SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web


Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

Top 10 Puisi

  1. Diatas sana
  2. Bahwa Aku tak Sanggup Membencimu Ayah
  3. BERKACA
  4. Kangen I
  5. Tepat Segaris Jalan Pulang
  6. Menghargai Pahlawan Bangsa
  7. Kesedihan Bumi
  8. cinta putih
  9. Kita telah lupa
  10. Paranoid

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Related links

  1. Toko Baju Murah

Renungan

Bencana: Sebuah Siklus yang Tragedi?

BENCANA kembali "membombardir" bumi pertiwi. Ngenes, miris, prihatin sekaligus "menohok" nurani kita. Itulah yang kita rasakan saat ini. Seakan tak ada lagi tempat yang dapat dikatakan "aman" di negeri ini.
Mulai dari gempa bumi di DIY-Jawa Tengah, ancaman gunung Merapi, lumpur panas di Sidoarjo, banjir dan tanah longsor di Sulawesi dan Kalimantan, hingga gempa bumi yang disusul tsunami meluluhlantakkan kawasan di sekitar pantai selatan Pulau Jawa, meliputi daerah pantai Pangandaran, Ciamis, Cilacap, dan Kebumen. Ratusan orang menjadi korban dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Jika kita cermati, bencana tiba-tiba datang dan berulang lagi yang seakan membentuk sebuah “siklus bencana”.
Terakhir, sore ini. Rabu, 19 Juli 2006, pukul 17.58.29: Jakarta, Banten, Sukabumi (Pelabuhan Ratu), Ujung Kulon, Bekasi, Serang, Pandeglang, dan Lampung (tengah dan selatan) diguncang gempa berkekuatan 6.2 SR.
Yang lebih ngenes lagi, semuanya terjadi ketika duka dan tangis bangsa akibat gempa Yogya-Jawa Tengah belum reda dan kering betul. Kini kita ‘dipaksa’ untuk ‘menangis’ lebih keras lagi dengan datangnya bencana baru ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini? Apakah kita sedang mengalami kutukan dari Tuhan?
Memang, jika melihat buruknya kelakuan kita, pantas saja ‘yang di Atas’ murka atas negeri ini. Bagaimana tidak murka, kemunafikan merajalela di mana-mana. Yang seharusnya menjadi teladan hanya bisa bicara, sementara tidak melakukan apa-apa. Korupsi dan perilaku korup merajalela di mana-mana, bahkan ke lembaga agama sekalipun. Korupsi seakan telah menjadi budaya, yang seakan tidak ‘afdhal’ jika tidak dilakukan!
Perhatikan juga bagaimana ‘kekejaman’ di negeri ini terjadi. Pembunuhan amat mudah dilakukan. Sementara itu, berbagai kejahatan kemanusiaan terjadi di mana-mana, seolah tidak ada lagi ketakutan pada ‘yang di Atas’. Semuanya terjadi dengan amat ‘telanjang’ dan amat mudah. Maka wajar saja kemudian ada sindiran bahwa inilah negeri yang sudah ‘dikutuk’. Mungkin Tuhan sudah mengutuk negeri ini sehingga tidak pernah akan ada damai, kecuali jika bangsa ini mau merubah perilakunya.
Kini, semuanya diguncang oleh berbagai prahara dan petaka. Namun di satu sisi, kita menyadari bahwa yang terjadi sekarang ini memang amat sarat dengan kelalaian kita sebagai manusia. Kita kehilangan kemampuan untuk memahami diri sendiri, dalam hubungannya dengan lingkungan, tempat di mana kita bernaung. Kita tidak punya kemampuan untuk menggunakan nurani kita sendiri, untuk melihat bagaimana seharusnya kita bisa hidup.
Setiap bencana memang tidak terelakkan. Tetapi jika bencana itu disebabkan oleh karena kelalaian kita, maka itu selayaknya disebut sebagai ‘tragedi’. Tepatnya ”tragedi kemanusiaan”.
Bagaimana tidak kita sebut sebagai sebuah tragedi? Lihat saja, penanganan bencana selalu saja amburadul. Pemerintah seolah tidak pernah mau mengambil pelajaran dan ‘pengalaman’ dari bencana demi bencana yang telah melanda negeri ini, terutama bencana besar gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Yogyakarta. Padahal bencana itu lebioh merupakan ‘kaca benggala’, cermin besar untuk belajar dan melihat bagaimana mengantisipasi dan atau menangani sebuah bencana.
Lama sesudah bencana, barulah pemerintah biasanya ‘berteriak-teriak’ lantang. Menyalahkan masyarakat, memberi janji dan meminta masyarakat bersabar, yang notabene sekadar untuk ngayem-ayemi masyarakat agar tidak bergolak. Namun kenyataannya, realisasi janji-janji pemerintah umumnya kosong dan jika ada ‘optimisme’ akan terpenuhi, kita pun mungkin jangan terlalu berharap kapan bisa ditepati. Pemerintah tidak pernah bisa menepati aturan yang sudah dibuatnya sendiri. Padahal jika saja bisa menerapkannya, berapa banyak nyawa dan korban yang bisa dicegah.
Bencan demi bencana yang seolah-olah telah menjelma menjadi semacam ‘siklus’ di negeri ini, ternyata tidak membuat pemerintah menggagas semangat untuk mau melakukan respon yang cepat dan tanggap atas bencana. Yang terjadi hanyalah saling menyalahkan, saling menuding, dan terus saja mencari kambing hitam dibalik terjadinya bencana itu.
Kita adalah bangsa dengan jiwa Ketuhanan yang amat kental. Kita juga bisa memahami bahwa bencana adalah kelalaian. Jadi, baik karena ‘kutukan’ atau karena kelalaian seharusnya ada pembenahan dan perbaikan. Pemerintah harusnya tidak berpangku tangan menyaksikan bencana terjadi di mana-mana dan tidak pernah ditanggapi dengan baik. Saatnya melakukan sesuatu yang berarti, jika tidak ingin bencana membuahkan prahara di mana-mana.

by : sulisstyawan atalanta


Renungan Lainnya

  1. renungan untuk aluna
  2. Hidup
  3. sunyi yang berbicara
  4. Dalam Kehidupan ini
  5. Perhelatan Nestapa 'Negeri 1001 Bencana'
  6. Bencana: Sebuah Siklus yang Tragedi?
  7. Ternyata, Allah cinta pada Indonesia
  8. Di mata allah
  9. Kasih Yang Sempurna
  10. Kehidupan
  11. Always Remember to Forget
  12. Believe in Butterflies
  13. Blessings In Disguise
  14. Don't Look Back
  15. For A Brighter Life
  16. In the Silence of the Night
  17. Inside of You
  18. Laugh A Little Bit
  19. Life...
  20. Passing Ships
WP Designer
Bisnis Pulsa
WebsiteCeria Morning Health Cheap Web hosting Seller