SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. Diatas sana
  2. Bahwa Aku tak Sanggup Membencimu Ayah
  3. BERKACA
  4. Kangen I
  5. Tepat Segaris Jalan Pulang
  6. Menghargai Pahlawan Bangsa
  7. cinta putih
  8. Kesedihan Bumi
  9. Kita telah lupa
  10. Paranoid

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Kumpulan Cerita Pendek

Menanti Maafmu
Posted : 19 Mar 2007 | Dibaca : 4593 Kali

Malam ini sinar rembulan redup. Tidak terang seperti malam-malam sebelumnya. Sinarnya yang putih tidak seputih bunga melati. Bulatnya yang bundar tidak sebundar roda dokar. Kini ia menjadi sabit. Sinarnya layu digeluti gumpalan-gumpalan awan hitam. Bulatnya kian terkikis disabet tajamnya pedang-pedang malam. Di pojok kamar yang gelap, Adit terpesona menyaksikan bintang kejora berpijar di angkasa raya. Kilaunya teduh membawa kesejukan yang terdalam. Walau langit kelam, pijar bintang itu mampu menghias malam. Mengitari rembulan yang diselimuti awan. Ketika dirinya larut menikmati panorama langit, tiba-tiba telpon di ruang tamu berbunyi. Dia tersentak. Dalam benaknya, bunyi telpon itu dirasa bising sekali. Mengganggu konsentrasinya menguraikan bahasa malam. Dengan spontan dia pun berucap.

 ' Ah, siapa sih malam-malam begini nelpon. Dasar ... ' Umpatnya. Kemudian dia beranjak menuju ruangan depan. Sesampainya di sana, dia mengangkat gagang telpon. Dan suara dalam telpon itu berucap salam. ' Assalamu 'Alaikum... '  ' Salam. ' Jawabnya ketus. ' Aditnya ada mas...?” ' Tanya orang itu. Dia terkejut, ketika orang tersebut menanyakan dirinya. Suara itu tidak asing lagi baginya. Dia hafal betul siapa yang punya suara itu. Akhirnya dia jadi salah tingkah telah menjawab salamnya dengan nada yang tidak bersahabat. Awalnya Adit merasa terganggu dengan bunyi telpon tersebut. Akan tetapi karena yang nelpon itu adalah Lita, maka rasa bersalah pun menetes membasahi relung hatinya. Mulutnya tertutup rapat. Nafasnya naik turun. Sekarang dia hanya bisa terdiam menyesali sikapnya. Diam. Dan bisu. Namun, tiba-tiba suara dalam telpon bertanya lagi. ' Eh, kok diam. Jawab dong mas. Aditnya ada apa gak?” ' Mendengar pertanyaan yang kedua kalinya. Adit pun berkata lirih. ' Ya. Nih aku, Lit.' Suaranya berat. Kemudian percakapan di antara keduanya berjalan cukup lama. Sampai akhirnya percakapan itu di akhiri dengan kebisuan dan keheningan. 

*** Di malam itu bukan kebahagian yang Adit dapatkan. Tetapi malah sebaliknya. Wajahnya murung. Hatinya sedih. Lantaran gadis yang selama ini dia cintai masih belum memaafkan kesalahannya tempo hari. Waktu itu sebelum acara hari pesta ulang tahun temannya, Adit berjanji akan mengajak Lita untuk mendatangi acara tersebut. Tapi ternyata, dia datang sendirian. Dia lupa pada janjinya. Dan malam itu Lita menegurnya. ' Kenapa kamu membohongi aku, Dit?”' 'Maafkan aku, Lit. Aku lupa.”' Jawabnya datar. Sepatah kata maaf itu yang membuat Lita tidak menerimanya. Ia jijik mendengarkan kata-kata yang tak bertulang itu. Kemudian, ia berucap tegas. ' Dit, lidah itu tidak bertulang. Semua orang bisa berkata seperti itu. Berjanji. Bersumpah. Tapi kenyataannya, banyak dari mereka yang ingkar dan berdusta.' Muka Adit sedikit minder mendengar kata-kata Lita yang secara tidak langsung menyindir dirinya. Tapi namanya saja orang yang suka bergombal, tetap saja dia tidak mau menyerah begitu saja. Dia telah menganggap hati semua wanita gampang lunak pabila mendengar kata-kata romantis. Akhirnya dia pun merayu, berkata manis dan mendayu-dayu. Tetapi tetap saja hasilnya nihil. Ternyata Adit salah alamat. Lita bukanlah tipe gadis yang suka digombalin. Ia adalah gadis tomboy. Toh, walau begitu ia mempunyai sifat yang cukup tegas. Dan suka pada satu bentuk kepastian, bukan sebuah kebohongan. Kata-kata Adit bukannya membuat Lita jadi senang dan gembira. Ia malah tambah marah dan benci. Akhirnya, Adit pun termenung mengingat janji-janjinya yang tidak pernah ditepati. Adanya hanya alasan yang tak pasti. Dari kejadian itulah pikiran Adit tidak bisa tenang. Hatinya sedih. Kesehari-hariannya lebih banyak dilalui di dalam rumah. Sendirian. Bahkan keluar kamar pun dia enggan beranjak. Sepanjang waktu dia terus mengurung diri di dalam kamar. Sedang batinnya terus diombang-ambing oleh kesalahan-kesalahan yang sering dilakukannya. Siang malam tiada henti berkontemplasi di dalam kamarnya. Merenungi setiap kata yang diucapkan Lita pada dirinya. Mengurai makna yang terkandung dalam kalimat itu. Lama kelamaan, akhirnya dia menemukan juga apa yang dicari. Hingga dia pun sadar. 'Lita benar, aku yang salah. Kenapa aku bisa jadi seperti ini. Padahal aku seorang lelaki bermartabat lebih tinggi dari pada seorang wanita.”' Bisiknya dalam hati. 

*** Di malam kedua, tepatnya malam minggu. Lita nelpon lagi. Dan ia berkata, 'aku akan memaafkan kesalahanmu, Dit. Jika kamu tidak mengulanginya lagi.” ' Mendengar ungkapan tersebut, pikirannya sedikit tenang. Wajahnya berseri. Hatinya berbunga-bunga. Lalu dia pun berucap lirih. 'Jadi kamu mau menerima kata maafku, Lit? ' Tanyanya mantep. 'Aku akan menerima kata maafmu. Asalkan besok kamu datang ke tempat di mana pertama kali kita bertemu. Ada sesuatu yang harus aku omongin sama kamu. Kalau kamu tidak datang, maka jangan harap aku bisa memaafkanmu.” ' Jawabnya panjang lebar. ' Kok bisa gitu Lit? ' Keningnya berkerut. ' Ya, iyalah. Ini sebagai jawaban atas kebohonganmu.' 'Lit, apakah tidak ada cara lain untuk mendapatkan kata maaf darimu. Begitu besarkah salahku padamu hanya karena kejadian itu? ' Tanyanya sekali lagi. 'Jelas. Karena salahmu itu adalah janjimu sendiri yang tidak pernah kamu tepati. Dan kamu pun tahu, bahwa yang namanya janji itu harus ditepati. Jika ingkar, kan dosa hukumnya!” ' Kali ini Lita bicaranya meledak-ledak. Sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah berbicara setajam ini. ' Dit, janji itu adalah hutang. Dan harus dibayar.”' Sambung Lita. Adit terdiam. Mulutnya kelu. Dia tidak berani menimpali ungkapan Lita. Karena ungkapan itu seperti malaikat yang sedang mewanti-wanti. Memaki. Dan menasehati. Sejurus kemudian, panggilan Lita menyentakkan kebisuannya. 'Dit, kok diam lagi sih!” ' Sedikit keras. Kelihatannya Lita sedang menghela nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Dan ia berucap lagi. ' Kalau emang gak mau datang bilang terus terang. Aku tahu kok. Waktumu memang tidak akan pernah ada untukku. Aku merasa, Dit!” ' Entah kenapa, nada suaranya tiba-tiba lemas tidak sekeras tadi. Mendengar ungkapan itu, Adit merasa berdosa karena tidak pernah menepati janjinya sendiri. Sehingga membuat sakit hati orang yang dicintainya. Lalu dia berpikir. ' Bagaimana seandainya semua lelaki seperti diriku. Sering membuat sakit hati dan kecewa seorang wanita. Akan menjadi apa dunia ini?” ' Maka saat itu juga, dia berucap dengan tegas. ' Lit, aku akan datang ke tempat itu. Janjiku kali ini adalah pasti bukan basa-basi.” Setelah mendengar ungkapan tersebut, Lita tersenyum. Dan ia pun berkata dengan manis. ' Kalau begitu makasih ya Dit, berarti sepenuhnya rembulan bakal menjadi milikmu.”' Ucapnya dengan nada gembira. Adit pun cukup senang mendengarkannya. Dengan raut muka yang ceria, Adit bersabda; ' Aku hanya ingin menanti maafmu, duhai kekasihku...”' Setelah berkata seperti itu dia terpaku menunggu jawaban dari Lita. Tapi kali ini, Lita yang diam dan membisu. Hanya desah nafasnya yang diburu angin. Sepertinya malam ini ia tersipu malu mendengarkan ungkapan Adit yang mesra itu. Terbukti, ia tidak berkata apa-apa lagi selain menutup gagang telponnya tanpa pamitan. Malam pun berlalu dengan riangnya... 

Rabea El-Adawea, 21 Februari 2007 

*Penulis: Adalah mahasiswa Al-azhar University. Dan tergelong sebagai penulis reguler di komunitas TANDABACA. ,marabunta_azhari@yahoo.com


Cerpen Lainnya

  1. SINDROM MOTOR?
  2. BAHAGIA PERIH
  3. SUATU MALAM DI MUARAKONENG
  4. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
  5. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
  6. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
  7. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
  8. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
  9. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
  10. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
  11. Percintaan Daun dan Ranting
  12. LELAKI MERDEKA
  13. Anomali Mimpi
  14. Heri
  15. OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
  16. Menanti Maafmu
  17. Campus Idol
  18. Disudut Hatimu Aku Menanti
  19. LANGIT-LANGIT BUATKU
  20. catatan harian aini
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller