menangisi kemewahan
Karya : Lukman Asya
seekor
kucing duduk di bangku panjang itu menangisi
kemewahan sebentar
lagi ia akan berlari dari hujan tuak yang
mengguyur rambutnya basah matahari
masih menulis lagu di jalan aspal ikan-ikan
bersedih pada sebuah kolam pohon-pohon
bercokol dalam udara dendam seorang
pendekar memutar film tentang bangkai tikus di sebuah
taman di mana rumputan hamparan jeritan pada tutup
botol seekor kucing bercermin melihat
bulu-bulu kemewahan di wajahnya daun-daun
gugur miskin kehilangan warna patahan
ranting terpelanting dari tidur dahan-dahan mimpi sebuah patung
bareti, kehilangan menari seekor
kucing duduk di bangku panjang itu menangisi
kemewahan yang tumbuh di kakinya langit
masih juga dapat tertawa dalam mendung hari-hari
indung yang murung sepanjang waktu jarum-jarum
hujan datang menyapa dan kucing
itu berlari ke dalam mantelku di mana aku
pun menangisi kemewahan berjalan
dari kesedihan melewati batu-batu ingatan tentang
seseorang yang bercokol sebagai tuhan sebagai berhala pada
sebuah kota yang asing dan lapar seekor
kucing melongok dunia dari mantelku ada basah
air mata di pucuk-pucuk samangka ada keruh
berteriak di sungai di mana gorong-gorong adalah
istana bagi para sampah yang mulia seekor
kucing menangisi segala kemewahan bahasa yang
tumbuh di sekujur tubuh ia ingin
berlari ke dalam hujan. ia terperanjat kepada
matahari yang membayang mencari-cari iblis yang
sakit hati dan awan yang terbahak di negeriku
yang tinggal kerak
tangan-tangan jalan, mimpi-mimpi pagar, kaki-kaki bangunan bersatu
menangisi kemewahan sebagai upacara sebuah
kemerdekaan tiba-tiba dikibarkan di atas kata kota ketika
tiang-tiang diruntuhkan tinggal nama seekor kucing menyanyikan
lagu indonesia raya sebelum
mantel kenyataanku kebasahan dan aku pun
menangisi hidup duri di dampal kaki ibunda sepasang
sepatuku pergi ke lautan ketika
comberan mengantar kardus bergambar seekor kucing melamun kardus yang sebagai rumah
tanpa dicatat durjana sejarahmu mari ke
laut asin kemewahan berikutnya, ketika kapal-kapal tanpa cahaya ketika para nelayan
mencari-cari kemiskinan yang hilang ditelan iblis malam (indonesia)
|
|

