Artikel Umum
Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama
Penulis : Ibn Ghifarie
Jelang partai final UERO
2008 di Vienna, Austria yang bertempat di Stadion Vienna-Ernst Happel, 29
Juni 2008 dengan menghadirkan; Wasit: Roberto Rosetti; Hakim Garis: Alessandro
Griselli, Paolo Calcagno (semuanya dari Italia); Petugas Keempat: Peter
Frojdfeldt (Swedia), demikian Reuters. Hooliganisme pun mewarnai gegap gempita
Piala Eropa yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Seakan-akan tak lajim rasanya bila
suporter kesebelasan berdandan rapih. Pakaian mereka pula aneh-aneh. Kaus
bermotif bendera negaranya atau lambang klub kesebelasannya. Aksesori yang
digunakan juga bermacam-macam. Ada emblem klub, kota, atau negara. Malah tulang
belulang atau rantai ikut digantungkan di leher. Kepalanya ada yang botak
plontos. Sekujur tubuhnya penuh dengan tato. Sepintas, jika melihat
mereka--dalam keadaan biasa dan bernyanyi bersama-memang lucu kelihatannya.
Inilah hooliganisme mewabah dunia. Orang rela membunuh waktu
karena karena menggilai permainan kulit bundar. Di sana ada ketulusan dan
keringanan. Benarkah ajang sepak bola menjelma menjadi 'agama baru' di era
moderen dan serba digital ini? Lantas apa jadinya bila agama tak bisa memberikan
kenyamanan bagi para pemeluknya? Sepak bola memang mampu menghipnotis penduduk
bumi. Orang merasa asyik bila bicara pelbagai hal terkait sepak bola. Tua-muda,
kaya-miskin, laki-laki-perempuan ikut memeriahkan perhelatan akbar ini. Media
Pemersatu Di tengah-tengah kisruh beda pendapat sekaligus penertiban keyakinan
antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
dan Berkeyakinan (AKKBB) pasca Tragedi Monas (1 Juni 2008) yang berujung pada
pengeluaran Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri
dan Jaksa bernomor 3/2008, Nomor Kep-033/A/JA/6/2008 dan Nomor 199 tahun 2008,
tanggal 9 Juni 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota,
dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat telah
dikeluarkan. Namun kontroversi tentang SKB tetap mengendap bagai api dalam
sekam. Demam sepak bola Piala Eropa
ini dapat 'menunda sejenak' segala persoalan kebangsaan dan keagamaam. Mulai
dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang meroket tinggi, Kasus pembunuhan
Munir, pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) yang tak kunjung usai, Kebrutalan kaum
Pelajar yang tak pernah selesai, Kebocoran UN yang sudah mendarah daging, Aksi
mahasiswa yang berujung bentrok, sampai pengrusakan tempat ibadah yang tak
pernah habis. Pasalnya, sepak bola telah mempertemukan akan manusia dari
pelbagai penjuru dunia. "Bola sebagai media egaliter dan media persatu," kilah
Hery Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola Soccer. Lebih jauh, Ia menuturkan, "Sepak
bola ligai sukses daripada serangkaian Konfrensi-konfrensi yang dilakukan untuk
menyatukan seluluh umat di dunia. Di sini tidak ada lagi sekat entis, suku agama
maupun warna kulit," jelasnya. Di sadari atau tidak, perebutan
kulit bundar di lapangan hijau ini perlahan-lahan namun pasti telah berubah
menjadi agama tersendiri. Tengok saja, masyarakat Argentina dan Brazil, mereka
menikmati religiusitasnya saat [berada] di lapangan sepak bola. Melihat antusis
masyarakat yang begitu mengutamakan persepak bolaan. Seorang pendeta di sebuah
kuil Budha di Thailand berkomentar "Sepak bola telah menjadi agama dan memiliki
pengikut jutaan banyak." Uniknya lagi, di Kuil itu, tahun 2000 silam, teronggok
sebuah patung David Beckam, Kapten kesebelasan inggris. Ya, sepak bola telah
menyihir dunia keberagamaan. (Majalah Syirah Juni 2006) Nah, bila perbuatan ini
yang kerap terjadi, maka wajar jika agama formal mulai sedikit dilupakan.
Apalagi agama sejauh ini hanya menekankan aspek teologi dan fiqh semata.
Agama kurang memberi apresiasi
estetik, ekspresi keringanan. Kalau aspek agama hanya menekankan aspek serius
pada kalam dan syariat. Sementara manusia condong memilih kebahagiaan dengan
cara sendirinya, maka secara tak disadari ia akan berusaha mencari ruang lain.
Adalah dengan menenggelamkan segala aktivitas keseharianya dalam tontonan UERO
2008. Jika perilaku umat beragama telah sampai pada titik ini, maka sepak bola
telah beralih menjadi sindiran terhadap agama, demikian dikatakan Yudi latif,
Direktur Eksekutif Reform Institute. Menanggapi soal kecenderungan sepak bola
bisa menandingi agama, masih menurut Hery "Sepak bola memang cenderung seperti
agama baru. Tontonan yang menjadi tuntunan." Pola hidup urang, kata Hery sangat
dipengaruhi oleh tontonan sepak bola, terutama di negara Eropa. Dengan demikian,
telah terjadi krisis ketuhanan. Setiap manusia akan mempunya naluri anti
ketuhanan. Ada yang dipuja, didewakan. Kala agama tak bisa menjawab problematika
itu mereka akan mencari pemujaan lain, biasanya artis atau pemain sepak bola.
Kendati, terdapat perbedaan mendasar antar sepak bola sebagai 'agama' dengan
agama sesunguhnya. Paling tidak satu pemahaman dikatakan agama harus memiliki
standar; Tuhan, Nabi, Kitab, Ritual dan Umat. Namun, saat persepak bolaan
berhasil memasuki segala aspek kehidupan masyarakat. Di sinilah kekuatan agama
baru hadir. Sportifitas Menilik ketidakharmonisan antaragama. Mestinya kita
menengok kembali falsafah sepak bola yang mulai terlupakan. Pasalnya, tanpa
pandangan itu kita niscaya akan hidup rukun, tentram, damai dan sejahtera pada
satu bangsa. Adalah sportifitas. Tak berlebihan memang bila kita terus
mendengungkan pameo tersebut. Sikap adil sekaligus jujur terhadap lawan, sikap
bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan
(kelemahan, kesalahan) sendiri. Kalau tidak spotrtif jangan masuk dunia sepak
bola. Sportifitas tak hanya dituntut dari pemain tapi wasit, juri, dan
penontonya pula. Masing-masing menjadi saksi juga terdakwa sekaligus. Kesalahan
yang dilakukan pendukung sebuah klub sepak bola bisa mengakibatkan klubnya
dijatuhi sanksi. Pemain yang begitu kasar akan dihadiahi kartu merah dan
diharuskan keluar lapangan dengan tunduk lesu dan malu. (www.syirah.com)
Mencermati dunia bola di tanah Air. Rasanya tak berhasil bila tidak tauran antar
pendukung kesebelasan. Adu jotos antarpemain. Memihak terhadap klub tertentu
oleh sang wasit. Pun penggelapan dana sepak bola. Hingga terjadinya swastanisasi
terhadap olah raga ini. Mengerikan memang. Bisa jadi kebrutalan baik dilapangan
ataupun diluar gedung saat dan [akan] dimulai pertujukan berawal dari konflik
antar elit pemuka agama yang tak kunjung selesai. Sejatinya, tokoh-tokoh agama
kita mengikuti jejak langkah yang dilakukan oleh negara Jerman, dua tahun silam.
Dalam rangka festival dan konser bertajuk "Kick-off 2006 Kick-off faith" Gereja
Berlin, Gereja Brandenbourg dan Gereja Berlin-Wilmersdorf menggelar sepak bola
antara Imam Mesjid melawan para Pendeta dan yang menjadi hakim garisnya dari
orang Yahudi. Jadi dalam pertandingan ini melibatkan tiga kelompok agama.
"Kami telah mengusahakan sejak lama pertandingan semacam itu guna memperkuat hubungan
antartiga aliran agama; Islam, Kristen dan Yahudi," kata Imam Taha, kapten tim
muslim Meski pertandingan diakhiri skor telak 12:1. 12 untuk pendeta dan 1 bagi
Imam Mesjid. Kekalahan tak terjadi memicu keributan antaragama tersebut. Malahan
saat usai pertandingan, mereka berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan
pemeluknya masing-masing. Kali pertama, dalam sejarah kerukunan antarumat
beragama di jerman sepak bola beda keyakinan diselenggarakan. Dengan sepak bola,
pihak penyelenggara berusaha mempromosikan toleransi dan persatuan antarumat.
Toleransi itu digalakan di Jerman mengingat sekitar 3% dari 82 Juta penduduk
beragama muslim dan 0,1% agama Yahudi. Sikap keterbukaan melalui perlombaan
sepak bola antariman ini diamini oleh menteri Dalam Negeri Jerman, Wolfgang
Schaeble seperti yang dilansir islamonline. "Sepak bola dengan kepopuleran dan
daya tariknya bisa memperkaya lingkungan dan juga mematahkan sekat-sekat yang
ada. Dan sekarang posisinya sebagai garis terdepan untuk mempraktikkan interrasi
dan melawan rasisme" ungkapnya. Kiranya, petuah "Ajarilah anak-anakmu dengan
keterampilan renang, panahan dan pacu kuda-termasuk sepak bola" telah
dipraktikan oleh bangsa Eropa dengan ajang EURO 2008. Dengan demikian, sikap
sportifitas, keterbukaan, toleransi dan menghargai keragaman menjadi pesan utama
dari EURO 2008. Apalagi saat menyambut final Piala Eropa. Semoga. *IBN GHIFARIE
Penulis adalah Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

