SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. MANG ILIKU
  2. untuk mamaku
  3. Juli
  4. 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
  5. Kangen III
  6. GURU
  7. Karena Ia adalah Guru
  8. SAJAK BAKTI: DOA-DOA MELIPUR
  9. Voila Pourquoi J'Aimais Maman
  10. TERIMAKASIH AYAH KU

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Artikel Umum

Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama
Penulis : Ibn Ghifarie

Jelang partai final UERO 2008 di Vienna, Austria yang bertempat di Stadion Vienna-Ernst Happel, 29 Juni 2008 dengan menghadirkan; Wasit: Roberto Rosetti; Hakim Garis: Alessandro Griselli, Paolo Calcagno (semuanya dari Italia); Petugas Keempat: Peter Frojdfeldt (Swedia), demikian Reuters. Hooliganisme pun mewarnai gegap gempita Piala Eropa yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Seakan-akan tak lajim rasanya bila suporter kesebelasan berdandan rapih. Pakaian mereka pula aneh-aneh. Kaus bermotif bendera negaranya atau lambang klub kesebelasannya. Aksesori yang digunakan juga bermacam-macam. Ada emblem klub, kota, atau negara. Malah tulang belulang atau rantai ikut digantungkan di leher. Kepalanya ada yang botak plontos. Sekujur tubuhnya penuh dengan tato. Sepintas, jika melihat mereka--dalam keadaan biasa dan bernyanyi bersama-memang lucu kelihatannya. Inilah hooliganisme mewabah dunia.

Orang rela membunuh waktu karena karena menggilai permainan kulit bundar. Di sana ada ketulusan dan keringanan. Benarkah ajang sepak bola menjelma menjadi 'agama baru' di era moderen dan serba digital ini? Lantas apa jadinya bila agama tak bisa memberikan kenyamanan bagi para pemeluknya? Sepak bola memang mampu menghipnotis penduduk bumi. Orang merasa asyik bila bicara pelbagai hal terkait sepak bola. Tua-muda, kaya-miskin, laki-laki-perempuan ikut memeriahkan perhelatan akbar ini. Media Pemersatu Di tengah-tengah kisruh beda pendapat sekaligus penertiban keyakinan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pasca Tragedi Monas (1 Juni 2008) yang berujung pada pengeluaran Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa bernomor 3/2008, Nomor Kep-033/A/JA/6/2008 dan Nomor 199 tahun 2008, tanggal 9 Juni 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat telah dikeluarkan. Namun kontroversi tentang SKB tetap mengendap bagai api dalam sekam.

Demam sepak bola Piala Eropa ini dapat 'menunda sejenak' segala persoalan kebangsaan dan keagamaam. Mulai dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang meroket tinggi, Kasus pembunuhan Munir, pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) yang tak kunjung usai, Kebrutalan kaum Pelajar yang tak pernah selesai, Kebocoran UN yang sudah mendarah daging, Aksi mahasiswa yang berujung bentrok, sampai pengrusakan tempat ibadah yang tak pernah habis. Pasalnya, sepak bola telah mempertemukan akan manusia dari pelbagai penjuru dunia. "Bola sebagai media egaliter dan media persatu," kilah Hery Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola Soccer. Lebih jauh, Ia menuturkan, "Sepak bola ligai sukses daripada serangkaian Konfrensi-konfrensi yang dilakukan untuk menyatukan seluluh umat di dunia. Di sini tidak ada lagi sekat entis, suku agama maupun warna kulit," jelasnya.

Di sadari atau tidak, perebutan kulit bundar di lapangan hijau ini perlahan-lahan namun pasti telah berubah menjadi agama tersendiri. Tengok saja, masyarakat Argentina dan Brazil, mereka menikmati religiusitasnya saat [berada] di lapangan sepak bola. Melihat antusis masyarakat yang begitu mengutamakan persepak bolaan. Seorang pendeta di sebuah kuil Budha di Thailand berkomentar "Sepak bola telah menjadi agama dan memiliki pengikut jutaan banyak." Uniknya lagi, di Kuil itu, tahun 2000 silam, teronggok sebuah patung David Beckam, Kapten kesebelasan inggris. Ya, sepak bola telah menyihir dunia keberagamaan. (Majalah Syirah Juni 2006) Nah, bila perbuatan ini yang kerap terjadi, maka wajar jika agama formal mulai sedikit dilupakan. Apalagi agama sejauh ini hanya menekankan aspek teologi dan fiqh semata.

Agama kurang memberi apresiasi estetik, ekspresi keringanan. Kalau aspek agama hanya menekankan aspek serius pada kalam dan syariat. Sementara manusia condong memilih kebahagiaan dengan cara sendirinya, maka secara tak disadari ia akan berusaha mencari ruang lain. Adalah dengan menenggelamkan segala aktivitas keseharianya dalam tontonan UERO 2008. Jika perilaku umat beragama telah sampai pada titik ini, maka sepak bola telah beralih menjadi sindiran terhadap agama, demikian dikatakan Yudi latif, Direktur Eksekutif Reform Institute. Menanggapi soal kecenderungan sepak bola bisa menandingi agama, masih menurut Hery "Sepak bola memang cenderung seperti agama baru. Tontonan yang menjadi tuntunan." Pola hidup urang, kata Hery sangat dipengaruhi oleh tontonan sepak bola, terutama di negara Eropa. Dengan demikian, telah terjadi krisis ketuhanan. Setiap manusia akan mempunya naluri anti ketuhanan. Ada yang dipuja, didewakan. Kala agama tak bisa menjawab problematika itu mereka akan mencari pemujaan lain, biasanya artis atau pemain sepak bola. Kendati, terdapat perbedaan mendasar antar sepak bola sebagai 'agama' dengan agama sesunguhnya.

Paling tidak satu pemahaman dikatakan agama harus memiliki standar; Tuhan, Nabi, Kitab, Ritual dan Umat. Namun, saat persepak bolaan berhasil memasuki segala aspek kehidupan masyarakat. Di sinilah kekuatan agama baru hadir. Sportifitas Menilik ketidakharmonisan antaragama. Mestinya kita menengok kembali falsafah sepak bola yang mulai terlupakan. Pasalnya, tanpa pandangan itu kita niscaya akan hidup rukun, tentram, damai dan sejahtera pada satu bangsa. Adalah sportifitas. Tak berlebihan memang bila kita terus mendengungkan pameo tersebut. Sikap adil sekaligus jujur terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Kalau tidak spotrtif jangan masuk dunia sepak bola. Sportifitas tak hanya dituntut dari pemain tapi wasit, juri, dan penontonya pula. Masing-masing menjadi saksi juga terdakwa sekaligus. Kesalahan yang dilakukan pendukung sebuah klub sepak bola bisa mengakibatkan klubnya dijatuhi sanksi.

Pemain yang begitu kasar akan dihadiahi kartu merah dan diharuskan keluar lapangan dengan tunduk lesu dan malu. (www.syirah.com) Mencermati dunia bola di tanah Air. Rasanya tak berhasil bila tidak tauran antar pendukung kesebelasan. Adu jotos antarpemain. Memihak terhadap klub tertentu oleh sang wasit. Pun penggelapan dana sepak bola. Hingga terjadinya swastanisasi terhadap olah raga ini. Mengerikan memang. Bisa jadi kebrutalan baik dilapangan ataupun diluar gedung saat dan [akan] dimulai pertujukan berawal dari konflik antar elit pemuka agama yang tak kunjung selesai. Sejatinya, tokoh-tokoh agama kita mengikuti jejak langkah yang dilakukan oleh negara Jerman, dua tahun silam. Dalam rangka festival dan konser bertajuk "Kick-off 2006 Kick-off faith" Gereja Berlin, Gereja Brandenbourg dan Gereja Berlin-Wilmersdorf menggelar sepak bola antara Imam Mesjid melawan para Pendeta dan yang menjadi hakim garisnya dari orang Yahudi.

Jadi dalam pertandingan ini melibatkan tiga kelompok agama. "Kami telah mengusahakan sejak lama pertandingan semacam itu guna memperkuat hubungan antartiga aliran agama; Islam, Kristen dan Yahudi," kata Imam Taha, kapten tim muslim Meski pertandingan diakhiri skor telak 12:1. 12 untuk pendeta dan 1 bagi Imam Mesjid. Kekalahan tak terjadi memicu keributan antaragama tersebut. Malahan saat usai pertandingan, mereka berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan pemeluknya masing-masing. Kali pertama, dalam sejarah kerukunan antarumat beragama di jerman sepak bola beda keyakinan diselenggarakan. Dengan sepak bola, pihak penyelenggara berusaha mempromosikan toleransi dan persatuan antarumat. Toleransi itu digalakan di Jerman mengingat sekitar 3% dari 82 Juta penduduk beragama muslim dan 0,1% agama Yahudi. Sikap keterbukaan melalui perlombaan sepak bola antariman ini diamini oleh menteri Dalam Negeri Jerman, Wolfgang Schaeble seperti yang dilansir islamonline. "Sepak bola dengan kepopuleran dan daya tariknya bisa memperkaya lingkungan dan juga mematahkan sekat-sekat yang ada. Dan sekarang posisinya sebagai garis terdepan untuk mempraktikkan interrasi dan melawan rasisme" ungkapnya. Kiranya, petuah "Ajarilah anak-anakmu dengan keterampilan renang, panahan dan pacu kuda-termasuk sepak bola" telah dipraktikan oleh bangsa Eropa dengan ajang EURO 2008. Dengan demikian, sikap sportifitas, keterbukaan, toleransi dan menghargai keragaman menjadi pesan utama dari EURO 2008. Apalagi saat menyambut final Piala Eropa. Semoga.

*IBN GHIFARIE Penulis adalah Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama


Artikel Lainnya

  1. Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
  2. Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
  3. SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
  4. Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
  5. Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
  6. Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
  7. Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
  8. Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
  9. Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
  10. Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
  11. Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
  12. Pemanasan Global 25/01/08
  13. Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
  14. Menunda Keinginan 12/11/07
  15. hari yang menyenangkan 05/11/07
  16. Tahukah Kamu 01/11/07
  17. Kesetiaan 24/10/07
  18. MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
  19. SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
  20. YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
  21. Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
  22. Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
  23. Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
  24. Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
  25. Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
  26. Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
  27. Nilai = Uang 27/06/07
  28. Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
  29. Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
  30. (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
  31. MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
  32. ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
  33. Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
  34. Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
  35. Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
  36. Burung 09/02/07
  37. Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
  38. Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
  39. Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
  40. Sastrawan Tanggung 12/01/07
  41. KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
  42. Pahlawan Rakyat 23/12/06
  43. Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
  44. B E R I T A 12/12/06
  45. Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
  46. Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
  47. Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
  48. Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
  49. Mengharap Berkah Langit 03/12/06
  50. Ketika Kesenangan Datang 03/12/06
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller