Kumpulan Cerita Pendek
Anomali Mimpi
Posted : 28 Apr 2007 | Dibaca : 3992 Kali
Untuk
Purnama yang
tak pernah di sampingku Pada
sisa hari yang terbakar. Kuselipkan jasad di ketiak malam, terkulum sepi, sunyi.
Rebah. ==== Ia
eratkan genggam jemarinya di leherku. Air liur perlahan keluar dari mulutku.
Menggerayang dagu perlahan, bergelayut di janggut hingga akhirnya melayang dan
tersiakan di tanah kering - tak berumput apalagi berlumut. Di tangan kirinya
tergenggam erat belati kebencian yang ia rebut dari tanganku. Menyayat. Mencabik. Matanya
nanar menatapku penuh kebencian. Nafasnya mendesir, seperti badai di laut
kematian sedang memburu nyawa nelayan yang tersesat, tak tahu ke mana arah
pulang. Seketika tubuhku menggigil serasa ditaburi oleh butiran-butiran salju,
menimbunku hingga ubun-ubun terasa beku -padahal ini musim kemarau,
kucing pun menjadi kurus karena dehidrasi - setelah kutahu belati kebencian itu
telah menjadi pipa penyalur darah yang keluar dari tubuhku, tertanam di ulu hati. Banyu
terperanjat dengan nafas tersengal-sengal hingga menyedak tenggorokannya dan
terbatuk. Ternyata yang diimpikannya itu, masih tertidur pulas di sampingnya.
Masih menikmati sisa-sisa hari yang terbakar, setelah menapakkan jejak kaki di
atas sengatan bara dan teriknya kehidupan. Dengan
mata yang masih sayu, Banyu membuka bungkus rokok yang dibeli di warung dekat
kosannya sore tadi. Didapatinya empat batang rokok yang tersisa. Disulutnya
sebatang, ia hisap dalam-dalam. "
Kau tampak resah? " Banyu tersentak, saat suara yang entah dari mana itu
menegurnya. "
Siapa kau?! Tampakkan wujudmu! " Banyu melempari segala penjuru sunyi
dengan tatapannya yang beringas. "
Hey. Ini aku, teman setiamu." "
Oh, kamu toh. Aku tadi bermimpi, ia membunuhku dengan belati kebencianku
sendiri."
" Ah ... itu wajar." "
Apanya yang wajar?! Setiap hari kami bergandeng tangan melewati panasnya bara
kehidupan ini. Memang kuakui, aku baru mengenalnya di sini. Selepas kutinggalkan
tempat kelahiranku, dan disaat-saat terakhir kutatap sinar mata yang penuh
dengan pertanyaan. Di sanalah, aku mulai bekenalan dan berteman dengannya." "
Tapi kau mulai mengabaikannya, dengan keseharianmu kan? " membuncahkan bara
di tubuhnya, setelah dihisap oleh Banyu.
" Loh. Kok, kamu tahu? " Banyu makin terheran dengan ucapanya. “Arwah
temanku barusan memberitahukannya padaku. Dan ia masih menyesaki ruang ini,†"
Apa kau bilang, arwah temanmu?! " Sambil mengerutkan kening, Banyu
menghisapnya lagi dengan lebih dalam. Banyu merasa, perkataannya itu semakin
ngawur. "
Tidak! Aku tidak ngawur. Yang kukatakan benar adanya. Itu arwah temanku!
yang kau hisap umurnya perlahan dan kau hembuskan nyawanya di udara. Kini
arwahnya mengepul di lembab kamar tidurmu ini. Ya, seperti yang sedang kau
perbuat padaku sekarang.! " "
Kamu tahu suara bisikan hatiku? " "
Ya. Karena sebagian arwahku-lah yang memberitahukannya padaku. Lantas apakah kau
tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan terhadapmu? "
" Tidak? " "
Arwahku yang kau hisap sebenarnya ingin sekali menusuk dan mencabikmu dari dalam
" "
Ah, kalau itu aku sudah tahu " "
Apakah kau tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini, Banyu?! Setelah
berbulan-bulan ia menemani dan menyemangatimu detik demi detik. Dan kini kau
mencoba untuk menepiskannya dari hari-harimu! " "
Ssst. Pelankan sedikit suaramu! Aku takut nanti ia terbangun oleh suaramu,
" meletakkan jemari di mulut, menoleh padanya yang masih pulas tertidur. "
Aku malah ingin ia terbangun dan tahu apa yang sedang kita perbincangkan, biar
lekas-lekas membunuhmu dengan belati kebencian. Seperti yang kau impikan barusan!
" Emosi
Banyu tersulut, lantas dengan segera ia gilaskan tubuh sebatang rokok itu pada
asbak hingga baranya benar-benar padam. Pikirannya
mulai menggerayangi hari kemarin. Berkali-kali aku membujuknya untuk
melupakan masa lalu yang kutinggalkan. Aku takut ia akan marah lagi padaku. Cahaya
lampu neon yang dipasang di depan pintu luar kosan, menyelinap masuk lewat celah
poster yang ditempel di kaca pintu kamar menubruki arwah rokok yang mengepul di
udara. Pelangi asap. Menyorot ke arah poster Munir yang sedang mencari-cari
" siapa dalang pembunuhnya ". Banyu menatap pelangi asap lekat dan
kembali rebah Sejenak
Banyu mengalihkan pandangannya pada jam weker yang terletak tepat di atas
kepalanya. Detakan jantung weker terasa menggebu-gebu seperti hendak mempercepat
hari fananya. Dia memutar jarum alarmnya tepat pada angka enam. ===== Jam
weker mulai menjerit-jerit. Alarm yang dipasang pada angka enam mulai
menusukinya dari dalam. Walau
sedikit sungkan, Ruh itu akhirnya kembali menghuni jasad Banyu yang masih
dikulum oleh kesunyian pagi. Setelah bertamasya menapaki alam bawah sadar yang
tak berbatas dan berdetak jantung waktu. Ruh Banyu sebenarnya enggan
meninggalkan alam bawah sadar untuk kembali menempati jasadnya dan menjalani
bara hari yang membosankan. Resah
getir gemuruh curug mulai mengoyak gendang telinganya. Hembus desah dinginnya
udara Bandung, diam-diam menyelinap masuk lewat ventilasi udara. Ia menggigil.
Selimutnya masih di tempat penjemuran sejak dua hari kemarin. Matanya masih
tertutup rapat dan enggan terbuka. Tangannya mulai menggerayangi meja kecil
tempat jam weker menjerit. Hentak detaknya menusukkan jarum alarm makin dalam.
Hingga pekiknya mendobraki gendang telinga. Jeritannya mereda ketika Banyu
menekan panel alaremnya pada posisi off. Banyu
beranjak. Menyeduh kopi susu pada cangkir yang bertuliskan Reborn Republic.
" Sebuah cangkir penyemangat hidup! " gumamnya sambil menyeruput kopi
itu, " Mengawali hari dengan penuh gairah. Menantang duri perintang di
setiap helaan nafas. Setiap meneguknya, kurasakan lilitan tali Iblis pada
jasadku putus satu persatu." Banyu
keluar dari kamar, menuju pintu terluar. Ia membuka pintu. Seketika hawa dingin
menyergap dan berjejal masuk mengisi ruangan. Banyu duduk di teras kecil samping
pintu. Ia terjunkan pandangannya pada jurang di hadapannya dan melayangkannya
kembali pada perbukitan. Puncak-puncak
bukit dan gunung masih lekat dengan selimut kabutnya yang tebal. Bintang-bintang
hinggap di kaki mereka. Warnanya putih, oranye, merah, dan kuning. Kedip
cahayanya sayu, mereka lelah menyinari pekat semalaman bersama purnama. Ada yang
tersangkut di tower-tower. Warnanya merah, sedetik padam sedetik menyala
terus-menerus hingga ia benar-benar padam oleh mentari. Banyu
mengambil sebatang rokok. Sebelum membakarnya, ia ciumi terlebih dahulu aroma
parfum tubuhnya, yang sedikit hilang karena bungkusnya terbuka semalaman.
Sejenak dia cermati ia perlahan. Ternyata ia hanya diam. Bisu. Setelah beberapa
lama dinantikan, kata-kata tak kunjung meluap darinya, dengan segera ia nyalakan
api dan membakar ujung kakinya yang bundar. "
Mungkin, Ia adalah sebatang rokok yang pendiam. Selalu nerimo pada
kodrat dan kenyataan. Atau mungkin, mereka hanya berbicara pada malam hari. Tak
seperti Manusia yang selalu mengoceh, menggombal, ngerumpi, merayu, menghasut
dan sebagainya. Tak kenal siang maupun malam. Hanya dalam sebuah persentase
kecil, waktu manusia digunakan untuk menyebut Asma-Nya." Lamunannya
terganggu. Kulitnya seperti dirasuki butiran-butiran es yang menyusup lewat
pori-pori. Dari sela perbukitan pohon-pohon pinus menari menyambut kedatangan
desiran angin. Pun begitu dengan pohonan besar di sekitarnya. Gemulai. Tanpa
irama. Dedaunan pisang melambai perlahan. Pohon bambu mengetarkan
jemari-jemarinya menirukan tarian kecak. Banyu perlahan menikmatinya. Banyu
menggigil saat desir angin yang datang entah dari mana itu melintasinya.
Ia mengeratkan pelukan pada kakinya yang menekuk, dan mengendapkan pipinya di
lutut kiri. Mentari mulai mendaki gunung Manglayang. Setelah mencapai puncaknya,
ia menyibakkan selimut kabut dan perlahan memanjati tangga langit. Banyu
kembali menghisap batang rokok yang terlupakan sejenak. Dan ia kembali teringat
pada ucapan sebatang rokok serta mimpinya semalam. "
Kau tampak resah? " Banyu tersentak. Reflek menoleh ke arah suara yang
menyapanya. "
Kamu toh. Mengagetkanku saja. Tumben kamu bangun sepagi ini?
" "
Aku terbangun oleh lamunanmu barusan." "
Maaf, jika ternyata lamunanku menggangu tidurmu." "
Lamunanmu bikin aku kesakitan, Banyu. Aku butuh obat atau candu penawar rasa
sakitku sekarang juga! " Mukanya memerah. Matanya ranum. Ia berkata dengan
sedikit terbata. "
Kau sakit! Baiklah, akan kucarikan obat atau candu penawar rasa sakitmu di kamar.
" Dengan tergesa Banyu beranjak. Hingga batang rokok itu terlupakan. "
Di kamarmu tak ada obat atau candu penawar rasa sakitku. Tak ada! Yang ada hanya
poster dan pamflet yang hinggap di dinding. Kaset-kaset berserakan.
Batang-batang rokok tertumpuk di asbak. Cangkir kopi mengerak dan pakaianmu yang
membusuk. Percuma kau mencarinya! Obat atau candu penawar itu tak ada di kamarmu!
" Ujarnya memastikan Banyu yang memaksa masuk kamar. " Tadi aku
mencarinya sewaktu aku terbangun sebelum menghampirimu. Dan tak ku temukan satu
pun. " Banyu
tidak peduli dengan keluhannya. Ia masuk dan mulai menggeledah setiap lekuk
ruangan. Banyu sebenarnya tahu. Bahwa obat atau candu penawar itu hanya ada pada
berangkas hati yang tertinggal. Tapi ia berharap akan menemukan sesuatu yang
bisa mengobati rasa sakitnya yang kambuh itu. Walau akhirnya ia putus asa
setelah memorak-porandakan seisi kamarnya. "
Tahan sejenak rasa sakitmu itu! Atau kita cari di taman Partere? Semoga saja
kita dapat menemukan sesuatu yang bisa mengobati." Bujuk Banyu, agar ia
sedikit tenang. Dan ia menjawabnya dengan manggut. Banyu
bergegas membasuh muka dan membasahi rambutnya. Mereka keluar. Banyu memapahnya
dengan sempoyongan. Mentari telah seperempatnya mendaki langit. Tak lama mereka
sampai di tujuan. ===== Mentari
telah renta hari ini. memanjati langit tinggal seperempatnya lagi. Wajahnya
ranum. Sinarnya pudar di tepi awan. Sunyi mulai berjejal. Suntuk menjemput.
Mereka akhirnya dikulum sepi. Tak satupun yang melintas atau pengunjung taman
itu yang bisa mereka jadikan obat atau candu penawar. Batang-batang rokok
tergeletak tersiakan di tanah. "
Sampai kapan menunggu di sini, Banyu? Sampai aku mati terkapar! " Banyu
tertunduk tidak bisa menjawab pertanyaanya. Lantas
ia mengeratkan genggaman jemarinya di leher Banyu. Air liur perlahan merangkak
keluar dari mulutnya. Menganga. Menggerayangi dagu perlahan. Bergelayutan di
janggut. Akhirnya melayang dan tersiakan di tanah kering. Tak berumput
apalagi berlumut. Di tangan kirinya tergenggam erat belati kebencian yang ia
cabut dari sarungnya. Tatapnya
nanar penuh kebencian. Merobek. Menyayat. Hati. Banyu meronta. Tapi ia terlau
gaib untuk membunuh atau dibunuh Banyu. Banyu
sempoyongan menuju sebuah gedung yang tampak sangar bertapa di samping simpang
jalan yang sedikit sepi. Banyu perlahan menaiki tangga menuju lantai tiga. Dan
ia masih saja membuntutinya. Gelap. Pekat. Berdesak di setiap ruangan. Anehnya,
petang ini tak ada satupun yang bernafas di sana. Tak ada orang atau cicak yang
mengecak. Hanya sunyi. Mereka berpesta pora dalam sepi. Banyu menuju teras
belakang. Terduduk, merem-melek kesakitan. Di
ufuk timur. Purnama perlahan memanjati langit malam ini dan tersenyum dengan
penuh pesona. Sejuk. Luka Banyu mengering. Amarah Rindu terbasuh. Rasa sakit tak
lagi menghuni jasadnya. Dibuangnya belati kebencian dari genggamannya. Dan ia
kembali terlelap di samping Banyu yang terus menatap tajam wajah purnama. Lagi,
ia terbius oleh senyumnya. ===== Aku
terperanjat dari tidurku. Nafasku tersengal menyedak hingga terbatuk. Ternyata
aku masih dikulum sunyi dalam rongga malam. Rokok tetap membisu. Hentak detak
jarum jam masih menjelajah di angka dua dini hari. Hanya sepi teman tidurku.
Rinduku tak mewujud. Tapi aku masih ingat dengan senyuman Purnama. Kini Purnama
yang mengganggu tidurku. Pondok ASAS Bandung,
23 April 2006 Cerpen: Amran
Banyurekso
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

