Artikel Umum
Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa
Penulis : Ibn Ghifarie
Maraknya
aksi bentrokan antar mahasiswa di pelbagai Kampus, membuat sebagian masyarakat
tertentu mencibir peranan kaum pelajar. Betapa tidak, di tengah-tengah
keterpurukan bangsa dan meroketnya biaya penididikan. Kini, hampir setiap hari
golongan intelek acapkali berbuat ganjil, mulai dari aksi rusuh, tawuran,
kekerasan fisik, penjualan narkoba, seks bebas, aborsi sampai tradisi
menghilangkan nyawa orang lain. Selogan wajib menempuh pendidikan sembilan tahun
hanya selogan semata. Pasalnya, menuntut ilmu tak bisa menciptakan manusia
seutuhnya dengan budi pekerti yang arif. Malah mencetak anak didik berwatak
barbar. Ironis memang. Tak hanya itu, jargon mahasiswa sebagai agen pengubah
sosial, pembaharu, kontroling terhadap kebijakan pemerintah, mendobrak kemapanan
dan panutan dalam soal moral ikut punah seiring derasnya arus baku hantam di
kalangan kaum pelajar. Seolah-olah melekatnya status mahasiswa tak berbanding
lurus dengan kebiasaan tak terpuji saat siswa. Adalah budaya tawuran dan adu
fisik dalam menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapainya.
Terlebih lagi saat
pencitraan sekolah sudah diinjak-injak oleh sekolah lain. Walhasil, perang
menjadi jurus pamungkas yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Catatan Kelam
Bentrokan Mahasiswa Tengok saja, kekerasan yang terjadi di IPDN dengan
meninggalnya Wahyu Hidayat (2003) dan Chliff Muntu, UISU (Universitas Islam
Sumatra Utara), Medan (09/10) akibat perseteruan dua kubu antara Helmi Nasution
dan Saryani, Bentrokan terjadi di IAIN Ambon, (11/5) gara-gara tolak ajak demo,
Universitas 45 Makasar Sulawesi Selatan (10/05 dan 14/05) antara mahasiswa
Jurusan Planologi dan Teknik Sipil serta arsitektur Fakultas Teknik kisruh dari
aksi ditikamnya (Syamsuddin dan Saleh) rekannya dari jurusan Teknik Sipil.
Hingga berbuntut aksi lempar batu yang dimulai oleh para mahasiswa jurusan
Planologi sebagai aksi balas dendam bentrokan, Kamis sore (10/5). Padahal, ada
beberapa perguruan tinggi yang tak luput dari perbuatan lalim tersebut. Sebut
saja, Unhas (Universitas Hasanauddin), Makasar dan UMI (Universitas Muslim
Indonesia) Makasar. Hampir setiap tahunya selalu kedapatan tawuran antar jurusan,
fakultas, Universitas atau dengan pihak keamanan. Sebagai pertanda maraknya
aksi Bentrokan Mahasiswa UMI vs Aparat Keamanan, memang diakui atau tidak
bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan aparat
keamanan (Sabtu, 01 Mei 2004) bukanlah yang
pertama, tapi memiliki sejarah yang amat
panjang dan kelam. Namun, kasus Mei itu, tergolong yang paling parah semenjak
1996. Pertama, 24 April 1996 Terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat.
Aparat sempat menyerbu ke dalam kampus UMI. Tiga mahasiswa UMI tewas dan puluhan
mahasiswa serta aparat luka-luka. Peristiwa ini dipicu oleh penolakan mahasiswa
terhadap kenaikan tarif angkutan kota. Peristiwa itu dikenal dengan nama Amarah
atau April Makassar Berdarah yang diperingati setiap tahun dan disebut-sebut
sebagai peringatan atas kebrutalan polisi dan militer.
Kedua, 1998 Hampir
sepanjang 1998 aksi mahasiswa UMI nyaris semuanya berakhir dengan bentrokan
versus polisi. Militansi mahasiswa harus berhadapan dengan ketegasan Kepala
Poltabes Yusuf Manggabarani. Ketiga,
September 2000 Mahasiswa UMI beraksi menolak masuknya beras impor ke Sulawesi
Selatan. Dua mahasiswa UMI disel, yaitu Surya dan almarhum Nasrullah. Bentrokan
bermula di gedung DPRD Sulsel dan merembet ke depan kampus UMI di Jalan Urip
Soemoharjo. Keempat,
Juni 2001 Mahasiswa menuntut penghapusan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan
Keadaan Bahaya. Mahasiswa UMI unjuk rasa di DPRD. Mahasiswa sempat diburu anjing
milik aparat dan disiram gas air mata. Kelima,
18 Februari 2004 Mahasiswa bentrok dengan aparat karena memprotes Mahkamah Agung
yang memvonis bebas Akbar Tandjung. Mahasiswa ngotot menutup jalan, sementara
aparat perintis berkeras membuka jalur jalan. Aparat sempat menerobos ke dalam
kampus. Tiga mahasiswa ditangkap dan sebuah sepeda motor milik mahasiswa rusak.
Keenam, 1 Mei
2004 Polisi menyerbu ke dalam kampus UMI. Akibatnya, puluhan mahasiswa luka-luka
dan di rawat di rumah sakit. Kasus ini menyebabkan Kapolda Sulses Irjen Pol.
Jusuf Manggabarani dicopot dan polisi menuai kecaman dari banyak kalangan. (www.tempointeraktif.com)
Lagi Makasar, berdarah di Kampus Unhas antara Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sekadar mengingatkan,
perkelahian mahasiswa yang berbuntut pembakaran kampus di Unhas pernah terjadi
pada 1992 lalu. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai \'Black September\' dari
tahun 2003-2005. Pertama,
12 Desember 2003 Bentrokan antar mahasiswa di Kampus Unhas antara Fakultas
Teknik (FT) dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Akibatnya, tujuh
korban luka. Lima korban di antaranya berasal dari FISIP dan dua lainnya dari
Fakultas Teknik. Kedua,
14 Desember 2003 Tujuh mahasiswa dan seorang satuan pengaman (Satpam) luka parah
menyusul bentrokan antar mahasiswa di Unhas. Rektorat terpaksa membatalkan
pelaksanaan ujian akhir. Sebab, tawuran melibatkan hampir sebagian besar
mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Ketiga, 14
April 2004 Tawuran terjadi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (FISIP). Karena tawuran ini, Albertu, Mahasiswa Fakultas Teknik,
Jurusan Arsitektur tertikam di punggung sebelah kirinya dan dilarikan ke RS
Wahidin Sudirohusodo. Keempat,
16 Desember 2004 Dua kelompok mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di kampus
Unhas Tamalanrea bentrok, sekitar 14.00 Wita. Akibatnya, empat orang mahasiswa
dikabarkan mengalami luka ringan akibat terkena lemparan saat terjadi tawuran.
Dua di antaranya adalah mahasiswa FISIP dan lainnya adalah mahasiswa Fakultas
Teknik. Kelima,
31 Agustus 2005 Terjadi tawuran antar fakultas di Unhas masing-masing FISIP dan
Teknik, 31 Agustus 2005 di Pelataran Baruga Unhas. Pelaku penyerangan melakukan
pembakaran dan menghanguskan empat ruangan lembaga kemahasiswaan di fakultas
tersebut. Dalam aksi tawuran tiga korban dilarikan ke RS Wahidin. (www.fajar.co.id)
Di penghujung tahun 2006, peristiwa serupa pun terjadi di IKIP Institut Keguruan
dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram, Nusatenggara Barat, pada Selasa (22/8/06)
siang, mengakibatkan seorang mahasiswa, M. Ridwan (21) asal Lombok Timur,
meninggal dunia. Ridwan meninggal dengan luka tusuk di bagian dada sebelah kanan
dan di bawah ketiak kanan. Ridwan, mahasiswa semester V Fakultas MIPA jurusan
Kimia, meninggal sekitar pukul 19.45 Wita setelah menjalani perawatan di ruang
ICU RSU Mataram. Sementara tiga mahasiswa lainnya masing-masing Zainal Mutakin,
Heru dan Asmani mengalami luka-luka. Aksi pemblokiran jalan di
depan Kampus Universitas Cendrawasih Abepura (16/03/06) oleh masyarakat dan
mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota
Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang Brimob dan 1
intelijen TNI AU tewas, seorang ibu mengalami luka tembak, serta puluhan lainnya
dari pihak mahasiswa dan pihak aparat mengalami luka-luka. (www.jakarta.indymedia.org)
Tertutupnya Ruang Dialog Mencermati ketidakberdayaan sekaligus tumpulnya akal
dalam menuntaskan segala persoalan dengan arif, bukan memakai kekerasan.
Sejatinya kita, harus mengamini pernyataan Arif Rahman, pakar pendidikan menilai
perlakuan tak wajar itu hadir karena lunturnya budaya toleran, dan tertutupnya
ruang dialog dalam menyelesaikan permasalahan. Menjamurnya bentrokan antar
mahasiswa bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi
sudah termasuk pada kategori premanistik. Cita-cita mulia pendidikan
sebagai upaya memanusiakan manis pun harus rela raib ditelan kepongkahan dan
keserakahan kita dalam mendidik anak. Apalagi, sang pendidik memberikan contoh
tak layak. Seperti yang terjadi di Ngawi, seorang Kepala Sekolah rela
membocorkan lembaran jawaban saat Ujian Nasional beberapa pekan yang lalu.
Alih-alih pencitraan supaya sekolahnya termasuk ke dalam deretan sekolah
unggulan dan percontohan pula menjadi pemicu aksi tak beradab tersebut. Lebih
parah lagi, melunturnya budaya dialog tercermin dari seberapa jauh kita bisa
menerima perbedaan dalam soal pendapat. Bila ruang-ruang tukar gagasan saja,
sudah tak nyaman, bahkan hilang, maka tunggu keseragaman ide akan menjadi
buahnya. Alhasil, kebiasaan bogem pula akan terus melekat dalam sanubari kaum
terpelajar. Keragaman merupakan sesuatu yang tak bisa kita nafikan. Namun, harus
kita junjung lebih tinggi. Pasalnya, kemajemukan pertanda hukum alam. Dengan
demikian, kita harus mencoba mengarifi segala kemelut yang menimpa diri kita
dengan lapang dada. Apalagi saat berselisih pendapat. Mestinya perbedaan bukan
dijadikan sebagai laknat, tapi rahmat. Thus, sederetan rapot merah mahasiswa pun
tak akan disandang lagi oleh kaum terpelajar. [Ibn Ghifarie] Cag Rampes,
Pojok Sekre Kere, 10/05; 23.34 WIB *Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas
Filsafat UIN SGD Bandung dan Koordinator Post Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman
(LPIK) Bandung.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

