Arsip Puisi Sukainternet
Kembali Ke Rumah Kembali Ke Tanah
Karya : Moh. Husein Arifin | Dibaca : 1011 Kali
hujan membasuh tubuh-tubuh rubuh di pematang
tembakau, pada tilawah awan beburung gagak berdenyaran senandungnya lebih sangar
lihat alam bersama tangisnya mekar akan sekuntum manusia patah rebah kembali ke
rumah kembali ke tanah.
malam ini seperti ada suara jatuh dari langit dari bukit melantunkan suara-suara
tumbang, bola mata kami terbangun dari mimpi yang bersentuhan aroma anyir
berkelindan.
kami, tunas-tunas madura termangu pandangi clurit-clurit bertadarrus hingga
seluruh kekebalan tembus sementara para pemuda memanjangkan doa hanya mau
mentasbihkan deru-deru kemenangan dari amarah yang membahana.
hanya saja kami dengar kata bapak clurit di desa kami sebagai alat memuja kepada
yang kuasa yang kekal selamanya, bila ada sebongkah kalimat menyilet dada maka
clurit pun akan berbicara, tapi kata emak clurit di desa kami seperti hiasan
bercahaya bagi perempuan sebab di lengkung mata clurit airmata perempuan selalu
mengalir dan clurit pula mampu kuatkan hati dewi-dewi di desa ini.
namun kini cukuplah kami terdiam atas tingkah para pemuda yang tiada mengerti
kebesaran alam hingga saling dendam, meski ada adzan memanggil malam.
setelah kami menyahut panggilan tuhan, maka kami mohon kepadaNya benteng
ketabahan mengais raja' dan maghfiroh di bilangan rakaat pada musim penghujan,
karena para pemuda tetap tak mafhum arti dari sebuah ciptaan.
Mei, 2007
Archive Puisi
- Semusim , Sewaktu
- Mimpi kita
- Jejak gelisah
- Gerbong perjalanan
- Senja
- Diatas sana
- Diriku, menyatu dengan alam
- Berdamailah dengan Alam
- Alam Negeriku
- Save The Earth
- Pegang Janjiku
- Menunggu Belaianmu
- Maduraku, Lagu Sendu
- Kembali Ke Rumah Kembali Ke Tanah
- Tanah dan Catatan Sejarah
- Sidoarjo Yang Hilang
- Ketika Lumpur Lapindo Menguap
- 'BATU-TIMOR' HANCUR DI AMBIL PEMODAL
- Membaca Rahasia
- Kejadian

