Artikel Umum
Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008
Penulis : Ibn Ghifarie
Liga Uero 2008 telah berakhir. Kesebelasan Spayol pun harus menjadi raja
di penjuru Eropa. Kekalahan telak pula mesti ditelah patih oleh Jerman. Lantas
pelajar berharga apa yang dapat kita ambil dari perhelatan akbar itu? Pun bagi
para pegiat studi agama-agama dan pemerhati dialog antariman yang kian hari
berseteru soal keumatan (keimanan dan keyakinan). Seakan-akan ajaran suatau
agama hanya mengedepankan aspek ketuhanan semata. Karut-marut persoalan
kebangsaan (kenaikan harga bahan bakar minyak, kisruh kejaksaan agung, polemik
hasil penghitungan suara pilkada, kisruh verifikasi partai polikit yang akan
mengikuti pelihihan 2009, keterbelakanan pendidikan, bocornya soal Ujian
Nasional, merebaknya viru flu burung, terjangkitnya busung lapar) pula luput
dari perhatian kita. Ironis memang. Harus diakui
memang pasca ditabuhnya genderang dialog antarbudaya di Eropa saat memasuki
tahun 2008 oleh Parlemen dan Dewan Uni Eropa di Brussels dengan mendeklarasi
tahun 2008 sebagai Tahun Dialog Antarbudaya (intercultural dialogue) untuk Benua
Eropa. Tak tanggung-tanggung, kepada Komisi Kebudayaan yang dipimpin Jan Figel
diberi budget 10 juta euro untuk kesuksesan Tahun Dialog Antarbudaya di benua
malam. Mengejutkan memang. Bukan lantaran karena anggarannya, tapi perubahan
paradigma. Sejak PD II, Eropa bergelut dengan masalah derasnya arus imigrasi
hingga berpuncak pada diskusi alot dan berkepanjangan tentang integrasi.
Persepsi integrasi membias dalam pelbagai diskurs, pleidoi, dan klaim, baik pada
penduduk asli maupun pada kaum pendatang. Dialog kadang dinilai sebagai usaha
kelompok imigran yang ingin mendapatkan pengakuan. Kini, kesan itu sudah
berubah. Dengan mengagendakan 2008 sebagai Tahun Dialog, Uni Eropa beralih
kepada pemahaman baru. Dialog bukan lagi hal sekunder yang dilaksanakan sebagai
\"pengemisan\" warga minoritas untuk mendapat pengakuan dan perlindungan dari
pihak mayoritas. Dialog adalah sebuah aksi
timbal balik antara warga mayoritas dan minoritas, antara warga setempat dan
kaum pendatang. Sebuah kebutuhan akan kualitas kehidupan yang lebih baik. Di
sana ko-eksistensi yang berkualitas resiprokal itu lebih ditekankan. (Kompas,
26/2/2008) Semangat Antirasis Sejalan dengan semangat tahun 2008 merupakan Tahun
Dialog Antarbudaya. Kahadiran Uero 2008 pun menelorkan 'pesan suci' bertajuk 'Bersatu
Melawan Rasisme' (Unite Against Racism) Masih terpatri dalam benak kita saat
perwakilan tim yang lolos ke babak semifinal Piala Eropa harus membacakan ikrar
antirasisme sebelum pertandingan dimulai. Pembacaan ikrar itu sebagai bagian
dari kegiatan kampanye Bersatu Melawan Rasisme selama penyelenggaraan Piala
Eropa 2008. Adalah pernyataan dari organisasi Football Against Racism in Europe
(FARE) bekerja sama dengan UEFA dan organisasi para pemain FIFPro, kapten dari
setiap tim ditunjuk untuk membacakan ikrar antirasisme dan menghargai perbedaan.
Pembacaan ikrar dilakukan di
lapangan sebelum pertandingan. Tengok saja, kala pertandingan antara Jerman dan
Turki atau Spayol dan Rusia. Kapten tim nasional Jerman, Michael Ballack; Turki,
Recber Rustu; Spanyol, Iker Casillas, dan Rusia tak boleh melewatkan ritual
sekaligus sumpah suci tersebut. Uniknya lagi, saat membacakan ikrar, kedua tim
akan diapit oleh dua buah bendera Bersatu Melawan Rasisme dan sejumlah suporter
akan diajak menarikan tarian antirasisme. Pesan antirasisme juga dibuat berupa
hiasan untuk 40.000 kursi penonton di Stadion St Jakob Park dan 50.000 kursi
penonton di Stadion Ernst Happel. Tak mau ketinggalan, Presiden UEFA Michel
Platini juga menyambut baik kegiatan kampanye antirasisme tersebut. "Kampanye
Bersatu Melawan Rasisme menunjukkan bahwa kita menghormati perbedaan.
UEFA menjamin pelaksanaan
kegiatan sepak bola, seperti Piala Eropa dimainkan secara harmonis dan saling
menghormati," kata Platini. (Kompas, 26/06/2008) Semangat Menghargai Perbedaan
Memang sepak bola memang mampu menghipnotis penduduk bumi untuk menghilangkan
sekat-sekat atau batas-batas, baik itu sekat territorial, geografis, suku, agama
maupun kewarganegaraan. Orang merasa asyik bila bicara pelbagai hal terkait
sepak bola. Tua-muda, kaya-miskin, laki-laki-perempuan, pejabat-penganguran,
islam-kristen, hindu-budha, sunda wiwitan-kejawen ikut memeriahkan perhelatan
akbar ini. Apapun agamanya, Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan lainnya
kalau dia sudah simpati dan menjadi fans berat David Beckham, maka kelompok fans
ini akan bersatu dan mengeluk-elukan pemain Inggris ini sebagai idolanya. Tengok
saja, di Kuil itu, tahun 2000 silam, demikian penuturan Bikhu Budha, teronggok
sebuah patung David Beckam, Kapten kesebelasan inggris. Ya, sepak bola telah
menyihir dunia keberagamaan Pasalnya, sepak bola telah mempertemukan akan
manusia dari pelbagai penjuru dunia. "Bola sebagai media egaliter dan media
persatu," kilah Hery Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola Soccer. Lebih jauh, Ia
menuturkan, "Sepak boal legi sukses daripada serangkaian Konfrensi-konfrensi
yang dilakukan untuk menyatukan seluluh umat di dunia. Di sini tidak ada lagi
sekat entis, suku agama maupun warna kulit," jelasnya. (Majalah Syirah Juni
2006) Dengan demikain, sikap sportifitas, keterbukaan, toleran dan menghargai
semuanya terangkum dalam persepakbolaan. Tak ada, kisruh antar penonton (lain
agama dan lain ras). Yang nampak kedamaian, keindahan dan baersatu dalam
perbedaan. Pengakuan perbedaan atas keragaman apapun (warna kulit, etnis, adat,
budaya, maupun keyakinan keagamaan) tak sebatas diungkapkan dalam bahasa
toleransi (al-tasamuh). Karena toleransi bermakna tenggang rasa terhadap pihak
lain ketika mereka bersalah. Tapi lebih aktif untuk menerima dan menyongsong
yang lain, bukan sekadar tenggang rasa. Qabulul akhar (sikap menerima yang lain)
lebih jauh menyeberang melampaui toleransi untuk menyongsong sang lain. Inilah
yang dicita-citakan oleh Milad Hanna, seorang Kristen Koftik Mesir dan pegiat
dialog antariman sekaligus pejuang Hak Asasi Manusia melalui bukunya \"Qabulul
Akhar:Min Ajli Tawashuli Hiwaril Hadlarat atau \"Menyongsong yang Lain Membuka
Pluralisme versi indonesia\" (Milad Hanna, Cairo:2000) Mencoba membumikan tahun
dialog antarbudaya melalui bersatu melawan rasisme. Masih menurut Hanna, modal
utama dalam dialog antaragama adalah budaya qabul al-akhar (sikap menerima yang
lain). Pasalnya, budaya ini dimulai dari saling memahami dan membuka diri.
Nantinya jalan menuju qabul al-akhar akan terbuka sendiri. Jika kita telah
memiliki budaya qabul al-akhar, kita akan dianugerahi hubb al-akhar (mencintai
yang lain). Nah, bila prilaku dan sikap menerima yang lain telah tertanam dalam
diri kita, maka cita-cita luhur British Council dalam program-program yang
bersinggungan dengan Dialog Antarbudaya akan tercapai:
Pertama, Memperkuat
pemahaman dan tingkat kepercayaan antara masyarakat dari UK dengan masyarakat
lainnya.
Kedua, Memperkuat konsensus untuk menolak semua bentuk ekstrimisme.
Ketiga, Meningkatkan kemampuan individu-individu dan organisasi dalam
menyumbangkan perubahan sosial yang positif dan memperkuat masyarakat sipil.
Keempat, Meningkatkan penggunaan bahasa Inggris sebagai alat untuk komunikasi
internasional dan pemahaman antar budaya. Semoga. *IBN GHIFARIE Penulis adalah
Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.
Artikel Lainnya
- Menebar 'Pesan Suci' Uero 2008 14/08/08
- Sepak Bola dan "Sindiran Telak" Bagi Agama 14/08/08
- SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah 13/06/08
- Waisak Bagi Bangsa 26/05/08
- Ayat-Ayat Fitna Ala Indonesia 26/05/08
- Mengeja "Rapot Merah" Mahasiswa 17/05/08
- Hardiknas Momentum Introspeksi bersama 17/05/08
- Kala Blogger 'Tersandung' UU ITE 12/04/08
- Menulis Petanda Orang Beradab 12/04/08
- Maulid Nabi dan Toleransi Antarumat Beragama 11/04/08
- Cinta Sesederhana Dirinya 25/02/08
- Pemanasan Global 25/01/08
- Haji Tersandung Pondokan 06/01/08
- Menunda Keinginan 12/11/07
- hari yang menyenangkan 05/11/07
- Tahukah Kamu 01/11/07
- Kesetiaan 24/10/07
- MANAJEMEN KURIKULUM ATAU MANAJEMEN SEKOLAH? 18/10/07
- SEHABIS KTSP LALU APA? SKS! 17/10/07
- YANG TERLEWATKAN DARI KTSP 16/10/07
- Refleksi: Pendidikan dan Kemerdekaan 20/08/07
- Kemiskinan Dalam Puisi Indonesia 09/08/07
- Warna-Warni Hari Pertama Sekolah 22/07/07
- Tanda Tanya Partai GAM..? 20/07/07
- Seharusnya Indonesia Makan Apa? 20/07/07
- Ketika Bahasa Diperdebatkan 19/07/07
- Nilai = Uang 27/06/07
- Perbedaan Antara Cowok Dengan Pria 21/06/07
- Waduh! Naik Apa Dong? 04/04/07
- (Masih) Perlukah Mencoblos? 04/04/07
- MEMBOLOS dan HISTERIA MASSAL 07/03/07
- ' Kita Perlu Seribu ' Einstein' Muda' 28/02/07
- Penipuan, Hipnotis Atau Budaya Konsumerisme ? 28/02/07
- Politik Sastra dan Akhlak Keislaman 28/02/07
- Catatan Kecil Tentang Sastra Di Sekolah,Catatan Kecil Tentang Sastra di Mata Kaum Muda 11/02/07
- Burung 09/02/07
- Wakil Rakyat, (Bukan) Mewakili Kesejahteraan Rakyat 24/01/07
- Model PWS Dalam Pemberantasan DBD 20/01/07
- Sholat Bisa Menjadikan Seseorang Celaka 12/01/07
- Sastrawan Tanggung 12/01/07
- KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER,KAJIAN TEORITIS MENGENAI KETIMPANGAN GENDER 12/01/07
- Pahlawan Rakyat 23/12/06
- Perlu Regenerasi Lingkungan, Gerakan Regenarasi Lingkungan 22/12/06
- B E R I T A 12/12/06
- Tips buat ngadepin Doi 12/12/06
- Sastra, Jus Tomat Rasa Pedas 10/12/06
- Kritik Sosial dalam Cerita Pendek Juniarso Ridwan 10/12/06
- Mengarifi Sastra Islam 10/12/06
- Mengharap Berkah Langit 03/12/06
- Ketika Kesenangan Datang 03/12/06

