SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. KENANGAN
  2. Diatas sana
  3. Bahwa Aku tak Sanggup Membencimu Ayah
  4. BERKACA
  5. Kangen I
  6. Tepat Segaris Jalan Pulang
  7. Menghargai Pahlawan Bangsa
  8. Kesedihan Bumi
  9. cinta putih
  10. Kita telah lupa

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Kumpulan Cerita Pendek

SINDROM MOTOR?
Posted : 21 Apr 2008 | Dibaca : 7263 Kali

Penulis : Dedes Sudiyanto

Motor (sepeda motor) bertanggung jawab terhadap perubahan suasana di desaku. Dahulu, saya tidur dinina bobo suasana hening nan damai, lalu pagi harinya kicauan burung membangunkan saya dalam keadaan segar bugar. Sekarang, suara khas perkampungan itu ditenggelamkan oleh motor: saya terbangun dengan kacau, membuka jendela, dan menyaksikan tetangga saya ramai-ramai meraungkan gas motornya, dengan alasan memanaskan mesin.

Motor juga bertanggung jawab terhadap perubahan kondisi jalan setapak menuju kebun tempat saya bekerja (menyadap karet). Sekarang saya tak bisa membekaskan seribu bahkan sejuta jejak sepatu saya, oleh karena lagi-lagi ban motor menggilasnya. Apalagi jika musim penghujan tiba, ban trail ibarat buldoser yang hendak meluluh-lantakkan kondisi jalan.

Perubahan juga menyentuh prilaku warga. Kemana pun saya pergi, jarang lagi saya temui orang berduyun-duyun jalan kaki. Jarang yang tersenyum, jarang yang menyapa, jarang yang bersenda gurau. Yang ada hanya 'wusssh', angin berdesing. Orang-orang dengan cepat melewati saya. Tanpa kata-kata. Atau hanya 'tid', kalau dirasa perlu.

Perubahan prilaku menjangkiti hampir semua orang, dari mulai petani kebun, tauke karet, pedagang (terutama pedagang keliling), perempuan-perempuan perambah pasar, pelajar SMA, sampai pekerja dinas. Agaknya, di antara mereka telah tertanam budaya malas jalan kaki, meski tentu ada juga yang berpegang pada alasan, yang bisa diterima akal sehat, dan yang sesuai dengan tuntutan jaman, bahwa waktu adalah uang.

Penomena ini menumbuhkan minat sebagian pemilik motor untuk ngojek. Namun, semakin hari banyak tukang ojek mengeluh karena satu-persatu langganan mereka malah mengunjungi dealer motor (bayangkan, barisan motor tak hanya ada di pangkalan ojek, tapi juga ada di halaman rumah tetangga saya!).

Itulah gambaran perubahan yang terjadi seiring dengan menjamurnya motor di desa saya.

***

Mungkin ada istilah yang lebih relevan, serta tidak terlalu mendiskreditkan pihak tertentu untuk memberi judul tulisan ini. Oleh karena keterbatasan kosa-kata dalam benak saya, dan ketika saya melihat banyaknya kasus yang terjadi di desa saya, dengan terpaksa (nyaman tak nyaman) saya menggunakan istilah yang agak aneh: sindrom motor.
*
Empat bulan lamanya Bang Kosim mengendarai Vega-R, yang ia beli secara kridit di dealer Yamaha, sebelum akhirnya motor itu 'kembali'. Kemudian ia 'mengambil' Suzuki Smash, namun lagi-lagi Smash kembali. Dan kemarin, saya lihat Bang Kosim naik Honda Fit-S. Ia tampak percaya diri.
Anaknya yang SMA bilang pada saya: "Kalau motor ini kembali, bapakku mau ambil Kawasaki Ninja!"
*
Bang Makin memanfaatkan 7000 KM pemakaian Jialing-nya selama 2 bulan. Demikian juga Pian, memanfaatkan sebulan pemakain KTM-nya dengan cara yang paling brutal: ia sukses memindahkan berton-ton getah karet dari kebun ke desa yang jaraknya puluhan kilometer. Bang Makin maupun Pian mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dari uang yang telah disetorkannya sebagai DP yang hanya Rp.500.000. Lalu, tanpa bayar angsuran sepeser pun motor mereka 'dikembalikan'.
*
Si Dani kena batunya. Ia harus berurusan dengan polisi karena mempreteli dan menjual spare-part asli Jupiter-nya, lalu menggantinya dengan yang palsu, sehari sebelum Jupiter 'kembali'.
*
Naas bagi Alek, Revo-nya yang baru jalan sebulan 'beradu kambing' dengan mobil tangki. Alek tak bisa menyelamatkan Honda-nya, bahkan nyawanya sendiri.
*
Layaknya kawin lari, Alif membawa kabur Mega-Pro. Beberapa bulan kemudian, tahu-tahu ia sudah mendekam di tahanan.
*
Sedangkan Gani hanya bisa gigit jari. Kirana tunggangannya ternyata tak setia. Motor itu lari ditunggangi pencuri.
*
Vonis 15 tahun penjara menimpa seorang warga karena motor gelapnya terjaring razia.
*
Di desa tetangga, seorang istri menjual gelap motor suaminya, untuk kemudian ia minggat bersama pria lain.
*
Dan yg menggelikan: istri saya jengkel karena setiap hari saya berpikir kapan punya motor.

***

Terlepas dari kasus-kasus di atas, motor sudah menjadi bagian dari hidup. Motor merajalela ketika setiap pagi pintu-pintu rumah, kecuali rumah saya, menggelindingkannya. Motor menjadi idola ketika anak-anak muda saling membanggakan motornya masing-masing (dimodif, dipretel, di-tun-up, dicat dan digambari). Motor menjadi trend ketika mereka yang tak memilikinya merasa seakan-akan kurang gaya. Motor menjadi tontonan ketika anak-anak usia 8 tahunan bergerombol di tepi jalan dan dengan fasihnya menyebut merk, model, bahkan tipe setiap motor yang lewat. Motor menumbuhkan kecemburuan sebagian istri yang suaminya memperlakukan motor layaknya istri kedua (dirawat, disayangi, dinafkahi dan tentu saja ditumpangi).

Motor menyumbang pendapatan daerah jika kesadaran masyarakat membayar PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) terjaga. Motor menciptakan arena hiburan ketika pelelangan motor-motor bekas berlangsung meriah di desa saya (saya terkesan dengan doorprize serta organ tunggalnya).

Motor menciptakan arena perlombaan dari yang gratis (balapan liar) sampai yang berkarcis (motocross). Motor membentuk komunitas di kalangan pemiliknya, menumbuhkan solidaritas antar sesama anggota.

Motor menjadi milik siapa saja ketika seorang Suku Anak Dalam (suku terasing) mengendarai Mega-Pro di tengah keramaian. Lepas dari pemandangan itu, motor memberi gambaran tentang tingkat kehidupan warga, dari warga biasa sampai warga mapan, dapat dilihat dari tipe motor yang nongkrong di teras rumahnya. Motor berada pada urutan kedua di antara 3 kebutuhan primer bidang teknologi yang merubah sendi-sendi kehidupan di desa saya.

Menjamurnya motor juga menyuburkan usaha yang berkaitan dengan permotoran. Ketika saya menelusuri jalan raya yang membelah desa, saya akan disuguhi plang-plang bertuliskan nama bengkel, tambal ban, toko variasi, kios minyak, sampai cucian motor. Desa saya sudah seperti kota.

***

Motor bergerung tiada henti di samping saya saat pergi maupun pulang bekerja. Motor memaksa saya terus berpikir bahwa berjalan kaki itu lambat dan melelahkan. Motor membetot-betot lengan saya, menyorong-nyorongkan keinginan saya, untuk mengunjungi dealer, berapa pun uang yang ada di kantong celana (benarkah 'sindrom motor' menyergap saya?).

Ternyata, sampai saat ini saya masih menahan diri, karena tidak ada yang lebih nyaman dari pada membeli motor secara kontan. Iya, kan?

***


Cerpen Lainnya

  1. SINDROM MOTOR?
  2. BAHAGIA PERIH
  3. SUATU MALAM DI MUARAKONENG
  4. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
  5. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
  6. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
  7. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
  8. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
  9. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
  10. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
  11. Percintaan Daun dan Ranting
  12. LELAKI MERDEKA
  13. Anomali Mimpi
  14. Heri
  15. OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
  16. Menanti Maafmu
  17. Campus Idol
  18. Disudut Hatimu Aku Menanti
  19. LANGIT-LANGIT BUATKU
  20. catatan harian aini
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller