Kumpulan Cerita Pendek
LELAKI MERDEKA
Posted : 10 Aug 2007 | Dibaca : 4239 Kali
"Tunggu mati lampu ya, Nak?" Selalu jawaban itu yang
terlontar dari mulut lelaki kurus dengan wajah sepucat bulan. Ah, betapa kalimat
itu sangat mahal dan mengandung berjuta rahasia di benak Ogi, anaknya. Begitu
kalimat itu terlontar Ogi hanya mengangguk pelan lalu pergi ke sekolah melalui
samping rumah. Sekolah itu tidak begitu jauh dari rumahnya, mungkin sekitar tiga
ratus meter jaraknya. SD Semangat Bangsa. Memang, akhir-akhir ini daerah rumah
lelaki kurus dengan wajah sepucat bulan itu selalu saja mati lampu. Terkadang
tidak mengenal waktu. Bisa pagi, siang ataupun malam. Aktivitas pada awalnya
sangat terganggu. Setelah adanya gen-set persoalan ketergantungan teknologi
terbantu dengan teknologi lainnya. Lelaki itu bernama Amran, usiannya baru tiga
puluh lima tahun. Kebiasaannya duduk nongkrong berlama-lama di mana ia suka.
Kebiasaannya itu mulai sering dilakukan setelah kematian Tukiyem, istrinya.
Subuh-subuh sekali lelaki itu sudah terlihat mendekap kedua kakinya di dada.
Duduk di atas kursi usang, samping pos ronda di ujung gang. Orang-orang lewat begitu saja. Ada yang membawa bendera
kertas sampai yang membawa gapura tujuhbelasan yang siap pasang. Kalaupun ada
yang menyapa hanya tetangga terdekat saja. Tetangga yang selalu bergantian
membawakan lauk untuk anaknya. Dan saat itu lelaki itu rela menunggu lama sampai
Ogi selesai menikmatinya. Ia berkesempatan menikmati bagian yang tidak
dihabiskan anakanya. Demi mengingat peristiwa itu, lelaki itu pun tersenyum di
atas tempat duduk usangnya. Orang-orang hanya geleng kepala, sebagian tersenyum
geli. Lelaki itu tak peduli. Bayangan makan bersama Ogi, kembali. Pada saat itu,
bukannya ia tak mau mendahului, tetapi karena Ogi anak satu-satunya dan
memerlukan tambahan gizi yang ia sendiri tidak mampu memberikannnya. Selama ini,
semasa masih hidup, Tukiyem yang habis-habisan banting tulang menghidupi
keluarga mereka sebagai buruh cuci tetangga. Itupun bagi yang bersimpati. "Makanya
abang kerja. Apa kek, ngebecak atau apa saja yang penting halal ." Lelaki itu
hanya pergi melengos begitu saja. Pergi pagi jam dua pagi baru kembali praktis
satu hari itu dia hanya sibuk mengurusi diri sendiri. Selain ikut-ikutan
berjudi, lelaki itu selalu menggalang barisan demonstrasi. Selalu begitu, tak
ada waktu, kilahnya. "Kembalikan uang rakyat! Kembalikan Uang rakyat!" teriaknya
berapi-api,"rekening listrik tak boleh telat. Pembayaran pun lebih sering tak
sesuai meteran. Kembalikan uang rakyat!" Tak pelak rumah mereka selalu
disantroni polisi berpakaian preman, atau orang-orang bayaran untuk menciduk
Amran. Entah amalan apa, atau do'a apa yang sedang di ritualkan Tukiyem, yang
pasti lelaki itu tidak pernah tertangkap. Termasuk hari ini. Bedanya, sekarang ini, lelaki itu begitu
terpukul. Ia berusaha berkompromi dan rujuk bersama waktu. Hanya saja waktu
ternyata masih penuh kesumat. Lelaki itu tidak pernah berhasil diterima bekerja
di tempat ia datang melamar pekerjaan. Sementara Ogi harus dipenuhi
kebutuhannya. Bedanya lagi di saat ini, saat mati lampu itulah saat yang paling
di rindukannya, bertemu Tukiyem di mana ia suka. Ia bisa mengadukan apa saja. Ia
bisa melakukan apa saja. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Debu
semakin berseloro dengan dekapan angin. Orang-orang menghitung langkah kaki
sepanjang jalan yang dititi. Perlahan lelaki itu bergerak, melangkahkan derak
sendi-sendi. Orang-orang sudah sibuk dengan sumringahnya pesta kemerdekaan.
Lelaki itu terus berjalan melangkahkan kakinya sambil membaca peta nasib di
dirinya. Sepanjang jalan lelah dia hitung butir keringat yang jatuh. Senantiasa
ia teringat isterinya. Acap ia dekap kata-kata anaknya. "Bang, jaga anak kita.
Hanya dia satu-satunya anak kita, penerus kelangsungan keturunan kita." Amboi,
betapa semakin rengkah terasa dinding hati. Koyak moyak rasanya lembar-lembar
cinta yang sempat tertulis dengan tinta kesepahaman. Apalagi permintaan Ogi,
anaknya, sampai sekarang belum terpenuhi. Entah mengapa listrik yang biasa mati,
sudah seminggu ini tidak padam-padam. Apa lantaran menyambut hari kemerdekaan?
Atau karena tekanan teman-teman demonstran? Suasana benderang baginya adalah
kematian yang dicabut perlahan. Kalau orang-orang merasa punya ketergantungan
dengan teknologi, maka sebaliknya bagi lelaki itu. Baginya mati lampu adalah
anugerah yang disediakan Tuhan untuk dia manfaatkan. Dunia yang perlu
ditaklukkan, saat ini. Begitulah, meski tak seperti dialog merak senja di
persimpangan rahasia yang menjadi transit per-pindahan pagi menuju siang, dan
siang yang mengintip diam-diam jubah malam, Amran hanya bisa membekap diam.
Besok acara tujuh belasan, dia masih belum bisa membuktikan dan memenuhi
keingi-nan anakanya. "Tunggu mati lampu ya, Nak!" Selalu begitu.
Biasanya Ogi
akan maklum dengan senyum yang paling culun. Tapi, untuk yang ketiga kalinya
hari ini Ogi cukup rewel. Tidak mau pemakluman yang kesekian ribu kalinya
dimaphumkan. Permintaannya kali ini sebenarnya sangat wajar. Tetapi untuk
sekelas Amran, itu terasa sangat menjadi beban. "Pak, Ogi minta
bendera,"mintanya jenaka, "Tujuhbelasan nanti Ogi kepingin bawa bendera
kemana-mana. Satu aja, Pak. Bendera yang kecil itu." Pandangan lelaki itu
tertuju kepada penjual bendera di pinggir jalan, tidak berapa jauh dari seberang
rumah mereka. Bendera itu tersusun rapi dengan berbagai ukuran. "Ia, Pak. Yang kecil itu."
"Ogi mau satu?" anaknya mengangguk, "tunggu mati lampu ya, Nak." "Nggak. Pokoknya harus." Ogi lalu berlari ke kamar. Lelaki itu mengejar,
mengikuti. Tubuhnya yang kurus dengan wajah sepucat bulan, terlihat melayang di
atas lantai tanah rumah mereka. Dia coba membujuk dari pinggir pintu yang
tertutup. Tidak ada irama sahutan, selain nada tangisan. Dan jika begitu,
kembali lelaki itu begitu merindukan mati lampu. Mengenyahkan orang-orang dari
pandangan. Hanya dia dan Tukiyem saja. Berjalan perlahan meninggalkan rumah.
Biasanya tempat yang paling ideal ia bertemu Tukiyem di SD Semangat bangsa. Hari
sudah beranjak senja. Orang-orang masih sibuk memperiapkan hura-hura pesta.
Pasang umbul-umbul di mana-mana. Malah ada yang memperbaharui rumah mereka
dengan mengecat dinding rumah mereka. Besok tujuh belasan adalah puncaknya.
Segala kegiatan yang menyambut ke-merdekaan dilaksanakan. Ibu-ibu pun tidak mau
ketinggalan mempersiapkan makanan. Wah, aromanya menerjang-terjang hidung lelaki
itu. Terasa mengggugah selera, melumat dinding perut Amran. Aduh, terasa
persendian mengundang rusuh. Entah mengapa detak detak waktu terasa
mengge-muruh, angkuh. Sepanjang jalan ia hitung tapak kaki yang telah
ditancapkan di setiap kelokan jalan. Orang-orang seperti kupu-kupu dalam
pandangan kaca jendela matanya. Kadang terbang, menukik atau malah menari-nari
di setiap hitungan debu yang menghamblur di udara. *** Hari ini, di sekolah SD
Semangat Bangsa, tepat tanggal hari kemerdekaan. Listrik mati. Lampu pa-dam.
Orang-orang hilir mudik kegelisahan. Bukan untuk mempersiapkan acara perayaan
kemerdekaan. Atau bendera yang lupa di pasang. Tapi, berkumpul untuk menggugah
kemanusiaan. Di sebuah kelas, di atas sebuah meja belajar yang usang, seorang
lelaki kurus dengan wajah sepucat bulan terbungkus sebuah bendera pada tubuh
yang mencapai puncak kedamaian. Menjemput kemer-dekaan. Di sebelahnya, Ogi
dengan baju seragam dan bendera kertas dalam genggaman, menitikkan luka pada
butir air mata. Dan sebaris ingatan. \"Tunggu mati lampu ya, Nak?\"
Oleh : M. Raudah Jambak
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

