Artikel Umum
Hardiknas Momentum Introspeksi bersama
Penulis : Ibn Ghifarie
Momentum Hari Pendidikan
Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2007 ini. Sejatinya, harus menjadi
modal dasar evaluasi sekaligus pencerahan bagi seluruh civitas akademika dan
pemerintahan yang memegang kebijakan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Hardiknas juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh
kualitas pendidikan nasional semenjak bangsa ini merdeka. Pasalnya, pendidikan
merupakan investasi masa depan. Kini, pendidikan mulai tak terkontrol lagi.
Bahkan cita-cita luhur memanusiawikan manusia pun raib tak tau dimana rimbanya.
Malahan Hardiknas kali ini masih dilingkupi rasa keprihatinan begitu mendalam
atas pelbagai kasus yang menggelayuti dunia pendidikan kita. Mulai kasus
minimnya pemerataan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang pendidikan,
kualitas pendidik, mengakarnya praktek tauran antar pelajar atau mahasiswa
sekaipun, mendarahdagingnya tradisi pembocoran lembar soal dan jawaban oleh
segelintir guru beserta kepala sekolah saat ujian nasional (UN) tiba demi ambisi
dan pencitraan sekolah, sampai terjadinya tindakan kekerasan yang menewaskan
salah satu praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bernama Cliff Muntu.
Sungguh mengerikan. Ironis
memang. Di tengah-tengat gencarnya upaya pemberantasan buta hurup, menggencarnya
wajib sekolah sembilan tahun dan tanpa dipungut biaya bagi kalangan tertentu.
Nyatanya, masih banyak lembaga pendidikan tertentu yang akrab dengan budaya
pungutan liar. Alih-alih peningkatan kualitas dan sebagai sekolah percontohan
tradisi lali itu kian terjadi. Padahal menuntut ilmu secara formal merupakan
sektor strategis dan kunci bagi bangsa ini untuk menapakan kaki ke arah
kehidupan bangsa yang lebih baik. Saking pentingnya sektor ini, Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945 kita pun telah mengaturnya sedemikian rupa. Hal ini termaktub
dalam pasal 31 UUD 1945 dengan mengamanatkan secara tegas, setiap warga negara
berhak memperoleh pendidikan; kewajiban warga negara mengikuti pendidikan dasar
dan kewajiban pemerintah membiayainya; penyelenggaraan sistem pendidikan
nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; hingga prioritas alokasi dana APBN
hingga 20%. Nyatanya, pesan agung UUD 1945
itu hanya menjadi selogan semata supaya tidak ditertawakan oleh negara-negara
lain. Terlebih lagi saat anak didik yang kurang mampu berkeinginan mengenyam
pendidikan lebih tinggi harus rela menggalkan perbuatan mulia tersebut. Sebab
pendidikan bermutu mahal ongkosnya. Maka wajar bila Eko Prasetio berujar 'Orang
miskin dilarang sekolah'. Lebih parahnya lagi, sang pendidik pun harus rela
pontang panting mencari kerja sampingan guna memenuhi dapurnya. Karena kebutuhan
tarap hidup semakin meroket. Termasuk guru honorer, yang masih belum jelas
nasibnya. Janji untuk mengangkat guru bantu tahun ini hanya isapan jempol
semata. Belum lagi kucuran dana sebesar 20% dari APBN masih menjadi wacana
elit-elit politik. Pengalokasian biaya operasional
pendidikan dari pusat ke daerah masih-masing masih sarat dengan kebiasaan tak
terpuji. Tentunya, dengan prinsip ABS (Asal Bapak Senang), sebab kalau tak
mengikuti tradisi akut itu jangan harap dana pendidikan akan sampai ke lembaga
penddikan. Terus, minimnya biaya penunjang pendidikan tersebut. Mencermati
persoalan pelik itu, tak ada cara lain guna menumbuh kembangkan budaya
baca-tulis pada masyarakat dan upaya peningkatan mutu pendidikan kita selain
menjadikan hari Hardiknas ini sebagai titik awal evaluasi secara menyeluruh.
Bukan saja, membincang kesejahtraan umar Bakri, kampanye tradisi baca-tulis, dan
pentingnya mengenyam pendidikan formal. Tapi lebih menyeluruh pada aspek
kehidupan nyata. Terkadang pendidikan malah hanya menjadikan anak didik cakap
dalam keilmuan. Namun, tak unggul dalam moral. Hal ini terlihat dari maraknya
budaya barbar dan preman dalam pendidikan kita. Dengan demikian, segala elemen
yang berkaitan dengan kualias pendidakan, mulai dari emosional, spiritual,
intelektual harus melekat dalam pribadi pendidik dan anak didik serta
pengambilan keputusan sistem pembelajaran. Nah, bila kehadiran Hardiknas tak
dapat membawa perubahan positif pada masyarakat Indonesia yang lebih baik dan
arif, maka wajar bila praktik belajar-mengajar secara jelas telah terkalahkan
oleh kekerasan. Carut-marutnya praktik lalim pun telah mencoreng dunia
pendidikan kita. Haruskah, kita tetap mempertahankan perayaan turun temurun itu?
Sudikah sistem pendidikan kita jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga?
[ ibn Ghifarie] Cag Rampes,
Pojok Sekre Kere, 01/05;14.37 WIB *Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat
UIN SGD Bandung dan Koordinator Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)
Bandung
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

