang menulis tidak muncul dalam kesendirian, tapi selalu terkait dengan
budaya membaca, diskusi dan merenung. Sejatinya kebiasaan menulis tak perlu
diembel-embeli dengan perasaan takut tak dibaca atau di terbitkan. Pramoedya
Ananta Toer mempunyai strategi jitu dalam menepis anggapan ini "Semua harus
ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting
tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna," Tentunya, menulis
merupakan pertanda orang-orang beradab. Lihat saja jargon dalam dunia Antropolog
(Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) 'Sebagaimana bahasa membedakan
manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari
manusia biadab (as languange distinguish hes man from animal, so wraiting dis
tinguister civilizen ma from barbarian). Mencoba mengikuti orang-orang berakhlak
mulia, maka tak ada car alain selain menulis, menulis dan menulis. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi, 1/03/08;00.34 wib
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

