Artikel Umum
Waisak Bagi Bangsa
Penulis : Ibn Ghifarie
Momentum Hari Suci Waisak
yang jatuh pada 20 Mei 2008 ini dan bertepatan dengan lahirnya Hari Kebangkitan
Bangsa yang menginjak 1 abad (1908-2008). Sejatinya, Waisak harus menjadi modal
dasar evaluasi sekaligus semangat toleransi dan pencerahan bagi seluruh dialog
antariman dan pemerintahan yang memegang kebijakan dalam kebebasan beragama di
Indonesia.
Waisak juga mesti dijadikan barometer sebagai ajang refleksi seberapa jauh
kualitas kita dalam menghargai perbedaan (Suku, Agama, Ras, Budaya) semenjak
bangsa ini merdeka.
Pasalnya, dialog antaragama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat
yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang
yang memerdekana kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati
dialog antariman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan
membiarkan pemeluk agama lain 'ada' (ko-eksistensi), melainkan juga
berpartisipasi secara aktif meng-'ada'-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi).
(Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).
Tentunya, dialog ini tak sekedar mengantarkan pada sikap bahwa setiap agama
berhak untuk bereksistensi secara bersama-sama. Pun wajib mengakui dan mendukung
-bukan berarti menyamakan--eksistensi semua agama. Barangkali inilah yang
dimaksudkan oleh Raimundo Panikkar dengan istilah dialog intra-religius. Yaitu
yang tak hanya menuntut suatu sikap inklusif, tapi harus tumbuh berkembangnya
sikap paralelisme, dengan mengakui bahwa agama merupakan jalan-jalan yang
sejajar.
Kini, silang pendapat dalam soal berkeyakinan mulai terlupakan. Hingga berujung
jadi petaka pada pengahncuran tempat ibadah, penyiksaan kepada anak-anak,
ibu-ibu dan para lansia. Model pembunuhan satu aliran tertentu yang berbeda
penafsiran [keimanan] dengan halayak banyak pun menjadi jurus pamungkas dalam
menyelesaikan persoalan.
Tengeoklah, perseteruan internal pemeluk ajaran islam antara Jemaat Ahmadiyah
Indonesia (JAI) dengan Majelis Ulama Islam (MUI) pascapengeluaran 11 Fatwa
(2005). Hingga dikeluarkanya SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Mentri (Mentri
Agama, Dalam Negeri dan Jaksa Agung) tentang pelarangan jamaah Ahmadiyah
pascapelaporan hasil investigasi Bakor Pakem (Badan Kordinasi Pengawas Aliran
Kepercayaan Masyarakat) beberapa pekan yang lalu.
Pesan Suci Waisak
Marik kita mencoba belajar dari agama dan pemahaman orang lain. Salah satunya
ajaran Buddhisme--yang tengah merayakan upacara Vesakha Punnami Puja untuk
merayakannya dan tujuh hari setelahnya mengadakan Vesakha Atthami Puja untuk
memperingati diperabukannya Buddha Gautama.
Tibanya Hari Raya Waisak tiba, mengingatkan kita kepada tiga peristiwa luar
biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran
calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha,
serta wafat Buddha atau Parinibbana.
Konon, peristiwa maha agung itu terjadi pada hari purnama sidi di bulan Waisak
lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lampau. Tahun 623 S.M. Bodhisatta
Siddhattha lahir di Taman Lumbini, India Utara; tiga puluh lima tahun kemudian
beliau mencapai Pencerahan Sempurna sebagai Buddha, dan akhirnya Buddha Gotama
mangkat pada tahun 543 S.M. Tahun ini Hari Raya Waisak 2552 jatuh pada tanggal
20 Mei 2008.
Peringatan Waisak 2008 dalam kontek Indonesia Sangha Theravada Indonesia
bertajuk "Kehadiran Buddha sebagai Sumber Kebangkitan Moral dan Semangat Mawas
Diri" demikian tulis Jotidhammo Mahathera, Ketua Umum (Sanghanayaka)
Kehadiran hari raya Waisak tak sekedar mengingat 3 kejadian dahsat, tapi harus
mencoba membangkitkan sosok Sang Buddha di tengah-tengah kehidupan ini. Juga tak
berlalu begitu saja, sebab Guru Agung Buddha telah mewariskan Dhamma ajaran
Kebenaran yang sampai dengan saat ini masih dijadikan sebagai "jalan hidup" bagi
umat Buddha seluruh dunia.
Umat Buddhis masih meyakini tentang Kebenaran Dhamma dapat menuntun hidupnya
menjadi lebih baik, lebih bijak, dan tentu lebih berbahagia. Jalan hidup Dhamma
yang diajarkan oleh Buddha mengutamakan moral [sila] sebagai landasan bagi
penerapan Kebenaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua aspek ini diharapkan saling melengkapi. Pasalnya moral tanpa kebenaran
Dhamma hanya menjadi norma-norma formalitas belaka tanpa dasar dan arah tujuan
jelas, ataupun sebaliknya kebenaran Dhamma tanpa moral hanyalah berupa wacana
filosofis semata yang tidak menunjukkan bagaimana penerapan ajaran Kebenaran itu
dalam kehidupan sehari-hari (www.samaggi-phala.or.id)
Kebangkitan Bangsa
Jelang 100 tahun nasionalisme bangsa dari pelbagai keterpurukan dan ketidak
berdayaan negara dalam mengatasi keterbelakangan pendidikan, kemiskinan dan
kebebasan beragama.
Sejatinya perayaan Waisak dapat memberikan 'energi lain' dalam menyongsong 1
abad kebangkitan Indonesia. Bila dalam upacara suci di kenal 3 kejadian agung
(Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, dan
Parinibbana), maka dalam kontek keindonesiaan terlahirnya seorang pemimpin yang
dapat mengelurkan kita dari pelbagai krisis yang tak kunjung selesai ini
sangatlah kita haratpan sekaligus menuntut hadir. Bukan malah sebaliknya. Yakni
membawa bumi pertiwi ini kelubang kelam penderitaan yang tiada berakhir.
Pendek kata, lahir, tercerahkan dan meninggal merupakan sumbangan berharga
waisak buat Bangsa.
Runutan proses sekaligus estafeta Sang Buddha menjadi tahapan yang tak bisa
dibantah lagai. Kiranya, kita mengikutinya alur Sidhartha Gautama dari kematian,
terlahir dan tercerahkan, maka tunggulah kehancuran bumi nusantara ini.
Inilah makna terdalam waisak bagi kebangkitan bangsa. Sepenggal puisi Chairil
Anwar 'Sekali berarti, setelah itu mati' pun layaknya kita dengungkan terus.
Semoga apa yang diungkapkan Rizal Mallarangeng
ilmuwan politik, Chairil Anwar tidak berbicara tentang kematian. Dengan kalimat
tersebut, ia justru bicara tentang kehidupan, tentang esensi membangun,
mencipta. Chairil Anwar memang mati muda, namun semangatnya tetap hidup
sepanjang masa. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Indonesia. Selamat
Hari Raya Waisak 2552/2008. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semoga semua mahkluk
berbahagia.
*Penulis adalah Pegiat
Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

