Kumpulan Cerita Pendek
SINDROM MOTOR?
Posted : 21 Apr 2008 | Dibaca : 7263 Kali
Penulis : Dedes Sudiyanto Motor (sepeda motor)
bertanggung jawab terhadap perubahan suasana di desaku. Dahulu, saya tidur
dinina bobo suasana hening nan damai, lalu pagi harinya kicauan burung
membangunkan saya dalam keadaan segar bugar. Sekarang, suara khas perkampungan
itu ditenggelamkan oleh motor: saya terbangun dengan kacau, membuka jendela, dan
menyaksikan tetangga saya ramai-ramai meraungkan gas motornya, dengan alasan
memanaskan mesin.
Motor juga bertanggung jawab terhadap perubahan kondisi jalan setapak menuju
kebun tempat saya bekerja (menyadap karet). Sekarang saya tak bisa membekaskan
seribu bahkan sejuta jejak sepatu saya, oleh karena lagi-lagi ban motor
menggilasnya. Apalagi jika musim penghujan tiba, ban trail ibarat buldoser yang
hendak meluluh-lantakkan kondisi jalan.
Perubahan juga menyentuh prilaku warga. Kemana pun saya pergi, jarang lagi saya
temui orang berduyun-duyun jalan kaki. Jarang yang tersenyum, jarang yang
menyapa, jarang yang bersenda gurau. Yang ada hanya 'wusssh', angin berdesing.
Orang-orang dengan cepat melewati saya. Tanpa kata-kata. Atau hanya 'tid', kalau
dirasa perlu.
Perubahan prilaku menjangkiti hampir semua orang, dari mulai petani kebun, tauke
karet, pedagang (terutama pedagang keliling), perempuan-perempuan perambah
pasar, pelajar SMA, sampai pekerja dinas. Agaknya, di antara mereka telah
tertanam budaya malas jalan kaki, meski tentu ada juga yang berpegang pada
alasan, yang bisa diterima akal sehat, dan yang sesuai dengan tuntutan jaman,
bahwa waktu adalah uang.
Penomena ini menumbuhkan minat sebagian pemilik motor untuk ngojek. Namun,
semakin hari banyak tukang ojek mengeluh karena satu-persatu langganan mereka
malah mengunjungi dealer motor (bayangkan, barisan motor tak hanya ada di
pangkalan ojek, tapi juga ada di halaman rumah tetangga saya!).
Itulah gambaran perubahan yang terjadi seiring dengan menjamurnya motor di desa
saya.
***
Mungkin ada istilah yang lebih relevan, serta tidak terlalu mendiskreditkan
pihak tertentu untuk memberi judul tulisan ini. Oleh karena keterbatasan
kosa-kata dalam benak saya, dan ketika saya melihat banyaknya kasus yang terjadi
di desa saya, dengan terpaksa (nyaman tak nyaman) saya menggunakan istilah yang
agak aneh: sindrom motor.
*
Empat bulan lamanya Bang Kosim mengendarai Vega-R, yang ia beli secara kridit di
dealer Yamaha, sebelum akhirnya motor itu 'kembali'. Kemudian ia 'mengambil'
Suzuki Smash, namun lagi-lagi Smash kembali. Dan kemarin, saya lihat Bang Kosim
naik Honda Fit-S. Ia tampak percaya diri.
Anaknya yang SMA bilang pada saya: "Kalau motor ini kembali, bapakku mau ambil
Kawasaki Ninja!"
*
Bang Makin memanfaatkan 7000 KM pemakaian Jialing-nya selama 2 bulan. Demikian
juga Pian, memanfaatkan sebulan pemakain KTM-nya dengan cara yang paling brutal:
ia sukses memindahkan berton-ton getah karet dari kebun ke desa yang jaraknya
puluhan kilometer. Bang Makin maupun Pian mendapatkan hasil yang jauh lebih
besar dari uang yang telah disetorkannya sebagai DP yang hanya Rp.500.000. Lalu,
tanpa bayar angsuran sepeser pun motor mereka 'dikembalikan'.
*
Si Dani kena batunya. Ia harus berurusan dengan polisi karena mempreteli dan
menjual spare-part asli Jupiter-nya, lalu menggantinya dengan yang palsu, sehari
sebelum Jupiter 'kembali'.
*
Naas bagi Alek, Revo-nya yang baru jalan sebulan 'beradu kambing' dengan mobil
tangki. Alek tak bisa menyelamatkan Honda-nya, bahkan nyawanya sendiri.
*
Layaknya kawin lari, Alif membawa kabur Mega-Pro. Beberapa bulan kemudian,
tahu-tahu ia sudah mendekam di tahanan.
*
Sedangkan Gani hanya bisa gigit jari. Kirana tunggangannya ternyata tak setia.
Motor itu lari ditunggangi pencuri.
*
Vonis 15 tahun penjara menimpa seorang warga karena motor gelapnya terjaring
razia.
*
Di desa tetangga, seorang istri menjual gelap motor suaminya, untuk kemudian ia
minggat bersama pria lain.
*
Dan yg menggelikan: istri saya jengkel karena setiap hari saya berpikir kapan
punya motor.
***
Terlepas dari kasus-kasus di atas, motor sudah menjadi bagian dari hidup. Motor
merajalela ketika setiap pagi pintu-pintu rumah, kecuali rumah saya,
menggelindingkannya. Motor menjadi idola ketika anak-anak muda saling
membanggakan motornya masing-masing (dimodif, dipretel, di-tun-up, dicat dan
digambari). Motor menjadi trend ketika mereka yang tak memilikinya merasa
seakan-akan kurang gaya. Motor menjadi tontonan ketika anak-anak usia 8 tahunan
bergerombol di tepi jalan dan dengan fasihnya menyebut merk, model, bahkan tipe
setiap motor yang lewat. Motor menumbuhkan kecemburuan sebagian istri yang
suaminya memperlakukan motor layaknya istri kedua (dirawat, disayangi, dinafkahi
dan tentu saja ditumpangi).
Motor menyumbang pendapatan daerah jika kesadaran masyarakat membayar PKB (Pajak
Kendaraan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) terjaga. Motor
menciptakan arena hiburan ketika pelelangan motor-motor bekas berlangsung meriah
di desa saya (saya terkesan dengan doorprize serta organ tunggalnya).
Motor menciptakan arena perlombaan dari yang gratis (balapan liar) sampai yang
berkarcis (motocross). Motor membentuk komunitas di kalangan pemiliknya,
menumbuhkan solidaritas antar sesama anggota.
Motor menjadi milik siapa saja ketika seorang Suku Anak Dalam (suku terasing)
mengendarai Mega-Pro di tengah keramaian. Lepas dari pemandangan itu, motor
memberi gambaran tentang tingkat kehidupan warga, dari warga biasa sampai warga
mapan, dapat dilihat dari tipe motor yang nongkrong di teras rumahnya. Motor
berada pada urutan kedua di antara 3 kebutuhan primer bidang teknologi yang
merubah sendi-sendi kehidupan di desa saya.
Menjamurnya motor juga menyuburkan usaha yang berkaitan dengan permotoran.
Ketika saya menelusuri jalan raya yang membelah desa, saya akan disuguhi
plang-plang bertuliskan nama bengkel, tambal ban, toko variasi, kios minyak,
sampai cucian motor. Desa saya sudah seperti kota.
***
Motor bergerung tiada henti di samping saya saat pergi maupun pulang bekerja.
Motor memaksa saya terus berpikir bahwa berjalan kaki itu lambat dan melelahkan.
Motor membetot-betot lengan saya, menyorong-nyorongkan keinginan saya, untuk
mengunjungi dealer, berapa pun uang yang ada di kantong celana (benarkah
'sindrom motor' menyergap saya?).
Ternyata, sampai saat ini saya masih menahan diri, karena tidak ada yang lebih
nyaman dari pada membeli motor secara kontan. Iya, kan?
***
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

