SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. MANG ILIKU
  2. untuk mamaku
  3. Juli
  4. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  5. Kangen III
  6. GURU
  7. Karena Ia adalah Guru
  8. SAJAK BAKTI: DOA-DOA MELIPUR
  9. Voila Pourquoi J'Aimais Maman
  10. TERIMAKASIH AYAH KU

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Hardiknas Momentum Introspeksi bersama
Penulis : Ibn Ghifarie

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2007 ini. Sejatinya, harus menjadi modal dasar evaluasi sekaligus pencerahan bagi seluruh civitas akademika dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hardiknas juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh kualitas pendidikan nasional semenjak bangsa ini merdeka. Pasalnya, pendidikan merupakan investasi masa depan. Kini, pendidikan mulai tak terkontrol lagi. Bahkan cita-cita luhur memanusiawikan manusia pun raib tak tau dimana rimbanya. Malahan Hardiknas kali ini masih dilingkupi rasa keprihatinan begitu mendalam atas pelbagai kasus yang menggelayuti dunia pendidikan kita. Mulai kasus minimnya pemerataan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang pendidikan, kualitas pendidik, mengakarnya praktek tauran antar pelajar atau mahasiswa sekaipun, mendarahdagingnya tradisi pembocoran lembar soal dan jawaban oleh segelintir guru beserta kepala sekolah saat ujian nasional (UN) tiba demi ambisi dan pencitraan sekolah, sampai terjadinya tindakan kekerasan yang menewaskan salah satu praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bernama Cliff Muntu.

Sungguh mengerikan. Ironis memang. Di tengah-tengat gencarnya upaya pemberantasan buta hurup, menggencarnya wajib sekolah sembilan tahun dan tanpa dipungut biaya bagi kalangan tertentu. Nyatanya, masih banyak lembaga pendidikan tertentu yang akrab dengan budaya pungutan liar. Alih-alih peningkatan kualitas dan sebagai sekolah percontohan tradisi lali itu kian terjadi. Padahal menuntut ilmu secara formal merupakan sektor strategis dan kunci bagi bangsa ini untuk menapakan kaki ke arah kehidupan bangsa yang lebih baik. Saking pentingnya sektor ini, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 kita pun telah mengaturnya sedemikian rupa. Hal ini termaktub dalam pasal 31 UUD 1945 dengan mengamanatkan secara tegas, setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan; kewajiban warga negara mengikuti pendidikan dasar dan kewajiban pemerintah membiayainya; penyelenggaraan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; hingga prioritas alokasi dana APBN hingga 20%.

Nyatanya, pesan agung UUD 1945 itu hanya menjadi selogan semata supaya tidak ditertawakan oleh negara-negara lain. Terlebih lagi saat anak didik yang kurang mampu berkeinginan mengenyam pendidikan lebih tinggi harus rela menggalkan perbuatan mulia tersebut. Sebab pendidikan bermutu mahal ongkosnya. Maka wajar bila Eko Prasetio berujar 'Orang miskin dilarang sekolah'. Lebih parahnya lagi, sang pendidik pun harus rela pontang panting mencari kerja sampingan guna memenuhi dapurnya. Karena kebutuhan tarap hidup semakin meroket. Termasuk guru honorer, yang masih belum jelas nasibnya. Janji untuk mengangkat guru bantu tahun ini hanya isapan jempol semata. Belum lagi kucuran dana sebesar 20% dari APBN masih menjadi wacana elit-elit politik.

Pengalokasian biaya operasional pendidikan dari pusat ke daerah masih-masing masih sarat dengan kebiasaan tak terpuji. Tentunya, dengan prinsip ABS (Asal Bapak Senang), sebab kalau tak mengikuti tradisi akut itu jangan harap dana pendidikan akan sampai ke lembaga penddikan. Terus, minimnya biaya penunjang pendidikan tersebut. Mencermati persoalan pelik itu, tak ada cara lain guna menumbuh kembangkan budaya baca-tulis pada masyarakat dan upaya peningkatan mutu pendidikan kita selain menjadikan hari Hardiknas ini sebagai titik awal evaluasi secara menyeluruh. Bukan saja, membincang kesejahtraan umar Bakri, kampanye tradisi baca-tulis, dan pentingnya mengenyam pendidikan formal. Tapi lebih menyeluruh pada aspek kehidupan nyata. Terkadang pendidikan malah hanya menjadikan anak didik cakap dalam keilmuan. Namun, tak unggul dalam moral. Hal ini terlihat dari maraknya budaya barbar dan preman dalam pendidikan kita.

Dengan demikian, segala elemen yang berkaitan dengan kualias pendidakan, mulai dari emosional, spiritual, intelektual harus melekat dalam pribadi pendidik dan anak didik serta pengambilan keputusan sistem pembelajaran. Nah, bila kehadiran Hardiknas tak dapat membawa perubahan positif pada masyarakat Indonesia yang lebih baik dan arif, maka wajar bila praktik belajar-mengajar secara jelas telah terkalahkan oleh kekerasan. Carut-marutnya praktik lalim pun telah mencoreng dunia pendidikan kita. Haruskah, kita tetap mempertahankan perayaan turun temurun itu? Sudikah sistem pendidikan kita jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga?

[ ibn Ghifarie] Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 01/05;14.37 WIB *Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat UIN SGD Bandung dan Koordinator Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller