tangan senja
Karya : Lukman Asya
-pro rudy rudy, sebuah kolam dan bangku panjang
menegurku rumputan menangisi setiap
kemalangan-kemalangan dan ikan-ikan itu tahlilan bagi bangkaiku yang mengapung di udara langit tak biasanya melukis senja dengan
darahmu sungguh matahari prihatin menjelang surup dan kemunculan bulan adalah ketakutan yang
kutunggu ketakutan akan menjadikan umur ruhku
mengertap di pohon-pohon dan berlari mengejar
ibu sedih ibu yang menjengkali kesusahan di kaca-kaca
angkasa tangan senja itu membiarkan kita menerima
hidup sebagaimana hidup menerima kepahitan-kepahitan
kita begitulah acep zam-zam noor bersabda di
kolong ranjangku apabila taman ini dibongkar dan ribuan sajakku terkapar kehilangan waktu yang kelelawar sudahilah tangismu. marahlah kepada pemilik
jagat iblis kuasa telanjanglah. kencingi dia. kencingi dia lempari matanya dengan kotoran-kotoranmu aku tak sudi hidup kehilangan taman seribu
syair di mana mawar-mawar adalah perempuan pembawa
mabuk. ikan-ikan itu geleng-geleng kepala di bawah
teratai yang basah oleh air mata para pekerja miskin yang memunguti daun-daun gugur satu persatu
sebagai kebodohan kehilangan kemarahan yang sesungguhnya niscaya
tumbuh bagai pohon ki hujan mengepung isola yang
durjana baiklah akan aku sampaikan, akan aku wadalkan
kenyataan ini aku tak kuasa jadi anjing penjaga yang
membangunkan para raja ketika kaki-kaki maling mematahkan tangan
senja yang bijak yang mengajarkan umur hanya sebentar. sebentar
lagi tiba di kubur dan para nabi sibuk kencing dari langit sambil
memancing ikan-ikan yang kepayahan di rumpun teratai bumi
kehilangan merdeka-nya untuk khusuk mengukir-ngukir
sembilanpuluhsembilan tuhan mahaair (indonesia)
|
|

